FAMILY

Fenomena Eco-Anxiety pada Generasi Muda

MetroTV
Minggu 24 April 2022 / 04:52
Jakarta: Dalam berbagai studi, pakar mencatat peningkatan fenomena eco-anxiety atau stress akan masalah lingkungan dan masa depan bumi, terutama pada generasi muda. Ternyata salah satu solusinya adalah dengan aktif berkegiatan membersihkan lingkungan.

Di sebuah area hutan di Washington DC terlihat sejumlah siswa SMA mencabuti tanaman garlic mustard, spesies invasif yang mengganggu ekosistem. Ini merupakan bentuk kontribusi mereka untuk bumi yang lebih sehat.

"Saya ingin orang lain dan generasi berikut bisa juga merasakan pengalaman jadi relawan di Rock Crek," kata siswa SMA sekaligus relawan, Grayson Bullard dalam tayangan Metro Siang di Metro TV, Sabtu, 23 April 2022.

Laporan terbaru PBB memprediksi, bumi akan terjerumus malapetaka lingkungan jika semua negara tidak segera mengambil langkah drastis dalam menghambat laju perubahan iklim. Pemberitaan tentang masa depan bumi menciptakan apa yang disebut pakar sebagai 'Eco-Anxiety dan Climate Change the Stress'. Stress yang terutama dialami generasi muda akibat kondisi bumi yang makin memburuk.

"Seperti halnya banyak remaja generasi ini. Saya sangat takut dan mudah merasa tak berdaya. Saya melakukan kegiatan ini karena sesuatu yang nyata demi membantu lingkungan dan komunitas,"  tutur relawan, Amelia Lawlor.

Sebanyak 50 persen warga Amerika usia 16 hingga 25 tahun yang disurvei melalui jurnal medis The Lancet mengakui bahwa stress perubahan iklim berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari.

"Terlihat dampak kemarau panjang. Suhu panas ekstrim, dampak ke pertanian dan menyusutnya bahan pangan. Namun saya melihat generasi muda yakin bahwa ada solusi yang bisa membantu adaptasi lingkungan" ungkap The Nature Conservancy, Kahlil Kettering.

Salah satu yang kerap diserukan pakar adalah bertindak mengurangi jejak karbon kita sendiri. "Sederhana, tidak makan daging tiap Senin, berjalan kaki, kurangi dan mendaur sampah,dan pakai ulang ini konsep yang harus kita budayakan," kata disaster resilience leadership academy, Regardt Ferreira. (Fauzi Pratama Ramadhan)
(MBM)

MOST SEARCH