FITNESS & HEALTH
Jangan Sembarang Semprotkan Parfum di Leher, Awas Berisiko Iritasi!
Mia Vale
Minggu 04 Januari 2026 / 13:12
Jakarta: Selain di baju, biasanya orang akan menyemprotkan parfum di area kulit, seperti leher. Pasalnya, di leher dan tengkuk merupakan area tubuh yang jarang terekspos udara dan Matahari.
Dengan begitu, aroma parfum akan lebih lama bertahan di sana. Namun, belakangan beredar narasi, utamanya di media sosial terkait efek samping memakai parfum di leher. Narasi tersebut mengatakan efek semprotan parfum di leher, bisa memicu bercak pada kulit dan tahi lalat.
Berkaitan dengan hal itu, ahli gizi, Manpreet Kalra melalui Times of India menyoroti bahwa banyak parfum mengandung ftalat, paraben, dan musk sintetis, yang merupakan bahan kimia pengganggu endokrin (EDC) yang mampu mengganggu fungsi hormon alami.
Paparan rutin di leher, tempat kulit tipis dan kelenjar tiroid berada, meningkatkan risiko ketidakseimbangan hormon, gangguan tiroid, dan masalah metabolisme. Risiko lainnya termasuk iritasi kulit, fotosensitivitas, dan reaksi alergi. Yuk, kita baca penjelasannya!
.jpg)
(Bila kamu mengalami iritasi akibat semprotan parfum di leher, segera hentikan menyemprotkan di area tersebut. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Memang, di area leher seakan menjadi tempat mujarab untuk menyemprotkan parfum. Tapi ternyata, penggunaan parfum secara langsung di kulit mampu menimbulkan reaksi iritasi pada sebagian orang, mulai dari bercak merah hingga hitam atau bahkan putih. Hal itu disebabkan karena kandungan alkohol di dalam parfum yang bersifat iritatif bagi sebagian orang.
Perlu diketahui, alkohol bersifat iritatif. Jadi, semua yang terkena alkohol pasti menjadi relatif kering. Hanya saja, berhubung kadar alkohol dalam parfum kecil, jadi tidak terlalu iritatif.
Yang bersifat sebagai alergen justru biang parfumnya. Selain itu, parfum yang mengandung minyak bergamot dapat menyebabkan reaksi fotoalergi apabila terkena paparan sinar ultraviolet. Oleh karena itu, disarankan agar penggunaan parfum tidak disemprotkan langsung ke kulit.
Gejala iritasi kulit akibat pemakaian parfum tidak langsung dapat dilihat, melainkan baru muncul justru setelah beberapa kali menggunakan parfum tersebut.
Ya, zat pada parfum membutuhkan waktu beberapa hari untuk menimbulkan reaksi alergi atau tidak. Beberapa gejala tersebut muncul dimulai dari adanya rasa gatal, kemerahan bahkan sampai timbul lepuh, bila kondisi iritasi berat.
Bila kamu mengalami iritasi akibat semprotan parfum di leher, segera hentikan menyemprotkan di area tersebut. Lalu, bersihkan area kulit dengan air dan sabun yang lembut.
Ini dilakukan untuk menghilangkan parfum yang tersisa. Bisa juga dengan mengoleskan emolien/aloe vera bila gejala ringan untuk meredakan perandangan. Tapi, bila gejala semakin parah, segera periksa ke dokter spesialis kulit dan kelamin.
Untuk meminimalkan risiko ini, pertimbangkan parfum alami atau organik yang menghindari bahan kimia sintetis berbahaya. Hindari mengaplikasikan wewangian langsung pada area sensitif seperti leher atau daerah tiroid, dan pilih pakaian atau titik nadi dengan kulit yang lebih tebal untuk mengaplikasikan wewangian.
Memilih produk yang lebih aman membantu mengurangi paparan bahan kimia pengganggu endokrin dan melindungi kesehatan hormonal dan kulit secara keseluruhan.
