FAMILY

Pantau Pertumbuhan Anak Secara Rutin, Kenali Tanda Gangguan Sejak Dini

Elang Riki Yanuar
Selasa 22 September 2026 / 14:00
Ringkasnya gini..
  • Pemantauan tinggi badan secara rutin membantu orang tua mengenali pola pertumbuhan anak dan menentukan kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
  • Perawakan pendek pada anak tidak selalu berkaitan dengan nutrisi atau stunting, tetapi dapat dipengaruhi faktor hormonal, genetik, dan kondisi medis.
  • Pengalaman Merien menunjukkan pengukuran rutin dapat membantu menemukan gangguan pertumbuhan lebih awal dan mendorong keluarga mencari evaluasi medis.
Jakarta: Memantau pertumbuhan anak secara rutin menjadi salah satu langkah penting yang dapat dilakukan orang tua untuk mengenali perubahan pola tumbuh kembang sejak dini. Pengukuran tinggi badan secara berkala dapat memberikan gambaran mengenai laju pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.

Selama ini, pembahasan mengenai pertumbuhan anak di Indonesia kerap dikaitkan dengan stunting dan pemenuhan nutrisi. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 19,8 persen.

Namun, persoalan pertumbuhan anak memiliki cakupan yang lebih luas. Perawakan pendek atau short stature tidak selalu disebabkan oleh masalah nutrisi. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan gangguan hormon, faktor genetik, maupun penyakit kronis tertentu.

Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi dan Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global, mengatakan orang tua perlu melihat pertumbuhan anak secara berkelanjutan, bukan hanya berdasarkan hasil pengukuran pada satu waktu.

“Perawakan pendek pada anak dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, sehingga tidak dapat serta-merta disamakan dengan stunting atau hanya dianggap sebagai masalah nutrisi. Selain faktor nutrisi, perawakan pendek juga dapat berkaitan dengan gangguan hormonal, kondisi genetik, hingga penyakit kronis,” kata Prof. Aman.

Beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan perawakan pendek antara lain Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), dan hipotiroidisme. Faktor genetik seperti Sindrom Turner juga dapat berperan, sementara pada sebagian anak penyebab perawakan pendek tidak dapat diketahui secara spesifik meski telah menjalani evaluasi menyeluruh atau dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS).

Karena itu, pengukuran tinggi badan secara rutin menjadi bagian yang dapat dilakukan keluarga untuk mengenali pola pertumbuhan anak. Prof. Aman menekankan pentingnya memperhatikan perubahan tinggi badan dari waktu ke waktu.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya tinggi badan anak pada satu waktu, tetapi bagaimana pertumbuhannya dari waktu ke waktu. Apabila terdapat pola pertumbuhan yang berbeda dari yang diharapkan, orang tua dapat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut dan penanganan yang sesuai," katanya.

Perhatian terhadap pertumbuhan anak juga tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Gangguan pertumbuhan dapat memengaruhi aspek psikososial, termasuk ketika anak merasa berbeda dari teman sebaya, mengalami penurunan kepercayaan diri, atau menghadapi risiko perundungan.

Pengalaman tersebut dirasakan Merien Frentinia, orang tua dari anak dengan GHD. Kekhawatiran mulai muncul ketika dia melihat pertumbuhan putri bungsunya yang saat itu berusia 7 tahun dan duduk di kelas satu SD berbeda dibandingkan dengan teman-teman seusianya.

Hal yang kemudian menarik perhatian keluarga adalah hasil pengukuran tinggi badan di sekolah. Berdasarkan pengamatan putri sulungnya, tinggi badan sang adik tercatat tetap berada di angka 113 sentimeter selama pengukuran bulanan dalam satu tahun.
 
Foto 1a


Temuan tersebut membuat Merien dan keluarga memutuskan mencari informasi lebih lanjut serta berkonsultasi dengan Prof. Aman. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, putrinya kemudian didiagnosis mengalami GHD dan membutuhkan terapi hormon pertumbuhan.

“Saat itu saya sempat berpikir, apakah terlalu cepat untuk bertemu Prof. Aman. Namun, kami memilih untuk segera berdiskusi dan mencari tahu lebih lanjut. Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan, putri bungsunya kemudian didiagnosis mengalami GHD dan membutuhkan terapi hormon pertumbuhan,” ujar Merien.

Putri Merien mulai menjalani terapi sejak kelas dua SD dan kini telah duduk di kelas lima SD. Menurut Merien, selama sekitar tiga tahun menjalani terapi, tinggi badan putrinya bertambah sekitar satu sentimeter setiap bulan. Dia juga melihat perubahan pada kepercayaan diri sang anak.

Bagi Merien, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa orang tua perlu lebih peka terhadap pola pertumbuhan anak. Ketika menemukan perubahan yang dianggap perlu diperhatikan, keluarga dapat mencari informasi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memahami kondisi anak.

Upaya meningkatkan pemahaman mengenai pertumbuhan anak juga dilakukan Merck melalui edukasi berkelanjutan. Salah satunya dengan menghadirkan laman interaktif takartinggi.com yang dapat digunakan sebagai sarana bagi orang tua untuk memantau pertumbuhan anak secara rutin.

Laman tersebut membantu orang tua melihat potensi pertumbuhan anak dengan mempertimbangkan tinggi badan orang tua. Selain itu, Merck memperkenalkan buku cerita anak berjudul Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa sebagai media edukasi yang dapat digunakan keluarga untuk mengenalkan isu pertumbuhan anak dengan cara yang lebih mudah dipahami.

Presiden Direktur PT Merck Tbk Evie Yulin mengatakan edukasi mengenai pertumbuhan anak perlu dilakukan secara berkelanjutan agar orang tua dapat memahami pola pertumbuhan dan mengenali potensi gangguan sejak dini.

"Bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk media dan komunitas, kami mendorong pemahaman masyarakat tentang pentingnya memantau pertumbuhan anak secara rutin dan mengenali potensi gangguan, termasuk perawakan pendek (short stature), sejak dini. Kami berharap edukasi ini membantu lebih banyak orang tua memahami pola pertumbuhan anak dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan," kata Evie.

Kehadiran sarana edukasi tersebut menempatkan pemantauan pertumbuhan sebagai aktivitas yang dapat dilakukan keluarga dalam keseharian. Dengan pencatatan tinggi badan secara berkala, orang tua memiliki informasi yang lebih lengkap mengenai perubahan pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.

“Kami percaya edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan dapat membantu membangun pemahaman serta kewaspadaan yang lebih baik mengenai gangguan pertumbuhan anak. Melalui berbagai upaya ini, Merck berharap semakin banyak anak-anak Indonesia yang dapat tumbuh dengan optimal sesuai dengan potensinya,” tutup Evie Yulin.









 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)

MOST SEARCH