FITNESS & HEALTH

Ini Bedanya Khawatir, Stres, dan Cemas

Kumara Anggita
Jumat 09 Oktober 2020 / 12:03
Jakarta: Perasaan deg-degan, kesal, tidak nyaman, takut sering kita sebut dengan berbagai istilah. Ada yang bilang khawatir, ada yang bilang stres, dan ada juga yang bilang cemas. Apa sih bedanya ketiga hal ini?

Apa itu khawatir?

Dikutip dari The New York Times, khawatir adalah apa yang terjadi ketika kamu  memikirkan pikiran negatif, hasil yang tidak pasti, atau hal-hal yang bisa salah. 

"Khawatir cenderung berulang, pikiran obsesif," kata Melanie Greenberg, psikolog klinis di Mill Valley, California, dan penulis "The Stress-Proof Brain" 

"Itu adalah komponen kognitif dari kecemasan,” lanjutnya. Sederhananya, kekhawatiran hanya terjadi di pikiran kamu, bukan di tubuh kamu.

Cara kerja khawatir

Menurut Luana Marques, seorang profesor psikiatri di Harvard Medical School dan presiden Asosiasi Kecemasan dan Depresi Amerika, khawatir sebenarnya memiliki fungsi penting dalam hidup kita.

Ketika kita memikirkan situasi yang tidak pasti atau tidak menyenangkan seperti tidak dapat membayar sewa, atau mengerjakan ujian dengan buruk, otak kita menjadi terstimulasi. Saat kita khawatir, itu menenangkan otak kita. 

Khawatir juga cenderung membuat kita menyelesaikan masalah atau mengambil tindakan, yang keduanya merupakan hal positif. "Khawatir adalah cara otak kamu menangani masalah agar kamu tetap aman," jelas Dr. Marques.

"Hanya ketika kita terjebak memikirkan masalah, kekhawatiran berhenti berfungsi,” lanjutnya,

Apa itu stres?

Stres adalah respons fisiologis yang terkait dengan peristiwa eksternal. Agar siklus stres dimulai, harus ada pemicu stres. Peristiwa yang dimaksud bisa seperti tenggat waktu kerja atau tes medis yang menakutkan.

"Stres didefinisikan sebagai reaksi terhadap perubahan lingkungan atau kekuatan yang melebihi sumber daya individu," kata Dr. Greenberg.

Cara kerja stres

Pada zaman prasejarah, stres merupakan respons alami terhadap ancaman, seperti mendengar predator di semak-semak. “Ancaman menyalakan sistem limbik kamu dan melepaskan adrenalin dan kortisol, yang membantu mengaktifkan otak dan tubuh kamu untuk menghadapi ancaman,” jelas Dr. Greenberg.

Gejala stres antara lain detak jantung cepat, telapak tangan berkeringat, dan napas pendek.

Kecemasan

Jika stres dan kekhawatiran adalah gejalanya, kecemasan adalah puncaknya. Kecemasan memiliki unsur kognitif (khawatir) dan respons fisiologis (stres), yang berarti bahwa kita mengalami kecemasan baik dalam pikiran maupun tubuh kita. “Dalam beberapa hal," kata Dr. Marques.

“Kecemasan adalah apa yang terjadi saat Anda menghadapi banyak kekhawatiran dan banyak stres,” lanjutnya.

Cara kerja kecemasan

Ketika  stres adalah respons alami terhadap ancaman maka kecemasan adalah hal yang sama namun tanpa ancaman. "Kecemasan dalam beberapa hal adalah respons terhadap alarm palsu," kata Dr. Marques.

Misalnya, kamu mulai mengalami fisiologi respons stres karena kamu mengatakan kepada diri sendiri bahwa atasan kamu kesal denganmy, atau bahwa pekerjaan mu mungkin berisiko. Pikiran ini membuat darah mengalir, adrenalin terpompa, tubuh kamu dalam kondisi berkelahi atau lari.
(YDH)

MOST SEARCH