FITNESS & HEALTH

Ketahui Jenis Bedah Bariatrik yang Bisa Bikin Kurus

Medcom
Minggu 13 November 2022 / 08:00
Jakarta: Memiliki tubuh yang besar terkadang membuat kita kurang percaya diri. Overweight (berat badan berlebih) juga mampu menimbulkan banyak penyakit berbahaya untuk tubuh, salah satunya diabetes.

Saat ini sudah mulai ramai diperbincangkan di Indonesia, bedah bariatrik atau bedah lambung guna mengurangi berat badan dan menghindarkan segala risiko penyakit. 

Berbeda dengan bedah kosmetik yang hanya berfokus untuk membentuk tubuh. Bedah bariatrik tidak menuju ke sana walaupun bentuk tubuh akan mengikuti.

Ada tiga jenis bedah bariatrik yang sering dilakukan, yaitu:

1. Sleeve gastrectomy
2. Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), dan 
3. Single anastomosis duodeno-ileal bypass with sleeve gastrectomy (SADI-S)

Ketiga tindakan ini sama-sama memodifikasi saluran pencernaan pada pasien yang berakhir pada penurunan berat badan. Hal ini memengaruhi pola makan dan penyerapan makanan dalam tubuh.
 

Bagaimana cara kerja metode bariatrik?


Bedah bariatrik menangani akar persoalan dengan mengobati pasien obesitas dan penyakit penyertanya. Metode ini memiliki cara kerja yang menyebabkan makanan tidak melewati usus 12 jari atau melewatinya dengan lebih cepat. 

Proses ini menyebabkan terjadinya peningkatan hormon GLP-1 yang memperbaiki metabolisme gula oleh insulin, sehingga hormon pasien lebih efektif bekerja dan membantu mengurangi kalori yang diserap tubuh. 


(Dr. dr. Peter Ian Limas, Sp.B-KBD-Dokter Bedah Digestif memaparkan untuk pasien dengan riwayat penyakit jantung tidak diperbolehkan melakukan tindakan bedah bariatrik. Foto: Dok. Medcom.id/Nandhita Nur Fadjriah)
 

Saran untuk melakukan bedah bariatrik


- Tindakan ini diperuntukan pada pasien dengan indeks massa tubuh (IMT) di atas 35 tanpa komorbid atau IMT di atas 30 dengan komorbid. Bedah bariatrik juga sangat disarankan untuk pasien obesitas dengan riwayat diabetes. 

Dr. dr. Peter Ian Limas, Sp.B-KBD-Dokter Bedah Digestif mengatakan, "Tentang kesehatan ini jelas sangat besar. Secara statistik orang yang obesitas itu bisa mengalami penurunan usia sampai 10 tahun. Dengan bariatrik statistiknya bisa dikembalikan 60-70 persen. Saya tidak mengobati diabet, diabetnya akan tetap ada, tapi insulin yang diproduksi itu akan bisa lebih efektif sehingga bisa diturunkan tendensinya."

- Lakukan pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan jantung, USG dan endoskopi untuk melihat kondisi kerongkongan dan lambung, serta pengecekan sleep study untuk melihat ada tidaknya kondisi sleep apnea. 

- Berkonsultasi dengan beberapa dokter seperti, spesialis gizi, jantung, penyakit dalam, dan anestesi. Dr. Peter juga menambahkan, "Persiapan yang dilakukan, kontrol dokter jantung, penyakit dalam, dokter gigi, dan lain-lain baru bisa diambil tindakan. Dibandingkan dengan OP empedu, badriatrik ini lebih aman. Pasien akan dipersiapkan dengan baik mulai dari USG, endoskopi, ronsen, dan lain-lain sehingga memastikan benar-benar aman."

- Sebelum melakukan proses bedah, pasien diharuskan melakukan persiapan dua minggu diet rendah kalori, lalu diet cair dan bubur dua minggu pasca operasi. 

- Konsumsi lebih banyak protein setelah berhasil melakukan diet agar tubuh tidak menggerogoti protein sendiri, yaitu otot. 
 

Hal yang harus dihindari untuk melakukan metode bariatrik:


- Untuk pasien dengan riwayat penyakit jantung tidak diperbolehkan melakukan tindakan ini

- Pasien dengan benjolan di lambung/saluran pencernaan dan lambung ringkih juga tidak disarankan

- Setelah melakukan bedah bariatrik pasien dilarang untuk memaksa makanan masuk jika belum bisa mengolah makanan dengan tekstur padat dan keras seperti daging, disarankan untuk beradaptasi secara perlahan

- Boleh berolahraga, tetapi harus memiliki tolak ukur sendiri. Jika tubuh sudah merasa tidak enak maka segera hentikan

"Recovery pasien hari kedua boleh pulang. Untuk olahraga, kalau di hari pertama sudah bisa jalan ya silahkan. Kalau di hari ketiga mau jogging silahkan, (nelihat) diri sendiri kalau sudah ngerasa enggak enak ya setop. Orang obesitas disuruh baring malah bahaya," imbuh dr. Peter.


Nandhita Nur Fadjriah
(TIN)

MOST SEARCH