COMMUNITY
Memahami Perang Kognitif di Tengah Derasnya Arus Informasi Media Sosial
Elang Riki Yanuar
Jumat 02 Oktober 2026 / 18:00
- Media sosial dan algoritma dapat membentuk persepsi masyarakat melalui konten yang sering dilihat, disukai, dan dibagikan.
- Agus Bhakti mengajak masyarakat memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan.
- Buku Perang Kognitif membahas tantangan arus informasi digital dan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi beragam narasi.
Jakarta: Perkembangan media sosial membuat informasi bergerak dalam hitungan detik. Sebuah unggahan dapat dengan cepat menyebar, mendapatkan komentar, dipotong, lalu dikemas kembali hingga membentuk percakapan yang lebih luas.
Kecepatan tersebut menghadirkan tantangan baru dalam memahami sebuah peristiwa. Masyarakat tidak hanya berhadapan dengan informasi, tetapi juga berbagai sudut pandang dan narasi yang dapat memengaruhi cara seseorang memaknai suatu kejadian.
Persoalan mengenai pengaruh informasi terhadap cara berpikir masyarakat menjadi pembahasan dalam buku Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025 karya Brigjen TNI Dr Agus Bhakti SIP MIP MHan. Buku tersebut diluncurkan di Jakarta belum lama ini.
Agus membahas bagaimana ruang digital dapat berperan dalam pembentukan persepsi. Menurut dia, informasi bukan hanya berfungsi sebagai sarana menyampaikan pesan, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang menilai sebuah persoalan.
Dalam buku tersebut, Agus mengulas sejumlah konsep komunikasi dan pembentukan persepsi, di antaranya agenda setting, framing, dan priming. Ketiganya membantu menjelaskan bagaimana suatu isu mendapatkan perhatian, bagaimana informasi dikemas, serta bagaimana informasi sebelumnya dapat memengaruhi pemahaman terhadap isu berikutnya.
Proses tersebut kemudian bertemu dengan algoritma media sosial dan kebiasaan pengguna. Pilihan akun yang diikuti, konten yang disukai, informasi yang dibagikan, hingga durasi seseorang melihat sebuah unggahan dapat memengaruhi konten yang kembali muncul di layar.
“Pengguna, misalnya, memiliki kecenderungan memilih akun yang diikuti, memberikan tanda suka terhadap jenis konten tertentu, membagikan informasi yang dianggap menarik, atau menghabiskan waktu lebih lama pada konten tertentu,” katanya.
Kondisi tersebut membuat pengalaman informasi setiap orang dapat berbeda. Dua orang yang tinggal di lingkungan atau kota yang sama belum tentu mendapatkan jenis konten dan sudut pandang yang serupa di media sosial.
Perbedaan paparan informasi itu tidak otomatis menunjukkan bahwa salah satu pihak menerima informasi yang salah. Namun, pola penggunaan media sosial dapat membuat seseorang lebih sering melihat isu atau narasi tertentu dibandingkan orang lain.
Selain algoritma, Agus juga menyoroti peran emosi dalam penyebaran informasi. Konten yang memunculkan kemarahan, ketakutan, atau kontroversi cenderung mendapatkan perhatian sehingga dapat menyebar dengan cepat.
Dalam situasi seperti itu, masyarakat berpotensi memberikan respons sebelum memahami konteks secara utuh. Keinginan untuk segera berkomentar atau membagikan sebuah informasi dapat membuat proses memeriksa sumber dan membandingkan informasi terlewatkan.
“Masyarakat tidak harus mencurigai seluruh informasi yang muncul di layar. Namun, diperlukan kebiasaan untuk memeriksa sumber, melihat konteks, membandingkan informasi dari sumber lain, serta mengenali respons emosional sebelum mengambil kesimpulan,” kata Agus.
Peredaran informasi di media sosial juga tidak lagi hanya bergantung pada media sebagai sumber utama. Pengguna, tokoh publik, komunitas, hingga berbagai akun dapat ikut menyebarkan dan memperluas jangkauan sebuah narasi.
Dalam prosesnya, sebuah informasi dapat mengalami perubahan ketika dikomentari, dipotong, atau dikemas ulang. Kondisi tersebut membuat batas antara fakta, opini, interpretasi, dan respons emosional terkadang menjadi semakin sulit dibedakan.
Agus mengajak masyarakat membangun kebiasaan sederhana sebelum mengambil kesimpulan dari sebuah informasi. Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan antara lain alasan sebuah isu muncul, bagian yang paling banyak ditonjolkan, informasi yang belum terlihat, serta apakah sebuah pernyataan merupakan fakta, interpretasi, atau opini.
Kebiasaan tersebut bukan dimaksudkan untuk membuat masyarakat mencurigai semua informasi yang muncul di media sosial. Sebaliknya, langkah tersebut dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk berpikir sebelum memberikan respons.
