End Google Analytics -->
FAMILY

Literasi Digital Tak Bisa Lagi Sekedar Membaca, Tapi Harus Mencipta

K. Yudha Wirakusuma
Rabu 25 Mei 2022 / 16:03
Jakarta: Meningkatkan kemampuan literasi pada anak tidak hanya untuk membantu kemampuan membaca dan menulis. Namun juga untuk belajar mengenal kata, bahasa, mengenali dan memahami berbagai ide atau informasi yang disampaikan. Mengembangkan kemampuan literasi pada anak sejak dini merupakan modal yang baik bagi anak dalam menghadapi masa mendatang. 

Kemampuan literasi juga akan membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir secara kritis dan logis dalam menghadapi berbagai situasi. Semakin tinggi kemampuan literasi yang dimiliki anak akan membantunya dalam menerima dan mengolah informasi sehingga anak dapat menyimpulkan dan memecahkan masalah dalam menyikap infomasi yang diterima. Kemampuan ini dapat didapatkan baik dari buku, suara, video, dan sumber informasi lainnya.

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando menuturkan, transformasi digital menjadi tagline utama tahun ini mengarahkan kepada upaya Perpusnas menyediakan konten-konten yang bisa diakses secara mudah dari mana saja dan kapan saja. Selain itu juga memudahkan siapa saja untuk mendapatkan ruang pembelajaran baru, memfasilitasi para konten kreator, dan mengumpulkan berbagai konten legal dari seluruh kementerian/lembaga yang bisa diakses masyarakat.

"Perpustakaan sebagai sumber informasi bisa memiliki sebanyak mungkin data dan informasi yang bisa di-share secara legal kepada masyarakat. Saat ini perpustakaan harus bisa memberikan tutorial untuk memberikan ruang dan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam menciptakan lapangan kerja, terutama bagi mereka yang terdampak pandemi," kata Syarif Bando.

Dia melanjutkan bahwa literasi digital yang digalang Perpusnas ini adalah kebutuhan yang urgent. Urgensinya bukan hanya sebagai pusat data dan informasi, namun juga bergerak maju mencapai lima tingkatan literasi.Selain kemampuan baca, tulis dan hitung, gerakan literasi juga harus menyediakan akses terhadap bahan bacaan yang semakin luas.


Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando (Foto:Istimewa)

Lanjutnya, literasi juga harus mencapai tahapan memahami semua yang tersirat dan tersurat, lalu bisa melakukan inovasi pada produk yang sudah ada, lalu tiba pada level puncak yaitu literasi mampu membawa masyarakat sampai pada tingkatan bisa menciptakan barang dan jasa secara mandiri.

"Literasi digital ini sangat penting, karena di negara-negara maju, mereka sudah tidak lagi bicara kegemaran membaca dan akses kepada buku. Mereka sudah menciptakan teknologi baru yang mendunia," ungkapnya.

Menemani Kepala Perpusnas, hadir pula Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, yang selama ini concern keberpihakan dan perhatian yang tinggi dalam gerakan literasi dan budaya baca Indonesia.

Syaiful Huda menyebutkan bahwa media literasi akan selalu mengikuti zamannya. Jika dulu, literasi menggunakan media kulit hewan hingga lempeng batu misalnya, zaman kemudian jauh membawa literasi dalam bentuk buku. Kini, internet sudah menjadi kebutuhan wajib masyarakat. Maka, gerakan literasi haruslah ada didalamnya, agar perpustakaan selalu relevan dimata publik. Salah satunya adalah literasi melalui audio.

"Perpusnas sudah melakukan ini sejak lama. Dengan digitalisasi konten, bahkan mendorong perluasan jejaringnya ke seluruh unit perpustakaan daerah-daerah," kata Syaiful Huda.
Mendukung pentingnya gerakan literasi digital ini, Syaiful Huda yang mewakili lembaga legislatif DPR RI, memberi dukungan yang serius bagi usaha Perpusnas dalam usaha mencerdaskan anak bangsa ini.

Syaiful Huda menginginkan gerakan literasi sebagai usaha kolaboratif lintas sektor, termasuk kementerian dan lembaga dari pusat sampai desa. Pihaknya juga selama ini selalu mengafirmasi agar Perpusnas mendapatkan porsi budgeting yang memadai, untuk melaksanakan mandatori Presiden terkait penyiapan SDM Indonesia unggul.

"Kami sering mengetuk pintu, termasuk ke Kementerian Keuangan untuk membantu. Gerakan literasi ini bukanlah gerakan istant, tapi ini jangka panjang. Apalagi, literasi saat ini bukan hanya sekedar membaca dan mengambil inspirasinya, tapi sudah harus menciptakan sesuatu," katanya.
(YDH)

MOST SEARCH