FITNESS & HEALTH
Kenali 3 Tipe Kepribadian Selain Introvert dan Ekstrovert
A. Firdaus
Kamis 22 Oktober 2026 / 11:15
- Kenali ambiver, omniver, dan otrover, tiga istilah kepribadian yang menggambarkan cara berbeda dalam bersosialisasi dan menjalin hubungan.
- Kecenderungan sosial manusia lebih kompleks daripada sekadar introversi dan ekstroversi.
- Istilah ambiver, omniver, dan otrover tidak sebaiknya digunakan untuk langsung mengotakkan diri sendiri maupun orang lain.
Jakarta: Selama ini, kepribadian seseorang kerap dibagi menjadi dua kategori, yakni introvert dan ekstrovert. Introvert sering dikaitkan dengan orang yang lebih nyaman menyendiri, sedangkan ekstrover identik dengan sosok yang senang bersosialisasi dan berada di tengah keramaian.
Namun, kepribadian manusia tidak sesederhana dua kategori tersebut. Ada orang yang senang bertemu banyak orang, tetapi tetap membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan energi. Ada pula yang bisa bergaul dengan siapa saja, tetapi tidak merasa perlu menjadi bagian dari suatu kelompok.
Psikiater Rami Kaminski menjelaskan bahwa kecenderungan sosial manusia lebih kompleks daripada sekadar introversi dan ekstroversi. Dalam pemberitaan Real Simple pada 20 Oktober, sejumlah istilah kepribadian turut dibahas untuk menggambarkan variasi cara seseorang berinteraksi, termasuk ambiver, omniver, dan otrover.
Memahami kecenderungan tersebut bisa membantu kamu mengenali kebutuhan diri sendiri, termasuk menentukan lingkungan sosial yang terasa nyaman tanpa harus memaksakan diri mengikuti kebiasaan orang lain.
Pernah merasa senang mengobrol dengan teman-teman, tetapi setelah beberapa jam justru ingin segera pulang dan beristirahat? Bisa jadi, gambaran tersebut terasa dekat dengan kecenderungan ambiver.
Psikolog klinis Michael Alcée menjelaskan bahwa ambiver memiliki kemampuan bersosialisasi dan bergaul dengan orang lain. Namun, seperti introver, mereka juga bisa mengalami kelelahan setelah terlalu banyak berinteraksi.
Ambiver berada di antara kecenderungan introver dan ekstrover. Mereka dapat menikmati percakapan, menghadiri acara bersama teman, atau terlibat dalam aktivitas kelompok. Di sisi lain, mereka tetap membutuhkan waktu untuk diri sendiri agar merasa kembali nyaman.
Keseimbangan menjadi hal penting bagi orang dengan kecenderungan ini. Mereka tidak selalu ingin menyendiri, tetapi juga tidak harus terus berada di tengah keramaian. Kebutuhan sosialnya dapat berubah mengikuti situasi, suasana hati, dan energi yang dimiliki.
Sekilas, omniver memiliki kemiripan dengan ambiver karena sama-sama memperlihatkan sisi introver dan ekstrover. Namun, keduanya digambarkan memiliki pola yang berbeda.
Jika ambiver cenderung berada di tengah spektrum dan menyesuaikan diri dengan situasi, omniver lebih sering bergerak di antara dua kutub tersebut. Dalam kondisi tertentu, mereka bisa sangat aktif dan menikmati interaksi sosial. Pada waktu lain, mereka justru lebih memilih menarik diri dan menghabiskan waktu sendirian.
Sebagai ilustrasi, seseorang dengan kecenderungan omniver mungkin sangat menikmati acara bersama teman pada akhir pekan, tetapi memilih menghabiskan waktu sendiri pada kesempatan berikutnya. Perubahan itu tidak selalu berarti kepribadiannya berubah, melainkan menggambarkan variasi dalam kecenderungan sosialnya.
Meski begitu, istilah omniver belum sepopuler introver dan ekstrover dalam pembahasan kepribadian. Karena itu, istilah ini lebih tepat dipahami sebagai salah satu cara untuk menggambarkan variasi perilaku sosial, bukan diagnosis psikologis.
