FITNESS & HEALTH
Bukan Cuma Gaya! Latihan Angkat Beban Bisa Turunkan Risiko Osteoporosis
Aulia Putriningtias
Jumat 30 Oktober 2026 / 14:28
- Osteoporosis merupakan salah satu penyakit yang tidak pernah terlihat gejala awalnya.
- Untuk mencegahnya, bisa melakukan olahraga angkat beban.
- Pembentukan tulang yang optimal terjadi sejak usia muda hingga mencapai puncak sekitar usia 30-an.
Jakarta: Osteoporosis merupakan salah satu penyakit yang tidak pernah terlihat gejala awalnya. Untuk mencegahnya, bisa melakukan olahraga angkat beban, loh!
International Osteoporosis Foundation (IOF) menvebutkan bahwa satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia 50 tahun ke atas akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidupnya.
Risiko ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan penanganan osteoporosis untuk mencegah patah tulang yang dapat mengganggu mobilitas, kemandirian, dan kualitas hidup.
Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, dr. Henry Suhendra dari Siloam Hospitals Mampang menjelaskan bahwa kepadatan tulang memiliki masa puncak sebelum akhirnya mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.
“Semakin tebal tulang saat mencapai puncaknya, maka ketika mengalami penurunan di usia lanjut, kondisi tulang masih bisa tetap baik,” ujar dr. Henry saat acara edukasi kesehatan bertajuk “Timeless Music to Timeless Movement! Celebrating Osteoporosis Day” di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.
Pembentukan tulang yang optimal terjadi sejak usia muda hingga mencapai puncak sekitar usia 30-an. Kebiasaan olahraga sejak dini menjadi faktor penting untuk membangun cadangan kepadatan tulang.
Pada perempuan, risiko osteoporosis meningkat setelah memasuki masa menopause karena adanya perubahan hormon. Sementara itu, osteoporosis primer dikenal sebagai silent disease karena sering tidak menunjukkan gejala hingga seseorang mengalami jatuh dan patah tulang.
Dr. Henry menegaskan bahwa pentingnya latihan angkat beban. Bukan sekadar gaya saja, melainkan otot akan menarik tulang ketika latihan beban, sehingga memberikan stimulus untuk mempertahankan kepadatannya.
"Kalau otot dilatih, otot menjadi lebih kuat dan menarik tulang. Itu membuat tulang mendapatkan rangsangan untuk menjadi lebih tebal,” jelasnya.
Selain menyeimbangkan antara latihan beban dan kardio, pentingnya untuk tetap diet seimbang. Semakin bertambah usia, seseorang cenderung kehilangan massa otot apabila tidak rutin beraktivitas. Kondisi tersebut dapat membuat tulang semakin lemah karena kehilangan dukungan dari otot.
Rumah sakit ini pun turut mengembangkan tujuh program skrining dan pemeriksaan. Hal ini untuk membantu masyarakat mengenali gangguan tulang, sendi, dan fungsi gerak lebih awal.
Salah satunya adalah Fracture Liaison Service (FLS), yang merupakan pendekatan layanan terkoordinasi untuk mengidentifikasi pasien dengan riwayat patah tulang akibat kerapuhan, mengevaluasi risiko osteoporosis, serta mengarahkan penanganan dan tindak lanjut yang sesuai.
Masuknya Siloam Hospitals Mampang dalam peta global Capture the FractureR dengan status NEW FLS (Blue Star) menandai tahap awal pengembangan layanan tersebut sekaligus menjadi acuan untuk meningkatkan kualitas praktik secara bertahap.
Program lainnya adalah Skrining Osteoporosis, melalui pemeriksaan kepadatan tulang (BMD/Bone Mineral Density) dan konsultasi dokter orthopaedi; Skrining Osteoartritis Lutut, melalui pemeriksaan rontgen dan konsultasi dokter subspesialis panggul dan lutut, dengan opsi MRI sesuai kebutuhan klinis; Skrining Nyeri Punggung Bawah, melalui pemeriksaan rontgen, MRI lumbal, dan konsultasi dokter subspesialis tulang belakang sesuai indikasi.
Kemudian, Skrining Nyeri Bahu, melalui pemeriksaan rontgen, USG, dan konsultasi dokter subspesialis bahu dan siku sesuai indikasi; serta Skrining Kaki dan Pergelangan Kaki, melalui pemeriksaan rontgen dan konsultasi dokter subspesialis terkait.
