Menurutnya, subklade K ini menyebar lebih cepat dan menyebabkan lonjakan signifikan kasus flu musiman, dengan kontribusi hampir 90 persen dari kasus terbaru. Meski terdengar baru, subtipe H3N2 telah ada sejak 1968 dan terus berevolusi.
"Virus influenza terus bermutasi untuk menghindari sistem kekebalan manusia. Itulah sebabnya vaksin flu perlu diperbarui secara berkala," jelas Desdiani, dalam siaran persnya dikutip Selasa, 13 Januari 2026.
Tren Penyebaran Super flu di Indonesia
Pemantauan global oleh Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS) WHO menunjukkan pola unik di wilayah tropis. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, puncak kasus terjadi pada Agustus 2025 dengan subklade K sebagai strain dominan."Berdasarkan data sekuens genetik, subklade K mengalami genetic drift yang memengaruhi karakteristiknya. Namun, kasus flu telah menurun stabil sejak pertengahan Desember 2025," paparnya. Tingkat positivitas tes flu mingguan juga telah turun menjadi sekitar 4 persen.
Kelompok Rentan dan Upaya Pencegahan
Desdiani menyoroti kasus banyak ditemukan pada anak, remaja, dan lansia. Anak dan remaja rentan karena kontak tinggi di sekolah, sementara lansia berisiko mengalami sakit berat akibat komorbiditas.Untuk pencegahan, vaksinasi influenza adalah langkah paling efektif. Vaksin terbukti menurunkan risiko rawat inap hingga 70–75 persen pada anak dan 30 - 40 persen pada dewasa.
"Selain vaksinasi, masyarakat harus disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menggunakan masker saat sakit, beristirahat di rumah, serta menjaga etika batuk dan kebersihan tangan," imbaunya.
| Baca juga: Apa Itu Superflu? Ini Pengertian, Gejala dan Cara Mencegahnya
|
Ia mengingatkan, meski sebagian besar kasus flu sembuh sendiri, komplikasi serius dapat mengancam kelompok rentan. Kewaspadaan dan upaya pencegahan tetap harus ditingkatkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News