FITNESS & HEALTH
Viral Bayi Meninggal Usai Diberi Telur Mentah oleh Sang Nenek
Mia Vale
Senin 12 Oktober 2026 / 12:46
- Tak ada orang tua yang sanggup kehilangan buah hatinya. Apalagi jika si kecil baru beberapa hari hadir di dunia dan harus pergi.
- Kisah pilu datang dari seorang bayi yang sempat kritis dan akhirnya tak terselamatkan setelah dirawat di ruang NICU RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.
- Kejadian menyedihkan di usianya yang baru 28 hari ini dipicu oleh pemberian telur mentah oleh sang nenek.
Jakarta: Tak ada orang tua yang sanggup kehilangan buah hatinya. Apalagi jika si kecil baru beberapa hari hadir di dunia dan penyebab kepergiannya sebenarnya bisa dicegah.
Kisah pilu datang dari seorang bayi yang sempat kritis dan akhirnya tak terselamatkan setelah dirawat di ruang NICU RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.
Kejadian menyedihkan di usianya yang baru 24 hari ini dipicu oleh pemberian telur mentah oleh sang nenek. Dari kasus meninggalnya bayi Alena, mari kita pahami bersama mengapa telur mentah sangat berbahaya bagi bayi.
Telur memang sarat gizi dan sangat baik untuk mendukung tumbuh kembang anak. Bahannya pun mudah diolah menjadi beragam masakan. Sayangnya, karena predikat "makanan sehat" ini, masih ada sebagian orang tua zaman dulu yang keliru saat memberikan telur kepada anak atau cucu mereka.
Sebagaimana dijelaskan oleh dr. Cut Nurul Hafifah, SpA., di situs resmi IDAI, beberapa dekade lalu ada kebiasaan memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi di bawah 1 tahun dengan alasan agar anak "kuat".
Sayangnya, praktik ini ternyata masih sering ditemui hingga sekarang—seperti yang dialami oleh Alena.
Pada dasarnya, bayi berusia 0–6 bulan HANYA membutuhkan ASI sebagai makanan utamanya. MPASI baru boleh dikenalkan secara bertahap setelah menginjak usia 6 bulan. Memberikan makanan selain ASI pada bayi yang baru berusia 1 bulan jelas sangat berisiko.
Dr. Cut Nurul Hafifah mengungkapkan bahwa telur yang tidak dimasak hingga matang sempurna sangat mudah terkontaminasi bakteri Salmonella.
Anak usia balita bahkan 4 kali lebih rentan mengalami keracunan (Salmonellosis) dibandingkan orang dewasa. Penyebabnya tak lain karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk dengan sempurna.
Gejala biasanya muncul 12–72 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, meliputi:
- Demam dan muntah
- Diare berdarah
- Dehidrasi berat (yang bisa memicu syok fatal jika terlambat ditangani)
Catatan: Selain bayi dan balita, lansia serta ibu hamil juga termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap Salmonellosis.
Risiko ini bukan cuma datang dari telur setengah matang biasa, tapi juga dari olahan berbahan telur mentah/setengah matang seperti homemade mayonnaise, tiramisu, atau mousse. Kalau mayonnaise kemasan pabrik umumnya lebih aman karena sudah menggunakan telur yang dipasteurisasi.
Sebelum usia 6 bulan, organ pencernaan, dinding usus, dan enzim pemecah protein pada bayi belum berkembang matang.
Memberikan makanan padat—terlebih yang mentah seperti telur—bisa memicu luka, peradangan, penyumbatan, hingga kebocoran saluran cerna.
Selain masalah pencernaan, telur mentah atau setengah matang juga berisiko memicu reaksi alergi berat, seperti:
- Ruam merah dan gatal pada kulit
- Pembengkakan pada wajah dan bibir
- Sesak atau gangguan pernapasan
Hingga kini, sebagian masyarakat masih percaya mitos bahwa telur mentah lebih bergizi atau bisa membuat anak cerdas. Padahal, fakta medis justru berkata sebaliknya.
Ahli Gizi UGM, Dr. Toto Sudargo, SKM., M.Kes., menegaskan bahwa penyerapan protein jauh lebih maksimal jika telur dimasak hingga matang. Beliau merujuk pada riset di International Journal of Food Sciences and Nutrition (2004) yang menunjukkan:
- Telur mentah: Tubuh hanya mampu menyerap sekitar 50% proteinnya.
- Telur matang: Tubuh bisa menyerap hingga 90% protein secara optimal.
1. Patuhi aturan nutrisi bayi: Jangan pernah memberikan makanan atau minuman selain ASI/susu formula kepada bayi di bawah 6 bulan tanpa petunjuk medis.
2. Edukasi keluarga: Pastikan seluruh anggota keluarga (termasuk kakek dan nenek) memahami bahaya ini agar tidak sembarangan memberi asupan pada si kecil.
