FITNESS & HEALTH

Ayo Gerak! Ini 5 Bahaya Jika Kamu Terlalu Sering Rebahan

Medcom
Jumat 21 April 2023 / 15:18
Jakarta: Gaya hidup sedentari atau rebahan menjadi ancaman bagi masyarakat. Sejak pandemi Covid-19, aktivitas sedentari mulai dirasakan oleh banyak orang dan menyebabkan beberapa gangguan, seperti pegal-pegal.

Kegiatan Sedentari (Sedentary) adalah kegiatan yang mengacu pada segala jenis aktivitas yang dilakukan di luar waktu tidur, dengan karakteristik keluaran kalori sangat sedikit yakni <1.5 METs. Jika kamu terlarut dengan kegiatan ini, maka timbul efek yang tidak biasa pada tubuh dan tentunya merugikan.

Adapun klasifikasi gaya hidup sedentari terbagi menjadi tiga berdasarkan durasi waktu, yakni :
A. Level rendah, dalam durasi kurang dari 2 jam.
B. Level menengah, dalam durasi 2- 5 jam.
C. Level tinggi, dalam durasi lebih dari 5 jam.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat gaya hidup sedentari menjadi salah satu dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. Istilah lainnya yang bisa kamu kenali adalah mager (malas gerak). Gaya hidup ini bisa membuatmu menjadi tidak produktif dan menurunkan kekuatan tubuh untuk beraktivitas.

Dikutip dari Medical News Today, penelitian menunjukkan bahwa hanya 21 persen orang dewasa memenuhi pedoman aktivitas fisik. Sedangkan kurang dari 5 persen melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari. Ini menjadi hal darurat yang perlu kita ubah untuk keberlangsungan kehidupan yang sehat.

Rebahan memang berguna untuk rileksasi tubuh. Namun, kamu perlu ingat bahwa tidak baik untuk terus menerapkan gaya hidup seperti ini. Menurut dr. Thalita Najmillah Sabtiari dalam Alodokter, malas gerak tidak boleh terus dilakukan karena menyebabkan masalah kesehatan.

"Adapun berbaring dan beristirahat memberikan manfaat untuk mengembalikan energi tubuh, namun berbaring terlalu lama dapat menimbulkan beberapa hal terutama dalam jangka panjang, sebagaimana hal ini berkontribusi ke gaya hidup yang kurang baik," kata dr. Thalita.

Dikutip dari laman resmi Ditjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berikut efek jarang gerak jangka panjang yang patut diwaspadai:
 

1. Konsentrasi menurun


Kelelahan akibat duduk membuat punggung terasa tidak nyaman. Akibat dari rebahan ini, paru-paru tak dapat ruang yang cukup untuk mengembang optimal. Sehingga, kadar oksigen yang diedarkan ke seluruh tubuh berkurang. Kondisi ini bisa menyebabkan konsentrasi menurun.
 

2. Gangguan fungsi kognitif


Aktivitas fisik diketahui bisa merangsang aliran darah kaya oksigen ke otak dan memperbaiki sel serta jaringan yang mulai mengalami degenerasi. Minimnya aktivitas fisik bisa mengganggu fungsi otak hingga dalam jangka panjang bisa menyebabkan gangguan fungsi kognitif.
 

3. Meningkatkan risiko kardiovaskular


Tidak banyak gerak bisa meningkatkan masalah kardiovaskular, seperti stroke dan penyakit jantung lainnya. Kamu perlu meningkatkan kegiatan banyak gerak untuk menghindari risiko ini.
 

4. Risiko osteoporosis meningkat


Ancaman osteoporosis bisa meningkat jika malas bergerak. Malas gerak membuat tubuh kehilangan massa otot dan membuatnya melemah. Selain itu, tubuh juga akan mengambil kalsium dari tulang. Akibatnya, kepadatan tulang akan berkurang drastis dan bisa memicu datangnya osteoporosis.
 

5. Resistensi insulin


Risiko resistensi insulin bisa muncul saat seseorang menghabiskan waktu sekitar 70 persen dari sehari untuk duduk dan rebahan. Kondisi ini dapat meningkatkan kadar gula darah yang pada akhirnya menyebabkan diabetes.

Jika kamu sudah terjebak dalam gaya hidup sedentari, apakah yang harus dilakukan? Berikut adalah beberapa tips agar kehidupan lebih sehat secara fisik dan mental:
 

1. Meningkatkan aktivitas fisik


Beberapa olahraga yang dapat dilakukan adalah berlari, jogging, bersepeda, dengan durasi 150 menit dalam seminggu sesuai anjuran WHO.
 

2. Mengurangi waktu sedentari dengan cara sederhana


Cara sederhana tersebut seperti berdiri di dalam transportasi umum, berjalan ketika istirahat makan siang, memasang pengingat untuk bergerak setiap 30 menit ketika sedang bekerja, banyak mengerjakan pekerjaan domestik di rumah, dan lebih memilih untuk naik tangga daripada lift.

"Meskipun boleh-boleh saja untuk rebahan atau berbaring, sebaiknya lakukanlah gaya hidup yang juga sehat dan seimbang. Makanlah makanan yang bergizi, minum 2-3 liter per hari, berjalan-jalan sedikit setelah berbaring, berolahraga rutin 3-5x/minggu, tidur 7-9 jam per hari, tidak merokok, dan mengelola stres dengan baik," pungkas dr. Thalita.

Aulia Putriningtias

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH