FAMILY
Berapa suhu AC yang ideal untuk Bayi? Dokter Anak Ungkap Cara Menjaga Kualitas Udara di Kamar Si Kecil
A. Firdaus
Selasa 07 Juli 2026 / 19:08
- Anak-anak menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di rumah.
- Orang tua juga perlu menyesuaikan dengan kondisi ruangan dan performa AC di rumah.
- Pilihan cat yang melapisi ruang tempat anak beristirahat, bermain, dan bertumbuh sering kali luput dari perhatian.
Jakarta: Saat menyiapkan kamar bayi ataupun kamar anak, orang tua sering memulai dari hal-hal yang mudah terlihat, seperti tempat tidur, pencahayaan, furnitur, hingga warna dinding. Namun, menurut Dokter Spesialis Anak, dr. Ria Yoanita, Sp.A, aspek yang jauh lebih penting justru sering terlewat, yakni kualitas udara di dalam kamar.
Lingkungan tempat bayi menghabiskan sebagian besar waktunya berperan besar terhadap kesehatan, terutama sistem pernapasan dan daya tahan tubuh. Karena itu, sirkulasi udara, kelembapan, pencahayaan, hingga kebersihan ruangan perlu diperhatikan sejak awal.
Menurut dr. Ria, anak-anak menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di rumah. Karena itu, rumah harus menjadi lingkungan yang sehat dan aman.
"Sering kali orang tua lupa bahwa rumah membutuhkan kelembapan yang terkontrol, ventilasi yang baik, dan pencahayaan yang cukup. Hal-hal ini penting agar kualitas udara tetap baik dan dapat membantu mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan yang sering dialami anak," jelas dr. Ria.
Kemudian, dr. Ria mengingatkan agar rumah tidak selalu tertutup rapat. Sirkulasi udara yang buruk dapat meningkatkan risiko tumbuhnya jamur, bakteri, hingga virus di dalam ruangan.
Masih banyak orang tua yang khawatir menggunakan AC untuk bayi. Padahal, menurut dr. Ria, penggunaan AC aman selama dilakukan dengan tepat.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kebersihan filter AC. Filter sebaiknya dibersihkan secara rutin, minimal dilap setiap dua minggu dan dilakukan pembersihan menyeluruh setiap satu hingga dua bulan.
"Kalau filter kotor, debu akan terus berputar bersama udara yang keluar dari AC dan akhirnya terhirup oleh penghuni rumah," ujar dr. Ria.
Ia juga menyarankan memilih filter AC dengan kemampuan filtrasi yang baik, minimal memiliki standar MERV 13, sehingga mampu menyaring partikel berukuran kecil.
Untuk kenyamanan bayi, suhu ruangan disarankan berada di kisaran 24–26 derajat Celsius. Namun, orang tua juga perlu menyesuaikan dengan kondisi ruangan dan performa AC di rumah.
Yang tak kalah penting adalah menjaga kelembapan udara. Jika kelembapan terlalu rendah atau di bawah 40 persen, udara menjadi kering dan dapat menyebabkan mata kering, hidung kering, bibir pecah-pecah, hingga meningkatkan risiko mimisan pada anak.
"Sebaliknya, kelembapan yang terlalu tinggi, di atas 60 persen, justru memicu pertumbuhan jamur dan mikroorganisme lain yang dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan," terang dr. Ria.
Selain itu, pilihan cat yang melapisi ruang tempat anak beristirahat, bermain, dan bertumbuh sering kali luput dari perhatian. Padahal material pada dinding juga dapat memengaruhi kualitas udara yang dihirup anak di dalam ruangan.

Dalam ruang tertutup, formaldehida dan senyawa kimia lain dapat muncul dari residu pelapis yang ada di furnitur, produk pembersih, hingga perlengkapan elektronik.
Sebagai cat interior berbasis air pertama di Indonesia yang berbahan dasar nabati, Naturalle memiliki formulasi Zero VOC juga rendah bau dan fitur formaldehyde abatement yang mampu mengikat dan mengurai formaldehida yang ada di dinding menjadi udara bersih, membuat setiap ruang menjadi lebih aman untuk ditempati dalam waktu yang lebih singkat setelah pengecatan.
"Setiap orang tua tentu ingin memberikan ruang terbaik bagi anaknya. Dengan Mowilex Naturalle, kami ingin mengajak orang tua melihat bahwa memilih cat yang tepat juga merupakan bagian dari mendukung tumbuh kembang anak," kata Chief Marketing Officer PT Mowilex Indonesia, Johanna Daunan dalam talkshow di Museum MACAN terkait kampanye 'First Space, First Care' oleh PT Mowilex Indonesia.
"Apalagi, pada usia 0 sampai 5 tahun, anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, sehingga kualitas udara dan material yang melapisi dinding perlu menjadi perhatian sejak awal," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Lingkungan tempat bayi menghabiskan sebagian besar waktunya berperan besar terhadap kesehatan, terutama sistem pernapasan dan daya tahan tubuh. Karena itu, sirkulasi udara, kelembapan, pencahayaan, hingga kebersihan ruangan perlu diperhatikan sejak awal.
Ventilasi yang baik bantu cegah infeksi
Menurut dr. Ria, anak-anak menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di rumah. Karena itu, rumah harus menjadi lingkungan yang sehat dan aman.
"Sering kali orang tua lupa bahwa rumah membutuhkan kelembapan yang terkontrol, ventilasi yang baik, dan pencahayaan yang cukup. Hal-hal ini penting agar kualitas udara tetap baik dan dapat membantu mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan yang sering dialami anak," jelas dr. Ria.
Baca Juga :
Begini 9 Tips Upgrade Otak Bayi Sejak Dini
Kemudian, dr. Ria mengingatkan agar rumah tidak selalu tertutup rapat. Sirkulasi udara yang buruk dapat meningkatkan risiko tumbuhnya jamur, bakteri, hingga virus di dalam ruangan.
Bayi boleh pakai AC, asal digunakan dengan benar
Masih banyak orang tua yang khawatir menggunakan AC untuk bayi. Padahal, menurut dr. Ria, penggunaan AC aman selama dilakukan dengan tepat.
Hal yang perlu diperhatikan adalah kebersihan filter AC. Filter sebaiknya dibersihkan secara rutin, minimal dilap setiap dua minggu dan dilakukan pembersihan menyeluruh setiap satu hingga dua bulan.
"Kalau filter kotor, debu akan terus berputar bersama udara yang keluar dari AC dan akhirnya terhirup oleh penghuni rumah," ujar dr. Ria.
Ia juga menyarankan memilih filter AC dengan kemampuan filtrasi yang baik, minimal memiliki standar MERV 13, sehingga mampu menyaring partikel berukuran kecil.
Berapa suhu AC yang ideal?
Untuk kenyamanan bayi, suhu ruangan disarankan berada di kisaran 24–26 derajat Celsius. Namun, orang tua juga perlu menyesuaikan dengan kondisi ruangan dan performa AC di rumah.
Yang tak kalah penting adalah menjaga kelembapan udara. Jika kelembapan terlalu rendah atau di bawah 40 persen, udara menjadi kering dan dapat menyebabkan mata kering, hidung kering, bibir pecah-pecah, hingga meningkatkan risiko mimisan pada anak.
"Sebaliknya, kelembapan yang terlalu tinggi, di atas 60 persen, justru memicu pertumbuhan jamur dan mikroorganisme lain yang dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan," terang dr. Ria.
Selain itu, pilihan cat yang melapisi ruang tempat anak beristirahat, bermain, dan bertumbuh sering kali luput dari perhatian. Padahal material pada dinding juga dapat memengaruhi kualitas udara yang dihirup anak di dalam ruangan.

Dalam ruang tertutup, formaldehida dan senyawa kimia lain dapat muncul dari residu pelapis yang ada di furnitur, produk pembersih, hingga perlengkapan elektronik.
Sebagai cat interior berbasis air pertama di Indonesia yang berbahan dasar nabati, Naturalle memiliki formulasi Zero VOC juga rendah bau dan fitur formaldehyde abatement yang mampu mengikat dan mengurai formaldehida yang ada di dinding menjadi udara bersih, membuat setiap ruang menjadi lebih aman untuk ditempati dalam waktu yang lebih singkat setelah pengecatan.
"Setiap orang tua tentu ingin memberikan ruang terbaik bagi anaknya. Dengan Mowilex Naturalle, kami ingin mengajak orang tua melihat bahwa memilih cat yang tepat juga merupakan bagian dari mendukung tumbuh kembang anak," kata Chief Marketing Officer PT Mowilex Indonesia, Johanna Daunan dalam talkshow di Museum MACAN terkait kampanye 'First Space, First Care' oleh PT Mowilex Indonesia.
"Apalagi, pada usia 0 sampai 5 tahun, anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, sehingga kualitas udara dan material yang melapisi dinding perlu menjadi perhatian sejak awal," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)