FAMILY

Sering Ribut dengan Adik? Ini 6 Alasan Kakak Biasanya Lebih Mudah Marah

Fatha Annisa
Minggu 27 September 2026 / 17:03
Ringkasnya gini..
  • Kakak yang sering marah tidak selalu disebabkan oleh urutan kelahiran, tetapi bisa dipengaruhi tanggung jawab, pola asuh, dan dinamika dengan adik.
  • Konflik yang berulang, perbedaan perlakuan, serta batasan pribadi yang sering dilanggar dapat membuat rasa frustrasi semakin menumpuk.
  • Jika kekesalan tidak disampaikan dengan baik, masalah yang sama dapat terus muncul dan memicu pertengkaran antara kakak dan adik.
Jakarta: Pernah merasa kakak di rumah lebih mudah marah dibandingkan anggota keluarga lainnya? Hal-hal kecil seperti adik mengambil barang tanpa izin, mengganggu aktivitas, atau tidak mengikuti aturan terkadang bisa memicu pertengkaran.
 
Pada dasarnya, kebiasaan mudah marah tidak serta-merta disebabkan oleh posisi sebagai anak sulung. Konflik kakak-adik juga bukan ada karena mereka tidak menyayangi satu sama lain.
 
Hubungan kakak-adik dipengaruhi berbagai faktor, termasuk perbedaan usia, pola asuh, karakter masing-masing, serta bagaimana setiap anak memandang perlakuan orang tua terhadap dirinya dan sang saudara.
 
Sejumlah penelitian pun menunjukkan bahwa dinamika tersebut lebih kompleks daripada sekadar urutan kelahiran. Lantas, mengapa seorang kakak bisa terlihat lebih mudah kesal kepada adiknya?
   

1. Merasa Punya Tanggung Jawab Lebih Besar

Anak yang lebih tua terkadang mendapatkan tanggung jawab atau ekspektasi yang berbeda dari adiknya. Mereka dapat diminta membantu orang tua, menjadi contoh, atau lebih mandiri dalam melakukan berbagai hal.
 
Penelitian berjudul Sibling Differences and Parents' Differential Treatment of Siblings: A Multilevel Meta-Analysis, yang diterbitkan di Developmental Psychology, menunjukkan bahwa perbedaan usia antarsaudara berkaitan dengan perbedaan perlakuan orang tua, terutama dalam hal kontrol dan pemberian otonomi.
 
Semakin jauh jarak usia, semakin besar kemungkinan orang tua memberikan tingkat otonomi yang berbeda kepada anak. Artinya, kakak bisa mendapatkan kebebasan sekaligus tuntutan yang berbeda karena usianya lebih tua.
 
Meskipun penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa perbedaan perlakuan ini secara langsung membuat kakak lebih pemarah, beban tanggung jawab maupun ekspektasi yang lebih besar kerap membuat seseorang menjadi lebih sensitif.
 

2. Merasa Harus Jadi Contoh bagi Adik

Kakak juga dapat berada dalam posisi yang berbeda karena menjadi anak yang lebih tua dalam keluarga. Perannya tidak hanya sebagai saudara, tetapi terkadang juga menjadi salah satu ‘contoh’ bagi adiknya.
 
Penelitian lain berjudul Mothers', Fathers', and Siblings' Perceptions of Parents' Differential Treatment of Siblings: Links with Family Relationship Qualities menemukan kemungkinan adanya semacam hierarki dalam keluarga, ketika orang tua menjadi acuan bagi anak sulung dan anak sulung menjadi acuan bagi adiknya.
 
Kondisi tersebut tidak berarti kakak pasti merasa terbebani. Namun, ketika tuntutan untuk menjadi contoh bertemu dengan konflik atau perbedaan perlakuan, hubungan dengan adik dapat menjadi lebih rumit.
   

3. Konflik dengan Adik Berlangsung Berulang

Kemarahan seorang kakak juga bisa berkaitan dengan konflik yang terus berulang dalam hubungan saudara. Pertengkaran mengenai barang, ruang pribadi, aturan rumah, atau perhatian orang tua dapat menumpuk jika tidak terselesaikan.
 
Akibatnya, reaksi kakak pada kejadian berikutnya mungkin menjadi lebih besar meskipun pemicunya terlihat sepele. Dalam kondisi seperti ini, kemarahan kakak bukan hanya respons terhadap kejadian yang baru saja terjadi, melainkan rasa frustrasi dari berbagai kejadian sebelumnya yang belum benar-benar selesai.
 

4. Merasa Diperlakukan Berbeda dari Adik

Perasaan diperlakukan berbeda juga dapat menjadi sumber ketegangan di antara saudara. Misalnya, kakak merasa memiliki aturan lebih ketat, sementara adiknya mendapatkan lebih banyak kelonggaran.
 
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Marriage and Family menunjukkan adanya hubungan antara perlakuan orang tua yang berbeda terhadap anak dan kualitas hubungan antarsaudara.
 
Anak yang mengalami penurunan kehangatan hubungan dengan orang tua dibandingkan saudaranya melaporkan peningkatan gejala depresi serta penurunan kehangatan dengan saudara. Penelitian ini juga menemukan bahwa urutan kelahiran memoderasi hubungan antara perlakuan orang tua yang berbeda dan hubungan antarsaudara.
 
Dengan demikian, konflik yang terlihat seperti masalah antara kakak dan adik terkadang juga berkaitan dengan bagaimana masing-masing anak memandang hubungan mereka dengan orang tua.
   

5. Batasan Pribadi Sering Dilanggar

Semakin bertambah usia, kakak biasanya mulai membutuhkan ruang dan privasi yang lebih besar. Namun, adik yang masih kecil mungkin belum memahami atau menghargai batasan tersebut.
 
Contohnya, adik masuk ke kamar tanpa izin, menggunakan barang pribadi, membaca pesan atau buku harian, hingga mengganggu ketika kakak sedang ingin sendiri.
 
Jika batasan tersebut sudah berkali-kali disampaikan tetapi tetap dilanggar, kakak bisa merasa bahwa dirinya tidak didengarkan. Kemarahan akhirnya menjadi bentuk reaksi karena merasa ruang pribadinya tidak dihargai.
 

6. Sulit Mengungkapkan Kekesalan dengan Cara yang Tepat

Ada pula kemungkinan kakak sebenarnya sudah lama merasa terganggu, tetapi tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Alih-alih menjelaskan bahwa dirinya membutuhkan ruang, merasa lelah, atau tidak nyaman dengan perilaku adik, perasaan tersebut bisa keluar dalam bentuk bentakan atau sikap mudah marah.
 
Hal ini dapat menciptakan pola yang berulang. Kakak marah, adik merasa kesal atau takut, kemudian keduanya menjauh untuk sementara. Setelah suasana membaik, masalah yang sebenarnya tidak pernah dibicarakan sehingga dapat muncul kembali ketika pemicunya terjadi lagi.

 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(PRI)

MOST SEARCH