FITNESS & HEALTH
Momentum Perkuat Kesadaran soal Keamanan Obat di Hari Keselamatan Pasien Sedunia
Elang Riki Yanuar
Jumat 18 September 2026 / 09:00
- Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2026 menjadi momentum meningkatkan pemahaman masyarakat tentang keamanan dalam setiap tahapan pengobatan.
- Masyarakat berperan menjaga keselamatan pengobatan dengan memastikan obat berasal dari sumber resmi dan memeriksa legalitas produk.
- BPOM mendorong masyarakat aktif melaporkan dugaan efek samping obat sebagai bagian dari pemantauan keamanan dan perlindungan pasien.
Jakarta: Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2026 menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keamanan dalam setiap tahapan pengobatan. Peringatan yang berlangsung setiap 17 September ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas pelayanan kesehatan, tetapi juga bagaimana pasien memastikan obat yang digunakan aman dan diperoleh melalui jalur yang tepat.
Aspek tersebut menjadi semakin penting bagi masyarakat yang menjalani pengobatan penyakit tidak menular atau noncommunicable diseases (NCDs), seperti diabetes dan obesitas. Pengobatan untuk kondisi kronis dapat berlangsung dalam jangka panjang sehingga membutuhkan penggunaan obat secara tepat serta pemantauan keamanan secara berkelanjutan.
Hari Keselamatan Pasien Sedunia ditetapkan oleh World Health Assembly pada 2019. Peringatan ini menjadi bagian dari upaya global untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam keselamatan pasien sekaligus mendorong berbagai pihak mengurangi risiko yang sebenarnya dapat dicegah dalam pelayanan kesehatan.
Dalam konteks keamanan pengobatan, masyarakat memiliki peran penting sejak sebelum obat digunakan. Salah satunya dengan memastikan obat resep diperoleh dari sumber resmi, memeriksa legalitas produk, serta menggunakan obat sesuai dengan arahan tenaga kesehatan.
Pemahaman mengenai produk ilegal juga menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien. Produk medis substandard dan falsified dapat mencakup obat palsu maupun produk yang diperoleh melalui jalur distribusi tidak resmi sehingga kualitas dan keamanannya tidak dapat dipastikan.
Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA), produk medis ilegal dapat mencakup produk palsu, produk yang berasal dari jalur distribusi tidak resmi, produk yang sengaja dicampur, menjadi objek transaksi penipuan, atau produk yang kondisinya tidak layak untuk didistribusikan.
World Health Organization (WHO) juga menjelaskan bahwa produk medis substandard dan falsified dapat mengandung bahan berbahaya atau memiliki dosis yang tidak sesuai. Kondisi tersebut dapat membuat efektivitas, keamanan, dan kualitas produk tidak terjamin serta berpotensi menyebabkan kegagalan pengobatan.
Karena itu, masyarakat disarankan memperoleh obat melalui fasilitas resmi, seperti apotek, klinik, layanan telehealth, maupun rumah sakit yang memiliki izin. Legalitas produk juga dapat diperiksa melalui laman Cek BPOM sebelum obat digunakan.
Masyarakat yang menemukan atau mencurigai adanya produk ilegal juga dapat melaporkannya kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pelaporan dapat dilakukan melalui kanal resmi BPOM, termasuk Halo BPOM, layanan WhatsApp, email, media sosial resmi, serta Unit Layanan Pengaduan Konsumen dan unit layanan BPOM di daerah.
Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, Nova Emelda, S.Si., Apt., M.S., menekankan bahwa keselamatan pasien membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
"Keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dijaga sepanjang siklus hidup obat, mulai dari memastikan ketertelusuran dan keamanan produk hingga pemantauan keamanannya setelah beredar melalui pelaksanaan farmakovigilans. BPOM mendorong masyarakat, tenaga medis, dan tenaga kesehatan untuk berperan aktif melaporkan setiap kejadian tidak diinginkan atau dugaan efek samping obat, karena setiap laporan menjadi informasi penting dalam pemantauan profil keamanan obat dan upaya perlindungan keselamatan pasien," ujar Nova Emelda, S.Si., Apt., M.S.