Berbeda dari dua istilah sebelumnya, psikiater Rami Kaminski memperkenalkan istilah otrover untuk menggambarkan orang yang mampu bergaul dengan baik, tetapi tidak selalu merasa perlu menjadi bagian dari suatu komunitas.
Menurut Kaminski, pendiri Otherness Institute, orang dengan kecenderungan otrover bisa bersikap ramah dan supel. Mereka bukan berarti penyendiri atau tidak pandai berkomunikasi. Hanya saja, mereka mungkin tidak merasakan dorongan yang kuat untuk mengikuti dinamika kelompok.
Seseorang dengan kecenderungan ini bisa saja diterima, bahkan populer di lingkungan pertemanannya, tetapi tidak terlalu tertarik mengikuti setiap kegiatan bersama. Mereka mungkin lebih menyukai hubungan personal dengan beberapa orang dibandingkan keterlibatan dalam kelompok besar.
Hal yang membedakan otrover bukan semata-mata perilaku yang terlihat dari luar, melainkan perasaan mereka terhadap keanggotaan kelompok. Mereka tetap bisa menikmati percakapan dan menjalin hubungan dekat tanpa harus merasa menjadi bagian dari komunitas tertentu.
Mengenali kecenderungan sosial dapat membantu kamu memahami kapan membutuhkan waktu bersama orang lain dan kapan perlu mengambil jeda. Namun, istilah ambiver, omniver, dan otrover tidak sebaiknya digunakan untuk langsung mengotakkan diri sendiri maupun orang lain.
Perilaku sosial juga bisa dipengaruhi oleh situasi, lingkungan, pengalaman, dan kondisi yang sedang dihadapi. Seseorang yang terlihat pendiam di kantor, misalnya, belum tentu memiliki kecenderungan yang sama ketika bersama sahabat dekatnya.
Pada akhirnya, tidak ada kewajiban untuk selalu menjadi orang yang paling aktif dalam kelompok atau sebaliknya terus menghindari keramaian. Yang terpenting adalah mengenali kebutuhan diri, menjaga hubungan yang bermakna, dan menemukan pola interaksi yang terasa nyaman.
(FIR)
Namun, kepribadian manusia tidak sesederhana dua kategori tersebut. Ada orang yang senang bertemu banyak orang, tetapi tetap membutuhkan waktu sendiri untuk memulihkan energi. Ada pula yang bisa bergaul dengan siapa saja, tetapi tidak merasa perlu menjadi bagian dari suatu kelompok.
Psikiater Rami Kaminski menjelaskan bahwa kecenderungan sosial manusia lebih kompleks daripada sekadar introversi dan ekstroversi. Dalam pemberitaan Real Simple pada 20 Oktober, sejumlah istilah kepribadian turut dibahas untuk menggambarkan variasi cara seseorang berinteraksi, termasuk ambiver, omniver, dan otrover.
Memahami kecenderungan tersebut bisa membantu kamu mengenali kebutuhan diri sendiri, termasuk menentukan lingkungan sosial yang terasa nyaman tanpa harus memaksakan diri mengikuti kebiasaan orang lain.
1. Ambiver, Nyaman Bersosialisasi tetapi Butuh Waktu Sendiri
Pernah merasa senang mengobrol dengan teman-teman, tetapi setelah beberapa jam justru ingin segera pulang dan beristirahat? Bisa jadi, gambaran tersebut terasa dekat dengan kecenderungan ambiver.
Psikolog klinis Michael Alcée menjelaskan bahwa ambiver memiliki kemampuan bersosialisasi dan bergaul dengan orang lain. Namun, seperti introver, mereka juga bisa mengalami kelelahan setelah terlalu banyak berinteraksi.
Ambiver berada di antara kecenderungan introver dan ekstrover. Mereka dapat menikmati percakapan, menghadiri acara bersama teman, atau terlibat dalam aktivitas kelompok. Di sisi lain, mereka tetap membutuhkan waktu untuk diri sendiri agar merasa kembali nyaman.
