FITNESS & HEALTH
Ahli Sebut Hormon Testosteron Rendah Bisa Memicu Penyakit Kardiovaskular, Kenali Gejalanya!
Yuni Yuli Yanti
Jumat 16 Januari 2026 / 08:38
Jakarta: Penurunan hormon menyumbang peran penting terhadap penyakit kardiovaskular (CVD). Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) dan Global Burden of Disease (GBD), tercatat sebanyak 19,8 juta orang meninggal akibat CVD pada 2022 atau mewakili sekitar 32 persen total kematian global.
Dari jumlah kematian tersebut, 85 persen disebabkan karena serangan jantung dan stroke yang dipicu penyakit CVD.
Menurut dr. Ivonne Andriani Santoso, M.Biomed (AAM), Founder Klinik Pratama Steros, CVD dapat terjadi karena penurunan hormon testosteron. Diketahui, testosteron merupakan hormon seks utama pada pria yang tidak hanya berperan dalam fungsi reproduksi, tetapi juga memengaruhi metabolisme tubuh pada pria.
"Dengan tingkat kadar testosteron yang rendah dapat pula mengakibatkan peningkatan lemak visceral, gangguan kolesterol dan gula darah, tekanan darah tinggi, hingga inflamasi kronis," ujar dr. Ivonne dalam Grand Opening "Klinik Pratama Steros" di Dahrmawangsa, Jakarta, pada Kamis (15/1/2026).
Sementara itu, Andrologist dan Seksolog, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., Subsp.SAAM menambahkan perubahan level hormon mulai terjadi pada usia muda. Hal ini lantas menjadi penyebab utama terjadinya proses penuaan.
"Manusia menjadi tua karena hormon berkurang, bukan sebaliknya, berkurang karena manusia menjadi tua. Jadi sangat berbeda usia kronologis karena penambahan umur sesuai tahun kelahiran dengan usia fisiologis atau usia berdasarkan fungsi sistem organ tubuh," tambahnya.

(Tanda atau gejala penurunan hormon testosteron, antara lain libido menurun. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)
Seperti diketahui, penyebab proses penuaan terbagi menjadi dua yakni karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal terjadi akibat hormon berkurang atau tidak seimbang, radikal bebas, glokosis, metilasi, apoptosis, sistem imun, kerusakan DNA, dan gen.
Sedangkan, faktor eksternal meliputi pola hidup dan diet tidak sehat, kebiasaan buruk, serta polusi lingkungan, dan stres.
Terdapat tiga fase lambat proses penuaan, meliputi fase subklinis pada rentang usia 25-35 saat hormon mulai berkurang, fase transisi pada usia 35-45 ketika hormon menurun 25 persen, dan fase klinis pada usia 45 lebih saat hormon terus berkurang.
Gejala keluhan akibat kadar testoteron berkurang disebut Testoterone Deficiency Syndrome (TDS). Pada usia lanjut, gejala tersebut dikenal sebagai Androgen Deficiency in Aging Male (ADAM) atau Partial Deficiency in Aging Male (PADAM) juga disebut Late-Onset Hypogonadisme (LOH).
Prof. Wimpie menyebutkan beberapa tanda atau gejala penurunan hormon testosteron, antara lain libido menurun, disfungsi ereksi atau sulit mempertahankan ereksi, penurunan massa otot, peningkatan lemak tubuh, kelelahan, rambut rontok, produksi sperma berkurang, testis mengecil, perubahan suasana hati, kesulitan konsentrasi, gangguan tidur, hingga tulang rapuh.
"Penurunan kadar testoteron pada pria mengakibatkan pula gangguan terhadap kenyamanan hidup, seperti kelelahan depresi, kebingungan, perasaan panas, dan keringat pada malam hari," jelas Prof. Wimpie.
Steros Men`s Health & Anti-Aging Clinic secara resmi hadir sebagai pelopor layanan kesehatan dan anti-aging pria dengan mengedepankan pendekatan medis personal dan preventif.
Dalam peresmiannya, dr. Ivonne menyampaikan Steros sebagai sebagai pelopor layanan kesehatan dan anti-aging pria membantu tidak hanya solusi tebaik bagi pria di masa prime, tetapi juga membangun koneksi kuat terhadap pasangan sehingga ikatannya menjadi lebih kuat, berkualitas, dan harmoni.

