FITNESS & HEALTH
Cuaca Panas Ekstrem dan Dampaknya terhadap Kesehatan Tubuh
Arif Wicaksono
Selasa 29 September 2026 / 14:54
- Cuaca panas ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi, heat exhaustion, hingga heatstroke dan memperburuk sejumlah penyakit.
- Paparan suhu tinggi membuat tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap normal dan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
- Menjaga tubuh tetap terhidrasi dan mengurangi paparan panas menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan kesehatan.
Jakarta: Cuaca panas ekstrem bukan hanya membuat tubuh terasa gerah. Jika berlangsung cukup lama, suhu tinggi dapat memberikan tekanan pada tubuh dan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut panas sebagai salah satu bahaya lingkungan yang dapat berdampak pada kesehatan. Tubuh akan berusaha mempertahankan suhu normal dengan melepaskan panas, salah satunya melalui keringat. Namun, ketika paparan panas terlalu tinggi, kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri dapat terganggu.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan heat stress atau tekanan panas. Risiko ini semakin besar ketika suhu tinggi disertai kelembapan tinggi, aktivitas fisik berat, atau paparan panas dalam waktu lama.
Paparan panas yang lebih berat dapat menyebabkan heat exhaustion. Kondisi ini biasanya ditandai dengan keringat berlebih, kulit dingin atau lembap, lemas, pusing, mual dan sakit kepala.
Jika tidak segera ditangani, gangguan akibat panas dapat berkembang menjadi heatstroke. WHO menyebut heatstroke sebagai kondisi darurat medis karena tubuh sudah tidak mampu mengendalikan suhu internalnya.
Heatstroke dapat ditandai dengan kebingungan, perubahan kondisi mental, kejang hingga kehilangan kesadaran. Kondisi ini membutuhkan pertolongan medis segera.
Panas ekstrem juga dapat memperburuk penyakit yang sudah dimiliki seseorang. WHO mencatat suhu tinggi dapat meningkatkan risiko pada penderita penyakit kardiovaskular, diabetes, gangguan pernapasan dan penyakit ginjal.
Orang dengan penyakit kronis juga perlu lebih berhati-hati. Begitu pula pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, atlet dan orang yang melakukan olahraga saat cuaca sedang panas.
Di Indonesia, perhatian terhadap dampak kesehatan akibat panas ekstrem juga semakin diperkuat. WHO bersama Kementerian Kesehatan dan sejumlah mitra pada Juli 2026 meluncurkan KATALIS-HEAT untuk membantu memahami risiko kesehatan akibat cuaca panas ekstrem dan mendukung perencanaan aksi terkait panas di Indonesia.
Pertama, cukup minum air dan jangan menunggu sampai rasa haus berlebihan. Aktivitas fisik berat juga sebaiknya dikurangi ketika kondisi sedang sangat panas.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, usahakan mencari tempat teduh dan menggunakan pakaian yang ringan serta longgar. Disarankan juga masyarakat menghindari aktivitas berat pada waktu terpanas dalam sehari.
Rumah juga perlu dijaga agar tetap sejuk. Menutup jendela atau tirai ketika sinar matahari sedang terik dapat membantu mengurangi panas yang masuk ke dalam ruangan.
Jika seseorang menunjukkan tanda heatstroke seperti kebingungan, kejang atau kehilangan kesadaran setelah terpapar panas, segera cari pertolongan medis. Sambil menunggu bantuan, pindahkan orang tersebut ke tempat yang lebih sejuk dan lakukan upaya untuk mendinginkan tubuh.
Cuaca panas ekstrem perlu diwaspadai, terutama jika berlangsung selama beberapa hari. Mengenali gejala sejak awal dan mengurangi paparan panas dapat membantu mencegah kondisi yang lebih serius.
(Ellen Octovia Suherman)
(SAW)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut panas sebagai salah satu bahaya lingkungan yang dapat berdampak pada kesehatan. Tubuh akan berusaha mempertahankan suhu normal dengan melepaskan panas, salah satunya melalui keringat. Namun, ketika paparan panas terlalu tinggi, kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri dapat terganggu.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan heat stress atau tekanan panas. Risiko ini semakin besar ketika suhu tinggi disertai kelembapan tinggi, aktivitas fisik berat, atau paparan panas dalam waktu lama.
Dampak Cuaca Panas Ekstrem bagi Tubuh
Salah satu dampak yang paling umum adalah dehidrasi. Banyak berkeringat membuat tubuh kehilangan cairan dan elektrolit. Jika cairan yang hilang tidak segera digantikan, seseorang dapat merasa haus, lemas, pusing, sakit kepala hingga mengalami kram otot.Paparan panas yang lebih berat dapat menyebabkan heat exhaustion. Kondisi ini biasanya ditandai dengan keringat berlebih, kulit dingin atau lembap, lemas, pusing, mual dan sakit kepala.
Jika tidak segera ditangani, gangguan akibat panas dapat berkembang menjadi heatstroke. WHO menyebut heatstroke sebagai kondisi darurat medis karena tubuh sudah tidak mampu mengendalikan suhu internalnya.
Heatstroke dapat ditandai dengan kebingungan, perubahan kondisi mental, kejang hingga kehilangan kesadaran. Kondisi ini membutuhkan pertolongan medis segera.
Panas ekstrem juga dapat memperburuk penyakit yang sudah dimiliki seseorang. WHO mencatat suhu tinggi dapat meningkatkan risiko pada penderita penyakit kardiovaskular, diabetes, gangguan pernapasan dan penyakit ginjal.
Siapa yang Lebih Rentan?
Dampak panas tidak selalu sama pada setiap orang. Lansia, bayi dan anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami gangguan akibat suhu tinggi.Orang dengan penyakit kronis juga perlu lebih berhati-hati. Begitu pula pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, atlet dan orang yang melakukan olahraga saat cuaca sedang panas.
Di Indonesia, perhatian terhadap dampak kesehatan akibat panas ekstrem juga semakin diperkuat. WHO bersama Kementerian Kesehatan dan sejumlah mitra pada Juli 2026 meluncurkan KATALIS-HEAT untuk membantu memahami risiko kesehatan akibat cuaca panas ekstrem dan mendukung perencanaan aksi terkait panas di Indonesia.
Cara Mengurangi Risiko Saat Cuaca Panas
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan akibat panas.Pertama, cukup minum air dan jangan menunggu sampai rasa haus berlebihan. Aktivitas fisik berat juga sebaiknya dikurangi ketika kondisi sedang sangat panas.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, usahakan mencari tempat teduh dan menggunakan pakaian yang ringan serta longgar. Disarankan juga masyarakat menghindari aktivitas berat pada waktu terpanas dalam sehari.
Rumah juga perlu dijaga agar tetap sejuk. Menutup jendela atau tirai ketika sinar matahari sedang terik dapat membantu mengurangi panas yang masuk ke dalam ruangan.
Jika seseorang menunjukkan tanda heatstroke seperti kebingungan, kejang atau kehilangan kesadaran setelah terpapar panas, segera cari pertolongan medis. Sambil menunggu bantuan, pindahkan orang tersebut ke tempat yang lebih sejuk dan lakukan upaya untuk mendinginkan tubuh.
Cuaca panas ekstrem perlu diwaspadai, terutama jika berlangsung selama beberapa hari. Mengenali gejala sejak awal dan mengurangi paparan panas dapat membantu mencegah kondisi yang lebih serius.
(Ellen Octovia Suherman)
(SAW)