FITNESS & HEALTH
WHO: Bila Subvarian Omicron BA.2 Meningkat, Apakah Orang Bisa Terinfeksi Kembali?
Mia Vale
Senin 14 Februari 2022 / 08:05
Jakarta: Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis covid-19 World Health Organization (WHO), mengatakan bahwa badan kesehatan global sedang melacak empat versi Omicron yang berbeda. Van Kerkhove juga mengatakan subvarian BA.2, akan lebih menular daripada versi BA.1 yang dominan saat ini. Bahkan, ada kemungkinan akan menjadi lebih menular.
“BA.2 lebih mudah menular daripada BA.1 sehingga kami berharap untuk melihat BA.2 meningkat dalam deteksi di seluruh dunia,” ujar Van Kerkhove selama sesi tanya jawab yang disiarkan langsung di platform media sosial WHO pekan lalu.
Namun begitu, seperti dilansir dari CNBC, Organisasi Kesehatan Dunia belum jelas mengetahui apakah subvarian ini dapat menginfeksi ulang orang yang sudah terkena varian sebelumnya (Omicron).
WHO sedang memantau BA.2 untuk melihat apakah subvarian ini menyebabkan peningkatan infeksi baru di negara-negara yang mengalami peningkatan pesat dan kemudian penurunan tajam dalam kasus Omicron.
.jpg)
(Van Kerkhove pimpinan teknis covid-19 World Health Organization (WHO) meminta orang-orang untuk memakai masker di dalam ruangan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Van Kerkhove menekankan bahwa tidak ada indikasi perbedaan tingkat keparahan infeksi yang disebabkan oleh salah satu subvarian. Omicron umumnya tidak membuat orang sakit seperti varian Alfa dan Delta, meskipun menyebar lebih cepat.
Para peneliti di Denmark telah menemukan bahwa BA.2 berkisar 1,5 kali lebih menular daripada BA.1 dan bisa menginfeksi orang yang divaksinasi.
Namun, orang yang sudah divaksinasi lengkap, lebih kecil kemungkinannya untuk menyebarkan daripada yang tidak divaksinasi.
Van Kerkhove mengatakan vaksinasi tetap sangat efektif untuk mencegah penyakit parah dan kematian, meskipun tidak mencegah semua infeksi. Ia juga meminta orang-orang untuk memakai masker di dalam ruangan.
Sebuah penelitian di Inggris menemukan bahwa dua pertiga orang yang tertular Omicron mengatakan bahwa mereka pernah mengidap covid sebelumnya.
Sebagian besar negara bagian di AS telah mengonfirmasi keberadaan BA.2, meskipun beredar pada tingkat rendah dengan 460 total kasus. Hal ini didapat dari hasil yang terkonfirmasi dari basis data internasional yang melacak varian covid.
(TIN)
“BA.2 lebih mudah menular daripada BA.1 sehingga kami berharap untuk melihat BA.2 meningkat dalam deteksi di seluruh dunia,” ujar Van Kerkhove selama sesi tanya jawab yang disiarkan langsung di platform media sosial WHO pekan lalu.
Namun begitu, seperti dilansir dari CNBC, Organisasi Kesehatan Dunia belum jelas mengetahui apakah subvarian ini dapat menginfeksi ulang orang yang sudah terkena varian sebelumnya (Omicron).
WHO sedang memantau BA.2 untuk melihat apakah subvarian ini menyebabkan peningkatan infeksi baru di negara-negara yang mengalami peningkatan pesat dan kemudian penurunan tajam dalam kasus Omicron.
.jpg)
(Van Kerkhove pimpinan teknis covid-19 World Health Organization (WHO) meminta orang-orang untuk memakai masker di dalam ruangan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Van Kerkhove menekankan bahwa tidak ada indikasi perbedaan tingkat keparahan infeksi yang disebabkan oleh salah satu subvarian. Omicron umumnya tidak membuat orang sakit seperti varian Alfa dan Delta, meskipun menyebar lebih cepat.
Para peneliti di Denmark telah menemukan bahwa BA.2 berkisar 1,5 kali lebih menular daripada BA.1 dan bisa menginfeksi orang yang divaksinasi.
Namun, orang yang sudah divaksinasi lengkap, lebih kecil kemungkinannya untuk menyebarkan daripada yang tidak divaksinasi.
Van Kerkhove mengatakan vaksinasi tetap sangat efektif untuk mencegah penyakit parah dan kematian, meskipun tidak mencegah semua infeksi. Ia juga meminta orang-orang untuk memakai masker di dalam ruangan.
Sebuah penelitian di Inggris menemukan bahwa dua pertiga orang yang tertular Omicron mengatakan bahwa mereka pernah mengidap covid sebelumnya.
Sebagian besar negara bagian di AS telah mengonfirmasi keberadaan BA.2, meskipun beredar pada tingkat rendah dengan 460 total kasus. Hal ini didapat dari hasil yang terkonfirmasi dari basis data internasional yang melacak varian covid.
(TIN)