Ingat, kesadaran dan kehati-hatian, mendorong alternatif yang lebih aman dan penggunaan yang bijaksana untuk melindungi kesehatan jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Dengan begitu, aroma parfum akan lebih lama bertahan di sana. Namun, belakangan beredar narasi, utamanya di media sosial terkait efek samping memakai parfum di leher. Narasi tersebut mengatakan efek semprotan parfum di leher, bisa memicu bercak pada kulit dan tahi lalat.
Berkaitan dengan hal itu, ahli gizi, Manpreet Kalra melalui Times of India menyoroti bahwa banyak parfum mengandung ftalat, paraben, dan musk sintetis, yang merupakan bahan kimia pengganggu endokrin (EDC) yang mampu mengganggu fungsi hormon alami.
Paparan rutin di leher, tempat kulit tipis dan kelenjar tiroid berada, meningkatkan risiko ketidakseimbangan hormon, gangguan tiroid, dan masalah metabolisme. Risiko lainnya termasuk iritasi kulit, fotosensitivitas, dan reaksi alergi. Yuk, kita baca penjelasannya!
Efek samping pakai parfum di leher
.jpg)
(Bila kamu mengalami iritasi akibat semprotan parfum di leher, segera hentikan menyemprotkan di area tersebut. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Memang, di area leher seakan menjadi tempat mujarab untuk menyemprotkan parfum. Tapi ternyata, penggunaan parfum secara langsung di kulit mampu menimbulkan reaksi iritasi pada sebagian orang, mulai dari bercak merah hingga hitam atau bahkan putih. Hal itu disebabkan karena kandungan alkohol di dalam parfum yang bersifat iritatif bagi sebagian orang.
Perlu diketahui, alkohol bersifat iritatif. Jadi, semua yang terkena alkohol pasti menjadi relatif kering. Hanya saja, berhubung kadar alkohol dalam parfum kecil, jadi tidak terlalu iritatif.
Yang bersifat sebagai alergen justru biang parfumnya. Selain itu, parfum yang mengandung minyak bergamot dapat menyebabkan reaksi fotoalergi apabila terkena paparan sinar ultraviolet. Oleh karena itu, disarankan agar penggunaan parfum tidak disemprotkan langsung ke kulit.
Gejala iritasi kulit akibat parfum
Gejala iritasi kulit akibat pemakaian parfum tidak langsung dapat dilihat, melainkan baru muncul justru setelah beberapa kali menggunakan parfum tersebut.
Ya, zat pada parfum membutuhkan waktu beberapa hari untuk menimbulkan reaksi alergi atau tidak. Beberapa gejala tersebut muncul dimulai dari adanya rasa gatal, kemerahan bahkan sampai timbul lepuh, bila kondisi iritasi berat.
Cara mengatasi iritasi karena parfum
Bila kamu mengalami iritasi akibat semprotan parfum di leher, segera hentikan menyemprotkan di area tersebut. Lalu, bersihkan area kulit dengan air dan sabun yang lembut.
Ini dilakukan untuk menghilangkan parfum yang tersisa. Bisa juga dengan mengoleskan emolien/aloe vera bila gejala ringan untuk meredakan perandangan. Tapi, bila gejala semakin parah, segera periksa ke dokter spesialis kulit dan kelamin.
Alternatif yang lebih aman
Untuk meminimalkan risiko ini, pertimbangkan parfum alami atau organik yang menghindari bahan kimia sintetis berbahaya. Hindari mengaplikasikan wewangian langsung pada area sensitif seperti leher atau daerah tiroid, dan pilih pakaian atau titik nadi dengan kulit yang lebih tebal untuk mengaplikasikan wewangian.
Memilih produk yang lebih aman membantu mengurangi paparan bahan kimia pengganggu endokrin dan melindungi kesehatan hormonal dan kulit secara keseluruhan.
Ingat, kesadaran dan kehati-hatian, mendorong alternatif yang lebih aman dan penggunaan yang bijaksana untuk melindungi kesehatan jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)