(Ki-ka: dr.Ivonne Andriani Santoso, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Lim Haruman Halim, dan Lim Fifi Anggraeni. Foto: Dok.Istimewa)
Steros menyediakan perawatan penggantian hormon untuk pria dengan testosteron rendah dan masalah hormonal lainnya. Dengan pendekatan medis nan ilmiah, perawatan ini membantu meningkatkan energi, vitalitas, dan kualitas hidup.
"Selain itu, terdapat pula perawatan anti-aging untuk mengurangi tanda-tanda penuaan dengan menggunakan teknologi non-invasif untuk meremajakan kulit, meningkatkan elastisitas, dan menjaga agar tetap muda," tutup dokter pengampu Hormon in Balance & Anti-Aging Klinik Pratama Steros dr. Donny Firdaus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(yyy)
Dari jumlah kematian tersebut, 85 persen disebabkan karena serangan jantung dan stroke yang dipicu penyakit CVD.
Menurut dr. Ivonne Andriani Santoso, M.Biomed (AAM), Founder Klinik Pratama Steros, CVD dapat terjadi karena penurunan hormon testosteron. Diketahui, testosteron merupakan hormon seks utama pada pria yang tidak hanya berperan dalam fungsi reproduksi, tetapi juga memengaruhi metabolisme tubuh pada pria.
"Dengan tingkat kadar testosteron yang rendah dapat pula mengakibatkan peningkatan lemak visceral, gangguan kolesterol dan gula darah, tekanan darah tinggi, hingga inflamasi kronis," ujar dr. Ivonne dalam Grand Opening "Klinik Pratama Steros" di Dahrmawangsa, Jakarta, pada Kamis (15/1/2026).
Sementara itu, Andrologist dan Seksolog, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And., Subsp.SAAM menambahkan perubahan level hormon mulai terjadi pada usia muda. Hal ini lantas menjadi penyebab utama terjadinya proses penuaan.
"Manusia menjadi tua karena hormon berkurang, bukan sebaliknya, berkurang karena manusia menjadi tua. Jadi sangat berbeda usia kronologis karena penambahan umur sesuai tahun kelahiran dengan usia fisiologis atau usia berdasarkan fungsi sistem organ tubuh," tambahnya.

(Tanda atau gejala penurunan hormon testosteron, antara lain libido menurun. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)
Seperti diketahui, penyebab proses penuaan terbagi menjadi dua yakni karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal terjadi akibat hormon berkurang atau tidak seimbang, radikal bebas, glokosis, metilasi, apoptosis, sistem imun, kerusakan DNA, dan gen.
Sedangkan, faktor eksternal meliputi pola hidup dan diet tidak sehat, kebiasaan buruk, serta polusi lingkungan, dan stres.
Terdapat tiga fase lambat proses penuaan, meliputi fase subklinis pada rentang usia 25-35 saat hormon mulai berkurang, fase transisi pada usia 35-45 ketika hormon menurun 25 persen, dan fase klinis pada usia 45 lebih saat hormon terus berkurang.
Gejala keluhan akibat kadar testoteron berkurang disebut Testoterone Deficiency Syndrome (TDS). Pada usia lanjut, gejala tersebut dikenal sebagai Androgen Deficiency in Aging Male (ADAM) atau Partial Deficiency in Aging Male (PADAM) juga disebut Late-Onset Hypogonadisme (LOH).
Prof. Wimpie menyebutkan beberapa tanda atau gejala penurunan hormon testosteron, antara lain libido menurun, disfungsi ereksi atau sulit mempertahankan ereksi, penurunan massa otot, peningkatan lemak tubuh, kelelahan, rambut rontok, produksi sperma berkurang, testis mengecil, perubahan suasana hati, kesulitan konsentrasi, gangguan tidur, hingga tulang rapuh.
"Penurunan kadar testoteron pada pria mengakibatkan pula gangguan terhadap kenyamanan hidup, seperti kelelahan depresi, kebingungan, perasaan panas, dan keringat pada malam hari," jelas Prof. Wimpie.
Layanan kesehatan dan anti-aging pria
Kesehatan pria kini tidak lagi dipandang sebagai hal tabu sebatas urusan performa di atas ranjang, tetapi telah menjadi bagian dari komitmen gaya hidup sehat dengan mengedepankan rasa percaya diri pada pengembangan diri, koneksi sosial, dan keberimbangan substansi jiwa dan raga.Steros Men`s Health & Anti-Aging Clinic secara resmi hadir sebagai pelopor layanan kesehatan dan anti-aging pria dengan mengedepankan pendekatan medis personal dan preventif.
Dalam peresmiannya, dr. Ivonne menyampaikan Steros sebagai sebagai pelopor layanan kesehatan dan anti-aging pria membantu tidak hanya solusi tebaik bagi pria di masa prime, tetapi juga membangun koneksi kuat terhadap pasangan sehingga ikatannya menjadi lebih kuat, berkualitas, dan harmoni.

(Ki-ka: dr.Ivonne Andriani Santoso, Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Lim Haruman Halim, dan Lim Fifi Anggraeni. Foto: Dok.Istimewa)
Steros menyediakan perawatan penggantian hormon untuk pria dengan testosteron rendah dan masalah hormonal lainnya. Dengan pendekatan medis nan ilmiah, perawatan ini membantu meningkatkan energi, vitalitas, dan kualitas hidup.
"Selain itu, terdapat pula perawatan anti-aging untuk mengurangi tanda-tanda penuaan dengan menggunakan teknologi non-invasif untuk meremajakan kulit, meningkatkan elastisitas, dan menjaga agar tetap muda," tutup dokter pengampu Hormon in Balance & Anti-Aging Klinik Pratama Steros dr. Donny Firdaus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(yyy)