Udah Putus, Kok Masih Sakit? Ini yang Sebenarnya Hilang
- Patah hati nggak cuma berkaitan dengan kehilangan pasangan, tapi juga rutinitas dan rasa aman.
- Hubungan yang berakhir bisa membuat seseorang kehilangan bayangan tentang masa depan yang sebelumnya sudah dibangun.
- Proses pulih membutuhkan waktu dan kesempatan untuk membangun kembali kehidupan setelah putus.
Jakarta: Udah putus, tapi kok masih sakit? Padahal hubungan udah selesai, chat udah nggak ada, dan hidup masing-masing juga mulai jalan. Tapi tiba-tiba satu lagu, tempat, atau hal kecil bisa bikin semua perasaan balik lagi.
Ternyata, yang bikin patah hati terasa berat nggak selalu cuma karena kehilangan orang yang disayang. Ada rutinitas, rasa aman, kedekatan, sampai bayangan masa depan yang ikut berubah ketika sebuah hubungan berakhir.
Dalam artikel Psychology Today berjudul Why Breakups Are So Hard to Let Go yang terbit pada t 2026, Sefik Tagay, Ph.D., profesor psikologi di TH Köln, Jerman, menjelaskan bahwa putus cinta bisa mengganggu beberapa kebutuhan psikologis seseorang.
.jpg)
Seseorang yang masih merasakan kehilangan setelah putus cinta. (Foto: AI Generated)
Rutinitas dan rasa aman ikut hilang
Coba ingat lagi kehidupan saat masih pacaran. Ada orang yang biasanya jadi tempat cerita, chat sebelum tidur, agenda weekend, sampai kebiasaan kecil yang cuma kalian berdua pahami.
Begitu hubungan selesai, pola hidup itu ikut berubah.
Menurut Tagay, hubungan romantis bisa memenuhi kebutuhan seperti rasa aman, kedekatan, rasa memiliki, penghargaan diri, dan perasaan punya kendali atas hidup. Ketika hubungan berakhir, kebutuhan tersebut bisa ikut terganggu.
Makanya, rasa kehilangan setelah putus kadang terasa lebih besar dari sekadar kehilangan pasangan. Kamu juga sedang beradaptasi dengan kehidupan yang mendadak berbeda.
Bayangan masa depan juga ikut kandas
Bukan cuma kehidupan sehari-hari yang berubah. Masa depan yang sebelumnya dibayangkan bersama juga bisa ikut hilang.
Dalam artikel Psychology Today berjudul Why Breakups Hurt More Than You Expect, Monica Vilhauer, Ph.D., menjelaskan bahwa seseorang bisa berduka atas masa depan yang tadinya sudah dibayangkan bersama pasangan.
Misalnya, rencana traveling, tinggal di kota yang sama, menikah, atau sekadar membayangkan hubungan tersebut bakal terus berjalan.
Jadi, kalo setelah putus kamu merasa sedih karena sesuatu yang bahkan belum terjadi, perasaan itu tetap masuk akal. Yang diratapi bisa jadi adalah kemungkinan hidup yang sekarang nggak akan terjadi.
Terus, gimana cara mulai pulih?
Nggak ada deadline untuk move on. Setiap orang punya proses yang berbeda, dan memaksa diri cepat lupa justru nggak selalu membantu.
Tagay menjelaskan bahwa pemulihan berkaitan dengan membangun kembali rasa punya kendali atas hidup. Rutinitas baru, aktivitas yang disukai, teman, dan lingkungan sosial bisa membantu seseorang punya kembali ruang hidup di luar hubungan.
Pelan-pelan, kehidupan yang tadinya terasa kosong mulai punya bentuk baru.
Jadi, kalo sekarang masih sakit, mungkin kamu nggak cuma sedang kehilangan seseorang. Kamu juga sedang belajar menjalani hidup yang bentuknya sudah berubah.
Dan proses itu memang butuh waktu.
Desi I.
(FIR)