"Kami ingin masyarakat melihat lavanan orthopaedi bukan hanva sebagai tempat untuk datang ketika mengalami cedera atau membutuhkan operasi," imbuh Executive Director Siloam Hospitals Mampang, Ratih Hadiwinoto.
(TIN)
International Osteoporosis Foundation (IOF) menvebutkan bahwa satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia 50 tahun ke atas akan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidupnya.
Baca Juga :
Bagaimana Sih Penanganan Osteoporosis?
Risiko ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan penanganan osteoporosis untuk mencegah patah tulang yang dapat mengganggu mobilitas, kemandirian, dan kualitas hidup.
Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, dr. Henry Suhendra dari Siloam Hospitals Mampang menjelaskan bahwa kepadatan tulang memiliki masa puncak sebelum akhirnya mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.
“Semakin tebal tulang saat mencapai puncaknya, maka ketika mengalami penurunan di usia lanjut, kondisi tulang masih bisa tetap baik,” ujar dr. Henry saat acara edukasi kesehatan bertajuk “Timeless Music to Timeless Movement! Celebrating Osteoporosis Day” di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.
Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, dr. Henry Suhendra. Dok. Medcom/Aulia.
Pembentukan tulang yang optimal terjadi sejak usia muda hingga mencapai puncak sekitar usia 30-an. Kebiasaan olahraga sejak dini menjadi faktor penting untuk membangun cadangan kepadatan tulang.
Pada perempuan, risiko osteoporosis meningkat setelah memasuki masa menopause karena adanya perubahan hormon. Sementara itu, osteoporosis primer dikenal sebagai silent disease karena sering tidak menunjukkan gejala hingga seseorang mengalami jatuh dan patah tulang.
Dr. Henry menegaskan bahwa pentingnya latihan angkat beban. Bukan sekadar gaya saja, melainkan otot akan menarik tulang ketika latihan beban, sehingga memberikan stimulus untuk mempertahankan kepadatannya.
"Kalau otot dilatih, otot menjadi lebih kuat dan menarik tulang. Itu membuat tulang mendapatkan rangsangan untuk menjadi lebih tebal,” jelasnya.
Selain menyeimbangkan antara latihan beban dan kardio, pentingnya untuk tetap diet seimbang. Semakin bertambah usia, seseorang cenderung kehilangan massa otot apabila tidak rutin beraktivitas. Kondisi tersebut dapat membuat tulang semakin lemah karena kehilangan dukungan dari otot.
Rumah sakit ini pun turut mengembangkan tujuh program skrining dan pemeriksaan. Hal ini untuk membantu masyarakat mengenali gangguan tulang, sendi, dan fungsi gerak lebih awal.
Salah satunya adalah Fracture Liaison Service (FLS), yang merupakan pendekatan layanan terkoordinasi untuk mengidentifikasi pasien dengan riwayat patah tulang akibat kerapuhan, mengevaluasi risiko osteoporosis, serta mengarahkan penanganan dan tindak lanjut yang sesuai.
Masuknya Siloam Hospitals Mampang dalam peta global Capture the FractureR dengan status NEW FLS (Blue Star) menandai tahap awal pengembangan layanan tersebut sekaligus menjadi acuan untuk meningkatkan kualitas praktik secara bertahap.
Program lainnya adalah Skrining Osteoporosis, melalui pemeriksaan kepadatan tulang (BMD/Bone Mineral Density) dan konsultasi dokter orthopaedi; Skrining Osteoartritis Lutut, melalui pemeriksaan rontgen dan konsultasi dokter subspesialis panggul dan lutut, dengan opsi MRI sesuai kebutuhan klinis; Skrining Nyeri Punggung Bawah, melalui pemeriksaan rontgen, MRI lumbal, dan konsultasi dokter subspesialis tulang belakang sesuai indikasi.
Kemudian, Skrining Nyeri Bahu, melalui pemeriksaan rontgen, USG, dan konsultasi dokter subspesialis bahu dan siku sesuai indikasi; serta Skrining Kaki dan Pergelangan Kaki, melalui pemeriksaan rontgen dan konsultasi dokter subspesialis terkait.
"Kami ingin masyarakat melihat lavanan orthopaedi bukan hanva sebagai tempat untuk datang ketika mengalami cedera atau membutuhkan operasi," imbuh Executive Director Siloam Hospitals Mampang, Ratih Hadiwinoto.
(TIN)