FITNESS & HEALTH

Dari GERD hingga Kanker Usus, Kenali Pilihan Penanganannya

A. Firdaus
Selasa 20 Oktober 2026 / 11:12
Ringkasnya gini..
  • Kenali pilihan pemeriksaan dan penanganan gangguan pencernaan, mulai dari terapi medis hingga bedah.
  • Gangguan pencernaan juga dapat berkaitan dengan penyakit yang membutuhkan penanganan lebih kompleks.
  • Layanan Digestive Center Bethsaida Hospital Gading Serpong dirancang dengan pendekatan terintegrasi atau One Stop Service.
Jakarta: Nyeri perut yang datang berulang, asam lambung yang tak kunjung membaik, atau perubahan pola buang air besar sering dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Sebagian orang memilih menunggu hingga keluhan mereda, bahkan mengandalkan obat yang bisa dibeli tanpa resep.

Padahal, keluhan pencernaan yang menetap atau terus berulang perlu diperiksakan ke dokter. Sebab, gangguan tersebut bisa memiliki beragam penyebab dan membutuhkan penanganan yang berbeda.

Pemeriksaan dan penanganan gangguan saluran pencernaan, mulai dari terapi medis hingga tindakan bedah sesuai indikasi perlu dilakukan. Menurut dr. Eko Priatno, Sp.B, Subsp.BD(K), dokter spesialis bedah subspesialis bedah digestif, penanganan gangguan pencernaan tidak selalu berakhir di meja operasi.
Menurut dokter yang berpraktek di Bethsaida Hospital Gading Serpong, layanan Digestive Center, pihaknya terlebih dahulu mengevaluasi keluhan, mencari penyebabnya, dan menentukan terapi yang sesuai dengan kondisi pasien.

“Tidak semua gangguan pencernaan memerlukan operasi. Kami terlebih dahulu mencari penyebab keluhan dan mengevaluasi kondisi pasien, kemudian menentukan terapi yang paling sesuai. Tujuannya bukan hanya menangani penyakit, tetapi juga menjaga kualitas hidup pasien,” jelas dr. Eko.

Pada penyakit refluks asam lambung atau GERD, misalnya, penanganan umumnya dimulai dengan perubahan gaya hidup dan pemberian obat-obatan. Jika keluhan tetap berlangsung meski terapi sudah optimal, dokter dapat mengevaluasi kemungkinan tindakan antirefluks.

Sementara itu, batu empedu yang menimbulkan keluhan atau komplikasi dapat ditangani melalui pengangkatan kantong empedu. Salah satu pilihan tindakan adalah laparoskopi, yakni teknik bedah dengan sayatan kecil yang pada pasien tertentu memungkinkan pemulihan lebih cepat.

Namun, keputusan menjalani tindakan tetap bergantung pada hasil pemeriksaan dan kondisi masing-masing pasien.
 

Penanganan Kanker Usus hingga Pankreas


Gangguan pencernaan juga dapat berkaitan dengan penyakit yang membutuhkan penanganan lebih kompleks, seperti kanker usus besar dan kanker rektum.

Pada pasien yang memenuhi kriteria, dokter dapat mempertimbangkan bedah minimal invasif. Untuk kanker rektum tertentu, misalnya, terdapat teknik Intersphincteric Resection (ISR) yang memungkinkan pengangkatan kanker dengan upaya mempertahankan fungsi anus.

Meski demikian, tidak semua pasien bisa menjalani teknik tersebut. Keputusan tindakan mempertimbangkan lokasi dan kondisi kanker, serta keamanan pasien.
 
WhatsApp Image 2026-10-19 at 13_50_43 (1)
Dok. medmonks.com


“Pada kanker rektum, kami berupaya mempertahankan fungsi organ bila kondisi memungkinkan. Namun, keamanan pasien dan pengangkatan kanker sesuai prinsip medis tetap menjadi prioritas,” terang dr. Eko.

Untuk kasus tertentu yang lebih kompleks, seperti tumor di kepala pankreas, saluran empedu, atau usus dua belas jari, dokter juga dapat mempertimbangkan operasi Whipple.

Prosedur ini melibatkan pengangkatan bagian organ yang terdampak, kemudian penyambungan kembali saluran pencernaan agar fungsi tubuh dapat berjalan. Kelayakan tindakan ditentukan melalui pemeriksaan dan perencanaan bersama tim medis.
 

Pemeriksaan dan Penanganan dalam Satu Layanan


Mencari tahu penyebab gangguan pencernaan terkadang membutuhkan lebih dari satu jenis pemeriksaan. Karena itu, layanan Digestive Center Bethsaida Hospital Gading Serpong dirancang dengan pendekatan terintegrasi atau One Stop Service.

Pasien dapat mengakses layanan mulai dari pendaftaran, konsultasi, hingga pembayaran dalam satu area layanan. Pemeriksaan juga didukung teknologi diagnostik, seperti endoskopi, kolonoskopi, CT Scan 512 Slice dengan teknologi AI, serta MRI 3 Tesla.

Fasilitas tersebut digunakan sesuai kebutuhan medis untuk membantu dokter mengevaluasi kondisi pasien dan menyusun rencana penanganan.

Selain pemeriksaan, tersedia pula fasilitas pembedahan minimal invasif dan penanganan kasus kompleks yang melibatkan kolaborasi dokter spesialis dan subspesialis.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, mengatakan pelayanan yang komprehensif tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan kemampuan menangani penyakit kompleks, tetapi juga kenyamanan serta perhatian terhadap kebutuhan pasien.

Melalui layanan yang terintegrasi, rumah sakit berupaya memberikan penanganan yang mengutamakan ketepatan diagnosis, keselamatan, dan kualitas hidup pasien.
 

Jangan Abaikan Keluhan yang Terus Berulang


Keluhan pencernaan yang menetap sebaiknya tidak terus-menerus dianggap sebagai masalah ringan. Pemeriksaan dokter dapat membantu mengetahui penyebabnya dan menentukan langkah penanganan yang tepat.

Terlebih jika keluhan disertai tanda bahaya, seperti nyeri perut hebat atau mendadak, muntah darah, tinja berwarna hitam atau berdarah, maupun kesulitan menelan yang semakin berat. Kondisi tersebut memerlukan penilaian medis segera.

Pada akhirnya, mengenali keluhan tubuh dan tidak menunda pemeriksaan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan pencernaan. Penanganan yang tepat bukan hanya bertujuan meredakan gejala, tetapi juga membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH