Tarian Tanoura Salah Satu Persembahan Cinta Kepada Tuhan
Jakarta: Kamu pasti pernah melihat tarian Sufi, paling tidak di televisi. Menggunakan jubah lebar berwarna putih, topi yang memanjang ke atas. Mereka berputar selama musik berlangsung. Hampir mirip dengan tarian Sufi, Tanoura juga dilakukan dengan cara berputar.
Perbedaannya adalah kostum tarian Sufi yang hanya memakai jubah berwarna putih, sedangkan Tanoura memakai baju putih yang dilengkapi juga dengan lampu yang berwarna-warni berkelap-kelip sepanjang pertunjukan. Sering juga bagian roknya bermotif atau berwarna-warni.
Sejarah Tari Tanoura
Diawali oleh Jalal ad-Din Muhammad Rumi yang lebih dikenal dengan sebutan Rumi (Jalaludin Rumi) di tahun 1207, seorang pujangga Muslim, sarjana ilmu keislaman, teolog, serta sufi mistikahli hukum yang menciptakan gerakan tarian sufi sebagai bagian dari persembahan hamba kepada Tuhan melalui tarian yang di dalamnya mengalir zikir.
Perkembangan tarian Tanoura memiliki napas yang sama, namun dengan dekorasi lampu yang digunakan sebagai salah satu pertunjukan atau hiburan bukan digunakan untuk tujuan keagamaan.
("Tarian Sufi adalah tarian tradisional yang berasal dari Turki, menggunakan hanya baju berwarna putih. Sedangkan Tanoura berasal dari Mesir dan baju yang bercorak dan berwarna-warni," ucap Mokhtar. Foto: Dok. Instagram Mokhtar Hakim/@mokhtar_hakim)
Tarian yang berfilosofi
Gerakan tarian Tanoura tidak sedikitpun membuat pelakunya jatuh pingsan. Ternyata menurut Mokhtar Abdelhakim Helal Mohamed atau yang biasa disapa Mokhtar Hakim, seorang Tanoura Dancer dari Arabian Adventures Travel Company (bagian dari Emirates Group) di Dubai UEA mengatakan ada trik tersendiri agar penarinya tidak merasakan pusing.
"Tarian Sufi adalah tarian tradisional yang berasal dari Turki, menggunakan hanya baju berwarna putih. Sedangkan Tanoura berasal dari Mesir dan baju yang bercorak dan berwarna-warni," ucap Mokhtar.
"Jika kamu melihat dengan detail, kaki kiri kami tak banyak bergerak, yang menggerakkan adalah kaki kanan kami. Kami berputar ke arah kanan yaitu melawan arah jarum jam. Ini juga salah satu cara agar kamu tidak pusing," ujar laki-laki yang sudah menari sejak usianya tiga tahun ini.
Dipercaya juga tarian dengan gerakan berputar itu menunjukkan bahwa di dunia selalu dimulai pada suatu titik tertentu dan akan berbentuk lingkaran, lalu akan semakin cepat pada satu titik terang tertentu. Saat itu pula kemudian tubuh akan bertambah ringan untuk naik ke Tuhan.
"Mata tetap melihat pada satu titik, jika di tarian Sufi pandangan mata kamu tertuju pada tangan kanan yang mengarah ke atas dan di titik itulah penari melihat sembari berzikir. Tak pernah mata kami tertutup ketika melakukan tarian ini," ucap suami dari Mai ini.
"Jangan pernah menggoyangkan kepala ketika sedang menari ini baik menunduk, menggeleng, atau mengangguk karena akan terasa pusing," papar Mokhtar.
Menurut Mokhtar, napas yang sama dari dua tarian ini adalah berputar yang memunyai filosofi bumi ciptaan Tuhan yang selalu berputar.
Dan perbedaannya dalam tarian Tanoura yang berarti "Rok" ini penari berputar dan mengekspresikan dengan gerakan ceria dan musik meriah, biasanya dilakukan oleh rakyat pada saat festival sufi di Mesir.
(Tak pernah sehari pun Mokhtar tak menari dalam puluhan tahun selama hidupnya hingga saat ini. Dampak virus corona sempat membuatnya berhenti menari karena sektor pariwisata yang belum kondusif. Saat ini, katanya "I will live soon (di Arabian Adventures Travel Company)." Foto: Dok. Instagram Mokhtar Hakim/@mokhtar_hakim)
'No love no movement'
Tak pernah sehari pun Mokhtar tak menari dalam puluhan tahun selama hidupnya hingga saat ini. Namun sesaat, 'badai corona' di hampir lebih dari 200 negara sempat memaksanya untuk tak 'berputar dalam cinta'. Namun, dalam hari demi hari Dubai bangkit dan saat ini pertunjukan cantik Mokhtar bisa kembali ada. "I will live soon," ucapnya singkat dalam pesan WhatsApp pada Gaya.id.
Kala ia mempersembahkan tariannya, tak pernah henti memukau siapa pun yang melihatnya. Diiringi musik bab yang punya bit tinggi, Mokhtar berputar menaikkan lapisan baju paling atasnya yang sudah menyala ke atas kepala hingga terlihat seperti potongan pizza raksasa.
Memegang rebana atau rok dengan total berat yang bisa mencapai hingga 25 kilogram membuatnya sudah jatuh hati.
Ia berkata, "Sejak saya di sekolah dasar, semua orang mengatakan ingin jadi insinyur, dokter, pengusaha, tapi saya tidak. Sejak mata saya melihat ayah saya Hakim melakukan tarian yang begitu membius mata ini, saya hampir tak mau mencari cita-cita yang lainnya selain menjadi penari Tanoura," ungkap ayah dua orang anak ini.
"Tak akan ada gerakan jika tak ada cinta, no love no movement," ungkap Mokhtar dengan sungguh-sungguh.
"Musik ini, gerakan ini begitu indah yang menjadikan saya jatuh hati dan tak pernah absen sehari pun untuk tak melakukan tarian ini," tambah Mokhtar. Walau sempat beberapa waktu berhenti karena pandemi corona atau covid-19, tapi harapnya Dubai dapat segera cepat 'pulih' agar pariwisata pun dapat bangkit kembali.
Ia terkenang akan kesan pertama kali melakukan Tanoura. "Saat memulainya pertama kali rasa pusing wajar terasa, namun ketika kamu bisa mengontrol level pusing kamu, maka pusing akan tidak terasa lagi."
"Ini karena kamu larut dalam musik dan gerakan kamu. Saya berdoa pada Tuhan setiap kali sebelum melakukan tarian Tanoura dan meyakinkan bahwa tarian yang punya nilai agung dan menjadi hiburan bagi banyak orang ini membawa keindahan serta kegembiraan bagi siapa pun yang melihatnya."
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)