Pemantauan keamanan obat atau farmakovigilans menjadi salah satu bagian penting setelah produk beredar di masyarakat. Melalui sistem tersebut, informasi mengenai kejadian tidak diinginkan dan kemungkinan efek samping dapat dikumpulkan untuk membantu melihat profil keamanan obat secara berkelanjutan.
Novo Indonesia juga menyatakan menjalankan sejumlah proses terkait kualitas dan keamanan produk, termasuk sistem serialisasi sebelum produk didistribusikan. Sistem tersebut memungkinkan informasi tertentu pada produk diverifikasi melalui aplikasi BPOM Mobile, seperti nomor izin edar, nomor bets, dan tanggal kedaluwarsa.
Setelah produk berada di pasaran, pemantauan juga dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Salah satu perhatian yang turut menjadi bagian dari upaya tersebut adalah deteksi produk ilegal yang beredar melalui platform daring.
dr. Riyanny Meisha Tarlinan, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, mengatakan upaya menjaga keselamatan pasien perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak.
"Melalui kolaborasi dan peran aktif setiap pihak, kita dapat bersama-sama mendukung perjalanan pengobatan yang lebih aman bagi pasien. Bagi Novo, upaya tersebut dimulai dari penerapan proses dan standar kualitas sebelum produk dipasarkan, sistem untuk memastikan keaslian produk, upaya mendukung deteksi produk ilegal, hingga pemantauan keamanan setelah produk digunakan melalui tanggung jawab Pharmacovigilance," katanya.
Selain aspek kualitas produk, masyarakat juga perlu memahami pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan selama menjalani pengobatan. Hal ini termasuk ketika pasien mengalami kejadian yang tidak diinginkan atau dugaan efek samping setelah menggunakan obat.
Di Indonesia, tim pharmacovigilance Novo menyatakan menjalankan proses sesuai ketentuan BPOM, termasuk menerima dan menindaklanjuti laporan mengenai kemungkinan efek samping. Informasi tersebut menjadi bagian dari pemantauan keamanan produk setelah digunakan oleh pasien.
"Keselamatan pasien dimulai dari setiap keputusan dan tindakan dalam perjalanan pengobatan. Oleh karena itu, kami terus berupaya memastikan kualitas dan keamanan produk, sekaligus mendorong pasien untuk lebih aktif menjaga keselamatannya dengan memperoleh obat dari sumber tepercaya dan selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di sepanjang tahapan pengobatan," tutup dr. Riyanny.
(ELG)
Aspek tersebut menjadi semakin penting bagi masyarakat yang menjalani pengobatan penyakit tidak menular atau noncommunicable diseases (NCDs), seperti diabetes dan obesitas. Pengobatan untuk kondisi kronis dapat berlangsung dalam jangka panjang sehingga membutuhkan penggunaan obat secara tepat serta pemantauan keamanan secara berkelanjutan.
Hari Keselamatan Pasien Sedunia ditetapkan oleh World Health Assembly pada 2019. Peringatan ini menjadi bagian dari upaya global untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam keselamatan pasien sekaligus mendorong berbagai pihak mengurangi risiko yang sebenarnya dapat dicegah dalam pelayanan kesehatan.
Dalam konteks keamanan pengobatan, masyarakat memiliki peran penting sejak sebelum obat digunakan. Salah satunya dengan memastikan obat resep diperoleh dari sumber resmi, memeriksa legalitas produk, serta menggunakan obat sesuai dengan arahan tenaga kesehatan.
Pemahaman mengenai produk ilegal juga menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien. Produk medis substandard dan falsified dapat mencakup obat palsu maupun produk yang diperoleh melalui jalur distribusi tidak resmi sehingga kualitas dan keamanannya tidak dapat dipastikan.
Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA), produk medis ilegal dapat mencakup produk palsu, produk yang berasal dari jalur distribusi tidak resmi, produk yang sengaja dicampur, menjadi objek transaksi penipuan, atau produk yang kondisinya tidak layak untuk didistribusikan.