3. Penanganan cepat: Jika si kecil tidak sengaja mengonsumsi telur mentah atau menunjukkan gejala seperti demam, diare, muntah, dan lemas, segera bawa ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.
(TIN)
Kisah pilu datang dari seorang bayi yang sempat kritis dan akhirnya tak terselamatkan setelah dirawat di ruang NICU RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.
Kejadian menyedihkan di usianya yang baru 24 hari ini dipicu oleh pemberian telur mentah oleh sang nenek. Dari kasus meninggalnya bayi Alena, mari kita pahami bersama mengapa telur mentah sangat berbahaya bagi bayi.
Mitos telur mentah untuk bayi
Telur memang sarat gizi dan sangat baik untuk mendukung tumbuh kembang anak. Bahannya pun mudah diolah menjadi beragam masakan. Sayangnya, karena predikat "makanan sehat" ini, masih ada sebagian orang tua zaman dulu yang keliru saat memberikan telur kepada anak atau cucu mereka.
Sebagaimana dijelaskan oleh dr. Cut Nurul Hafifah, SpA., di situs resmi IDAI, beberapa dekade lalu ada kebiasaan memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi di bawah 1 tahun dengan alasan agar anak "kuat".
Sayangnya, praktik ini ternyata masih sering ditemui hingga sekarang—seperti yang dialami oleh Alena.
Risiko serius: infeksi bakteri Salmonella
(Menurut dr. Robby Firmansyah Murzen via Alodokter, infeksi Salmonella dapat masuk ke dalam aliran darah. Kondisi yang disebut dengan bakteremia ini dapat menyebabkan peradangan di seluruh tubuh sehingga menimbulkan kerusakan organ, seperti otak, jantung, dan pembuluh darah. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Dr. Cut Nurul Hafifah mengungkapkan bahwa telur yang tidak dimasak hingga matang sempurna sangat mudah terkontaminasi bakteri Salmonella.
Anak usia balita bahkan 4 kali lebih rentan mengalami keracunan (Salmonellosis) dibandingkan orang dewasa. Penyebabnya tak lain karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk dengan sempurna.
Gejala salmonellosis yang perlu diwaspadai:
Gejala biasanya muncul 12–72 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, meliputi:
- Demam dan muntah
- Diare berdarah
- Dehidrasi berat (yang bisa memicu syok fatal jika terlambat ditangani)
Catatan: Selain bayi dan balita, lansia serta ibu hamil juga termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap Salmonellosis.
Risiko ini bukan cuma datang dari telur setengah matang biasa, tapi juga dari olahan berbahan telur mentah/setengah matang seperti homemade mayonnaise, tiramisu, atau mousse. Kalau mayonnaise kemasan pabrik umumnya lebih aman karena sudah menggunakan telur yang dipasteurisasi.
Organ pencernaan bayi belum siap
Sebelum usia 6 bulan, organ pencernaan, dinding usus, dan enzim pemecah protein pada bayi belum berkembang matang.
Memberikan makanan padat—terlebih yang mentah seperti telur—bisa memicu luka, peradangan, penyumbatan, hingga kebocoran saluran cerna.
Selain masalah pencernaan, telur mentah atau setengah matang juga berisiko memicu reaksi alergi berat, seperti:
- Ruam merah dan gatal pada kulit
- Pembengkakan pada wajah dan bibir
- Sesak atau gangguan pernapasan
Mitos makanan "bikin pinter" vs fakta medis
Hingga kini, sebagian masyarakat masih percaya mitos bahwa telur mentah lebih bergizi atau bisa membuat anak cerdas. Padahal, fakta medis justru berkata sebaliknya.
Ahli Gizi UGM, Dr. Toto Sudargo, SKM., M.Kes., menegaskan bahwa penyerapan protein jauh lebih maksimal jika telur dimasak hingga matang. Beliau merujuk pada riset di International Journal of Food Sciences and Nutrition (2004) yang menunjukkan:
- Telur mentah: Tubuh hanya mampu menyerap sekitar 50% proteinnya.
- Telur matang: Tubuh bisa menyerap hingga 90% protein secara optimal.
Apa yang harus dilakukan orang tua?
1. Patuhi aturan nutrisi bayi: Jangan pernah memberikan makanan atau minuman selain ASI/susu formula kepada bayi di bawah 6 bulan tanpa petunjuk medis.
2. Edukasi keluarga: Pastikan seluruh anggota keluarga (termasuk kakek dan nenek) memahami bahaya ini agar tidak sembarangan memberi asupan pada si kecil.
3. Penanganan cepat: Jika si kecil tidak sengaja mengonsumsi telur mentah atau menunjukkan gejala seperti demam, diare, muntah, dan lemas, segera bawa ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.
(TIN)