FITNESS & HEALTH

Sejumlah Mitos Flu dan Covid-19 yang Perlu Kamu Ketahui

Kumara Anggita
Jumat 16 Oktober 2020 / 19:00
Jakarta: Flu dan Covid-19 merupakan penyakit yang kerap menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Hal ini membuat banyak informasi tidak benar beredar dan menyesatkan.

Untuk itu, ketahuilah mitos-mitos yang umum tersebar terkait dua penyakit ini dikutip Huffpost berikut ini:
 

1. Flu takkan menjadi masalah, karena kita memakai masker


Dr. Timothy Laird, kepala petugas medis dari Health First Medical Group menyebutkan bahwa, para dokter berharap praktik kebersihan yang dilakukan orang-orang sekarang bisa mengurangi musim influenza. Namun, terkadang kamu dapat melakukan hampir semua hal dengan benar seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan tetap tertular virus.

“Semua yang kami lakukan mengurangi risiko. Itu tidak membuat risiko menjadi nol,” kata Dr. Aaron Milstone, seorang ahli epidemiologi dan profesor pediatri di Johns Hopkins Medicine.
 

2. Vaksin flu bisa membuat kamu sakit, lemah atau lebih rentan terhadap covid-19


Para ahli menekankan bahwa vaksin flu dapat menyebabkan flu tidak benar. Namun, kamu bisa mengembangkan reaksi seperti flu terhadap vaksin (termasuk nyeri otot dan demam) karena tubuh kamu memproduksi antibodi.

“Kamu mungkin mengalami sakit lengan, bahkan mungkin merasa sedikit sakit atau mengalami demam ringan atau tenggorokan gatal," kata Laird.

“Tapi itu bukan penyakit, itu adalah efek samping yang dialami oleh sejumlah kecil orang dengan hampir semua vaksinasi,” lanjutnya.

Jadi, tak usah khawatir suntikan tersebut akan membuatmu sakit dan melemahkan sistem kekebalan di tengah pandemi, membuat kamu lebih rentan terhadap covid-19.
 

3. Covid-19 dan flu pada dasarnya sama


Banyak orang menganggap bahwa dua penyakit ini pada dasarnya sama karena ciri-cirinya mirip.
Anggapan itu tidak benar kaitannya dengan efek pada tubuh. Tidak benar dalam hal berapa lama orang dapat menular atau seberapa menular virus itu, dan bahkan tidak benar dalam hal siapa yang cenderung sakit parah.

“Ada perbedaan secara epidemiologis,” kata Milstone.

Itu juga tidak benar untuk hitungan kematian. Sekitar 34.000 orang meninggal di AS selama musim flu 2018-2019, yang benar-benar meningkat pada November dan cukup banyak berkurang pada Februari.

Sebaliknya, lebih dari 211.000 orang telah meninggal karena covid-19 di AS dalam tujuh bulan terakhir. Dan tidak seperti flu, yang cenderung menyerang di musim dingin, kasus covid-19 melonjak sepanjang musim panas.
(FIR)

MOST SEARCH