FITNESS & HEALTH
Lupus Bisa Serang Organ Tubuh Diam-Diam, Kenali Tandanya Sejak Dini
A. Firdaus
Selasa 26 Mei 2026 / 17:18
- Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat.
- Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan jaringan sehat.
- Kondisi ini membuat SLE memiliki manifestasi klinis yang sangat beragam dan sering kali menyerupai penyakit lain.
Jakarta: Indonesia mencatat sekitar 1,4 juta pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau Lupus dengan tingkat mortalitas 8,1%, menjadi salah satu yang tertinggi secara global. Namun di balik angka tersebut, masih banyak pasien yang terlambat terdiagnosis, bahkan baru mendapat kepastian diagnosis ketika sudah mengalami kerusakan organ.
Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan jaringan sehat, sehingga menyerang organ tubuh sendiri dan memicu peradangan kronis. Kondisi ini membuat SLE memiliki manifestasi klinis yang sangat beragam dan sering kali menyerupai penyakit lain.
Secara global, Lupus masih menjadi tantangan kesehatan dengan beban penyakit yang tinggi, namun belum teridentifikasi secara optimal di berbagai negara akibat keterbatasan data epidemiologi.
Data epidemiologi global Lupus, tahun 1992 hingga 2022 yang dikumpulkan dari studi 30 tahun terakhir menunjukkan insidensi Lupus diperkirakan mencapai 5,14 (1,4-15,3) per 100.000 orang-tahun, dengan sekitar 400.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya. Insidensi di Indonesia diperkirakan mencapai 7,4 (1,11-29,7) per 100.000 orang per tahun.
Di samping itu, Indonesia juga menempati peringkat keempat secara global dalam jumlah perempuan usia produktif (15-45 tahun) dengan SLE, menjadikan penyakit ini bukan hanya persoalan medis, tetapi juga isu sosial dan ekonomi karena dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
"SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf," ujar dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR dalam talkshow memperingati Hari Lupus Sedunia bertemakan From Burden to Living Well yang diinisiasi AstraZeneca, Selasa 26 Mei 2026.
"Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang," sambungnya.
Menurut Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, ini merupakan komitmen untuk memajukan layanan bagi pasien dengan penyakit kronis dan kompleks melalui inovasi, riset, dan kolaborasi. Untuk SLE, peningkatan kesadaran masyarakat merupakan langkah penting agar masyarakat dapat mengenali gejala lebih awal dan pasien dapat memperoleh penanganan yang tepat.
"Melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, kami berharap dapat mendukung pemahaman penyakit yang lebih baik, diagnosis yang lebih dini, serta penanganan yang lebih tepat, sehingga semakin banyak penyandang SLE di Indonesia dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik," pungkas Esra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan untuk membedakan jaringan sehat, sehingga menyerang organ tubuh sendiri dan memicu peradangan kronis. Kondisi ini membuat SLE memiliki manifestasi klinis yang sangat beragam dan sering kali menyerupai penyakit lain.
Secara global, Lupus masih menjadi tantangan kesehatan dengan beban penyakit yang tinggi, namun belum teridentifikasi secara optimal di berbagai negara akibat keterbatasan data epidemiologi.
Data epidemiologi global Lupus, tahun 1992 hingga 2022 yang dikumpulkan dari studi 30 tahun terakhir menunjukkan insidensi Lupus diperkirakan mencapai 5,14 (1,4-15,3) per 100.000 orang-tahun, dengan sekitar 400.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya. Insidensi di Indonesia diperkirakan mencapai 7,4 (1,11-29,7) per 100.000 orang per tahun.
Di samping itu, Indonesia juga menempati peringkat keempat secara global dalam jumlah perempuan usia produktif (15-45 tahun) dengan SLE, menjadikan penyakit ini bukan hanya persoalan medis, tetapi juga isu sosial dan ekonomi karena dapat memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
"SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf," ujar dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR dalam talkshow memperingati Hari Lupus Sedunia bertemakan From Burden to Living Well yang diinisiasi AstraZeneca, Selasa 26 Mei 2026.
"Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang," sambungnya.
Upaya mengenal gejala lebih awal
Menurut Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, ini merupakan komitmen untuk memajukan layanan bagi pasien dengan penyakit kronis dan kompleks melalui inovasi, riset, dan kolaborasi. Untuk SLE, peningkatan kesadaran masyarakat merupakan langkah penting agar masyarakat dapat mengenali gejala lebih awal dan pasien dapat memperoleh penanganan yang tepat.
"Melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, kami berharap dapat mendukung pemahaman penyakit yang lebih baik, diagnosis yang lebih dini, serta penanganan yang lebih tepat, sehingga semakin banyak penyandang SLE di Indonesia dapat mencapai kualitas hidup yang lebih baik," pungkas Esra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)