Keseimbangan menjadi hal penting bagi orang dengan kecenderungan ini. Mereka tidak selalu ingin menyendiri, tetapi juga tidak harus terus berada di tengah keramaian. Kebutuhan sosialnya dapat berubah mengikuti situasi, suasana hati, dan energi yang dimiliki.
2. Omniver, Bisa Bergerak di Dua Kutub Kepribadian
Sekilas, omniver memiliki kemiripan dengan ambiver karena sama-sama memperlihatkan sisi introver dan ekstrover. Namun, keduanya digambarkan memiliki pola yang berbeda.
Jika ambiver cenderung berada di tengah spektrum dan menyesuaikan diri dengan situasi, omniver lebih sering bergerak di antara dua kutub tersebut. Dalam kondisi tertentu, mereka bisa sangat aktif dan menikmati interaksi sosial. Pada waktu lain, mereka justru lebih memilih menarik diri dan menghabiskan waktu sendirian.
Sebagai ilustrasi, seseorang dengan kecenderungan omniver mungkin sangat menikmati acara bersama teman pada akhir pekan, tetapi memilih menghabiskan waktu sendiri pada kesempatan berikutnya. Perubahan itu tidak selalu berarti kepribadiannya berubah, melainkan menggambarkan variasi dalam kecenderungan sosialnya.
Meski begitu, istilah omniver belum sepopuler introver dan ekstrover dalam pembahasan kepribadian. Karena itu, istilah ini lebih tepat dipahami sebagai salah satu cara untuk menggambarkan variasi perilaku sosial, bukan diagnosis psikologis.
3. Otrover, Mudah Bergaul tetapi Tidak Harus Menjadi Bagian dari Kelompok
Berbeda dari dua istilah sebelumnya, psikiater Rami Kaminski memperkenalkan istilah otrover untuk menggambarkan orang yang mampu bergaul dengan baik, tetapi tidak selalu merasa perlu menjadi bagian dari suatu komunitas.
Menurut Kaminski, pendiri Otherness Institute, orang dengan kecenderungan otrover bisa bersikap ramah dan supel. Mereka bukan berarti penyendiri atau tidak pandai berkomunikasi. Hanya saja, mereka mungkin tidak merasakan dorongan yang kuat untuk mengikuti dinamika kelompok.
Seseorang dengan kecenderungan ini bisa saja diterima, bahkan populer di lingkungan pertemanannya, tetapi tidak terlalu tertarik mengikuti setiap kegiatan bersama. Mereka mungkin lebih menyukai hubungan personal dengan beberapa orang dibandingkan keterlibatan dalam kelompok besar.
Hal yang membedakan otrover bukan semata-mata perilaku yang terlihat dari luar, melainkan perasaan mereka terhadap keanggotaan kelompok. Mereka tetap bisa menikmati percakapan dan menjalin hubungan dekat tanpa harus merasa menjadi bagian dari komunitas tertentu.
Memahami Kepribadian Tanpa Harus Memberi Label
Mengenali kecenderungan sosial dapat membantu kamu memahami kapan membutuhkan waktu bersama orang lain dan kapan perlu mengambil jeda. Namun, istilah ambiver, omniver, dan otrover tidak sebaiknya digunakan untuk langsung mengotakkan diri sendiri maupun orang lain.
Perilaku sosial juga bisa dipengaruhi oleh situasi, lingkungan, pengalaman, dan kondisi yang sedang dihadapi. Seseorang yang terlihat pendiam di kantor, misalnya, belum tentu memiliki kecenderungan yang sama ketika bersama sahabat dekatnya.
Pada akhirnya, tidak ada kewajiban untuk selalu menjadi orang yang paling aktif dalam kelompok atau sebaliknya terus menghindari keramaian. Yang terpenting adalah mengenali kebutuhan diri, menjaga hubungan yang bermakna, dan menemukan pola interaksi yang terasa nyaman.
(FIR)