FITNESS & HEALTH

Asupan Garam Dinilai Bukanlah Masalah

Sunnaholomi Halakrispen
Sabtu 07 November 2020 / 12:04
Jakarta: Jika Anda mencari "garam dan kesehatan" atau "risiko garam" di internet, Anda akan disodori informasi yang akan membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum mengonsumsi garam. Tidak sedikit artikel yang mengaitkannya.

Retorika seputar garam sering dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, kanker, penyakit jantung, batu ginjal, dan berbagai masalah serius lainnya. Pada dasarnya, garam telah dilabeli sebagai musuh kita.

Tetapi, mengapa garam mendapatkan klaim yang buruk? Dikutip dari The Ladders, menurut definisi, garam hanyalah senyawa alami yang sering kita gunakan untuk meningkatkan rasa dalam makanan. 

Tubuh kita tidak dapat berfungsi tanpa natrium, sementara garam adalah kombinasi natrium dan klorida. Senyawa tersebut dibutuhkan untuk mengirimkan impuls saraf, berkontraksi dan mengendurkan serat otot, serta menjaga keseimbangan cairan yang tepat.

Garam yang ditakuti ialah lebih dari sekadar taburan sederhana di atas makanan Anda. Kata kuncinya, takaran konsumsi yang berlebihan.

Sementara itu, garam telah memainkan peran penting dalam persiapan makanan selama ribuan tahun. Menurut Dr. Steven Lin, garam adalah obat alami bagi siapa saja yang menderita penyakit gusi, infeksi, dan dapat meredakan peradangan jaringan. 

Penelitian bahkan telah menunjukkan bahwa gagasan diet rendah garam lebih baik bagi kita, didasarkan pada beberapa ilmu yang keliru. Sebuah meta-analisis lebih dari 6.250 pasien menemukan tidak ada hubungan yang sebenarnya antara asupan garam, tekanan darah tinggi, dan risiko penyakit jantung.

Seperti banyak kepercayaan diet, pemahaman kita tentang garam perlu diperiksa ulang. Pertama, banyak orang tidak menyadari bahwa ada banyak jenis garam. Beragam jenis itu sering disatukan dan digunakan secara bergantian.

Garam meja adalah jenis yang standar, paling sering ditemukan di toko bahan makanan dan paket layanan makanan kecil di restoran. Garam halal adalah garam berbutir kasar yang memiliki kristal lebih besar dan rasa yang lebih ringan. 

Beberapa orang lebih suka garam halal karena bebas dari aditif di mana garam meja memiliki yodium untuk mencegah gondok. Sedangkan, garam laut diproduksi dengan menguapkan air laut, dan ada banyak varietas rasa yang berbeda tergantung dari daerah asalnya.

Ini adalah kategori untuk garam yang lebih trendi seperti garam himalaya yang indah. Harga jualnya pun beragam dan terbilang lebih mahal.

Sumber nyata dari asosiasi anti-garam menekankan tentang garam di dalam makanan kemasan dan olahan tinggi. Seperti gula, yang terjadi secara alami dalam buah-buahan, garam muncul dalam banyak bentuk dan bisa sangat bermanfaat dalam jumlah yang sedikit ketika dikonsumsi. 

Kebanyakan orang yang makan lebih dari jumlah asupan garam harian yang direkomendasikan, berisiko mendapatkannya masalah kesehatan. Semuanya berujung pada pemahaman dari mana garam Anda berasal dan takaran mengonsumsinya pada tingkat yang cukup sehat.
(YDH)

MOST SEARCH