FITNESS & HEALTH

Mengenal Apa Itu Bell’s Palsy

Mia Vale
Senin 23 Mei 2022 / 10:05
Jakarta: Pernahkah kamu mendengar istilah bell's palsy? Bagi yang belum mengetahuinya mungkin gejala ini akan disamakan dengan gejala stroke, di mana mata tak menutup sempurna, wajah tidak simetris, dan alis yang tak bisa diangkat.

Menurut dr. Alifa Dimanti, Sp. S, Dokter Spesialis Saraf dari RS Pondok Indah – Puri Indah, Jakarta, bell's palsy, atau yang sering disebut (facial weakness), merupakan manifestasi klinis dari kelumpuhan saraf ketujuh atau yang disebut dengan n.facialis. 

Kelumpuhan ini biasanya timbul tiba-tiba akibat dari proses inflamasi. Oleh karena terjadi gangguannya pada saraf ketujuh, gejala yang timbul meliputi seluruh otot yang dipersarafi oleh n.facialis tersebut. 
 

Lalu, seperti apa gejala yang timbul akibat bell's palsy ini?


Dr. Alifa memaparkan bahwa gejala yang timbul akibat dari bell's palsy, antara lain adalah:

- Wajah menjadi tidak simetris
- Alis tidak bisa diangkat
- Mata tidak bisa menutup sempurna
- Dan sudut mulut tidak bisa terangkat
- Gejala lain yang dapat timbul adalah mengeces (drooling)
- Nyeri di sekitar rahang atau di belakang telinga sisi yang terkena
- Hipersensitivitas terhadap suara di sisi yang terkena
- Dan kadang memengaruhi indra perasa

Gejala tersebut biasanya timbul tiba-tiba dan langsung memberat, tetapi kadang dapat pula timbul dan memberat dalam dua sampai tiga hari setelah terjadinya gejala (keadaan stabil).  


apa itu bells palsy
(Setelah timbul gejala bell's palsy menurut dr. Alifa Dimanti pasien diharapkan segera mencari pertolongan medis agar mendapatkan diagnosis yang tepat dan pasti. Foto: Dr. Alifa Dimanti, Sp. S, Dokter Spesialis Saraf. Dok. RS Pondok Indah – Puri Indah, Jakarta)
 

Bagaimana penanganan bell's palsy yang tepat?


Setelah timbul gejala menurut dr. Alifa Dimanti, pasien diharapkan segera mencari pertolongan medis agar mendapatkan diagnosis yang tepat dan pasti. 

Hal ini perlu dilakukan karena gejala kelemahan sesisi wajah yang timbul mirip dengan gejala stroke. Pastikan bahwa gejala tersebut bukan merupakan tanda-tanda stroke. 

Berbeda dengan stroke, pada kasus bell's palsy tidak disertai dengan gejala motorik dan sensorik yang terjadi pada ekstremitas atau sesisi tubuh. 
 

Penanganan pada bell's palsy biasanya meliputi:


1. Terapi farmakologis, baik untuk mengurangi atau menghentikan proses inflamasi dan kemungkinan penyebab (kadang didahului oleh infeksi virus)
2. Fisioterapi untuk mencegah terjadinya kontraktur pada otot-otot wajah

Hampir sekitar 85 persen kasus Bell’s Palsy dapat sembuh sempurna dalam beberapa minggu, tetapi dapat juga terjadi penyembuhan hingga sekitar 6 bulan setelah terjadinya gejala. Gejala sisanya dapat terjadi pada sekitar 15 persen kasus. 
 

Bagaimana dengan refleksi, apakah bisa mengatasi bell's palsy?


"Secara patofisiologi, bell's palsy terjadi akibat proses inflamasi yang terjadi pada serabut n.facialis dan merupakan self-limiting disease pada 85 persen kasus," papar dr. Alifa Dimanti. 

Lebih lanjut ia menambahkan, "Terapi dengan cara refleksi tidak memiliki bukti ilmiah yang jelas terhadap penyembuhan penyakit. Sebaliknya, tindakan untuk memijat, mengurut, atau menekan area di sepanjang perjalanan n,facialis justru dapat memperberat proses inflamasi yang terjadi," pungkas dr. Alifa Dimanti. 
(TIN)

MOST SEARCH