FITNESS & HEALTH

Varian Omicron Berasal dari Afrika Selatan, Apa Hubungannya dengan HIV?

Raka Lestari
Rabu 01 Desember 2021 / 16:00
Jakarta: Di beberapa negara, kasus konfirmasi positif covid-19 mengalami peningkatan. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan, ditambah juga dengan adanya varian baru dari covid-19 yaitu varian Omicron atau B.1.1.529.

Varian baru tersebut pertama kali ditemukan di Afrika Selatan. Terlebih, Afrika Selatan memiliki kasus HIV yang juga cukup banyak.

“Kita tahu bahwa varian Omicron atau B.1.1.529 itu pertama kali dilaporkan oleh Afrika Selatan. Dan berdasarkan briefing yang disampaikan oleh WHO, kemungkinan besar varian ini muncul dikarenakan Afrika Selatan sebagian besar adalah orang dengan HIV,” ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI, dalam acara Media Briefing Kemenkes.

Kasus pertama varian baru terjadi pada orang dengan status HIV yang belum mendapatkan vaksinasi, dan juga yang sudah mendapatkan vaksinasi.

"Ini hampir sama dengan kondisi pada varian yang kita ketahui juga berasal dari Afrika Selatan yaitu varian Beta. Diketahui juga bahwa varian Beta bisa memberikan penurunan besar pada efikasi vaksin covid-19,” kata dr. Nadia.

“Jadi saat ini kita tahu ada 2 varian yang berasal dari Afrika Selatan, yang saat ini tercatat sebagai Varian of Concern (VoC). Varian Beta dan varian Omicron, itu banyak terjadi pada orang dengan HIV. Dan itu kita bisa lihat dalam press release-nya WHO,” ujar dr. Nadia.

Mengenai hal tersebut, menurut dr. Nadia, pemerintah juga sudah melakukan beberapa langkah pencegahan. Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan sendiri saat ini sudah melakukan pelarangan bagi 11 negara untuk masuk ke Indonesia.

“Sementara warga negara Indonesia yang melakukan perjalanan 14 hari sebelumnya atau tinggal di 11 negara tersebut masih bisa kembali ke Indonesia tapi melakukan karantina selama 14 hari. Sementara negara-negara lain, di luar dari 11 negara ataupun yang pernah berkunjung ke 11 negara tersebut harus melakukan karantina selama 7 hari,” kata dr. Nadia.

Waktu karantina ini juga mengalami penambahan, dari yang tadinya hanya 3-5 hari saaat ini menjadi 7 hari karantina.

“Semua spesimen positif dilakukan whole genome sequencing (WGS). Terutama dari negara-negara yang sudah melaporkan, berupa kasus konfirmasi maupun kasus yang sifatnya probable (kemungkinan),” tutup dr. Nadia.
(FIR)

MOST SEARCH