World Health Organization (WHO) juga menjelaskan bahwa produk medis substandard dan falsified dapat mengandung bahan berbahaya atau memiliki dosis yang tidak sesuai. Kondisi tersebut dapat membuat efektivitas, keamanan, dan kualitas produk tidak terjamin serta berpotensi menyebabkan kegagalan pengobatan.
Karena itu, masyarakat disarankan memperoleh obat melalui fasilitas resmi, seperti apotek, klinik, layanan telehealth, maupun rumah sakit yang memiliki izin. Legalitas produk juga dapat diperiksa melalui laman Cek BPOM sebelum obat digunakan.
Masyarakat yang menemukan atau mencurigai adanya produk ilegal juga dapat melaporkannya kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pelaporan dapat dilakukan melalui kanal resmi BPOM, termasuk Halo BPOM, layanan WhatsApp, email, media sosial resmi, serta Unit Layanan Pengaduan Konsumen dan unit layanan BPOM di daerah.
Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, Nova Emelda, S.Si., Apt., M.S., menekankan bahwa keselamatan pasien membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
"Keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dijaga sepanjang siklus hidup obat, mulai dari memastikan ketertelusuran dan keamanan produk hingga pemantauan keamanannya setelah beredar melalui pelaksanaan farmakovigilans. BPOM mendorong masyarakat, tenaga medis, dan tenaga kesehatan untuk berperan aktif melaporkan setiap kejadian tidak diinginkan atau dugaan efek samping obat, karena setiap laporan menjadi informasi penting dalam pemantauan profil keamanan obat dan upaya perlindungan keselamatan pasien," ujar Nova Emelda, S.Si., Apt., M.S.
Pemantauan keamanan obat atau farmakovigilans menjadi salah satu bagian penting setelah produk beredar di masyarakat. Melalui sistem tersebut, informasi mengenai kejadian tidak diinginkan dan kemungkinan efek samping dapat dikumpulkan untuk membantu melihat profil keamanan obat secara berkelanjutan.
Novo Indonesia juga menyatakan menjalankan sejumlah proses terkait kualitas dan keamanan produk, termasuk sistem serialisasi sebelum produk didistribusikan. Sistem tersebut memungkinkan informasi tertentu pada produk diverifikasi melalui aplikasi BPOM Mobile, seperti nomor izin edar, nomor bets, dan tanggal kedaluwarsa.
Setelah produk berada di pasaran, pemantauan juga dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Salah satu perhatian yang turut menjadi bagian dari upaya tersebut adalah deteksi produk ilegal yang beredar melalui platform daring.
dr. Riyanny Meisha Tarlinan, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, mengatakan upaya menjaga keselamatan pasien perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak.
"Melalui kolaborasi dan peran aktif setiap pihak, kita dapat bersama-sama mendukung perjalanan pengobatan yang lebih aman bagi pasien. Bagi Novo, upaya tersebut dimulai dari penerapan proses dan standar kualitas sebelum produk dipasarkan, sistem untuk memastikan keaslian produk, upaya mendukung deteksi produk ilegal, hingga pemantauan keamanan setelah produk digunakan melalui tanggung jawab Pharmacovigilance," katanya.
Selain aspek kualitas produk, masyarakat juga perlu memahami pentingnya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan selama menjalani pengobatan. Hal ini termasuk ketika pasien mengalami kejadian yang tidak diinginkan atau dugaan efek samping setelah menggunakan obat.
Di Indonesia, tim pharmacovigilance Novo menyatakan menjalankan proses sesuai ketentuan BPOM, termasuk menerima dan menindaklanjuti laporan mengenai kemungkinan efek samping. Informasi tersebut menjadi bagian dari pemantauan keamanan produk setelah digunakan oleh pasien.
"Keselamatan pasien dimulai dari setiap keputusan dan tindakan dalam perjalanan pengobatan. Oleh karena itu, kami terus berupaya memastikan kualitas dan keamanan produk, sekaligus mendorong pasien untuk lebih aktif menjaga keselamatannya dengan memperoleh obat dari sumber tepercaya dan selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan di sepanjang tahapan pengobatan," tutup dr. Riyanny.
(ELG)