Kesadaran terhadap cara kerja informasi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan kognitif di tengah derasnya arus konten digital. Masyarakat diharapkan tetap dapat mempertahankan kemampuan untuk menilai informasi tanpa sekadar mengikuti narasi yang paling sering muncul.
"Yang berbahaya adalah ketika perbedaan itu tidak lagi memiliki pijakan fakta yang sama untuk diperdebatkan," katanya.
Melalui buku tersebut, Agus mengajak masyarakat memahami bahwa satu peristiwa dapat melahirkan berbagai persepsi. Namun, setiap orang tetap memiliki tanggung jawab untuk mengolah informasi sebelum menentukan apa yang akan dipercaya.
"Sebab satu peristiwa memang bisa melahirkan banyak persepsi. Tetapi sebelum menentukan apa yang kita percaya, selalu ada satu hal yang tetap menjadi tanggung jawab kita: berpikir," tutupnya.
(ELG)
Kecepatan tersebut menghadirkan tantangan baru dalam memahami sebuah peristiwa. Masyarakat tidak hanya berhadapan dengan informasi, tetapi juga berbagai sudut pandang dan narasi yang dapat memengaruhi cara seseorang memaknai suatu kejadian.
Persoalan mengenai pengaruh informasi terhadap cara berpikir masyarakat menjadi pembahasan dalam buku Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025 karya Brigjen TNI Dr Agus Bhakti SIP MIP MHan. Buku tersebut diluncurkan di Jakarta belum lama ini.
Agus membahas bagaimana ruang digital dapat berperan dalam pembentukan persepsi. Menurut dia, informasi bukan hanya berfungsi sebagai sarana menyampaikan pesan, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang menilai sebuah persoalan.
Dalam buku tersebut, Agus mengulas sejumlah konsep komunikasi dan pembentukan persepsi, di antaranya agenda setting, framing, dan priming. Ketiganya membantu menjelaskan bagaimana suatu isu mendapatkan perhatian, bagaimana informasi dikemas, serta bagaimana informasi sebelumnya dapat memengaruhi pemahaman terhadap isu berikutnya.
Proses tersebut kemudian bertemu dengan algoritma media sosial dan kebiasaan pengguna. Pilihan akun yang diikuti, konten yang disukai, informasi yang dibagikan, hingga durasi seseorang melihat sebuah unggahan dapat memengaruhi konten yang kembali muncul di layar.
“Pengguna, misalnya, memiliki kecenderungan memilih akun yang diikuti, memberikan tanda suka terhadap jenis konten tertentu, membagikan informasi yang dianggap menarik, atau menghabiskan waktu lebih lama pada konten tertentu,” katanya.
Kondisi tersebut membuat pengalaman informasi setiap orang dapat berbeda. Dua orang yang tinggal di lingkungan atau kota yang sama belum tentu mendapatkan jenis konten dan sudut pandang yang serupa di media sosial.
Perbedaan paparan informasi itu tidak otomatis menunjukkan bahwa salah satu pihak menerima informasi yang salah. Namun, pola penggunaan media sosial dapat membuat seseorang lebih sering melihat isu atau narasi tertentu dibandingkan orang lain.
Selain algoritma, Agus juga menyoroti peran emosi dalam penyebaran informasi. Konten yang memunculkan kemarahan, ketakutan, atau kontroversi cenderung mendapatkan perhatian sehingga dapat menyebar dengan cepat.
Dalam situasi seperti itu, masyarakat berpotensi memberikan respons sebelum memahami konteks secara utuh. Keinginan untuk segera berkomentar atau membagikan sebuah informasi dapat membuat proses memeriksa sumber dan membandingkan informasi terlewatkan.
“Masyarakat tidak harus mencurigai seluruh informasi yang muncul di layar. Namun, diperlukan kebiasaan untuk memeriksa sumber, melihat konteks, membandingkan informasi dari sumber lain, serta mengenali respons emosional sebelum mengambil kesimpulan,” kata Agus.
Peredaran informasi di media sosial juga tidak lagi hanya bergantung pada media sebagai sumber utama. Pengguna, tokoh publik, komunitas, hingga berbagai akun dapat ikut menyebarkan dan memperluas jangkauan sebuah narasi.
Dalam prosesnya, sebuah informasi dapat mengalami perubahan ketika dikomentari, dipotong, atau dikemas ulang. Kondisi tersebut membuat batas antara fakta, opini, interpretasi, dan respons emosional terkadang menjadi semakin sulit dibedakan.
Agus mengajak masyarakat membangun kebiasaan sederhana sebelum mengambil kesimpulan dari sebuah informasi. Beberapa hal yang dapat dipertimbangkan antara lain alasan sebuah isu muncul, bagian yang paling banyak ditonjolkan, informasi yang belum terlihat, serta apakah sebuah pernyataan merupakan fakta, interpretasi, atau opini.
Kebiasaan tersebut bukan dimaksudkan untuk membuat masyarakat mencurigai semua informasi yang muncul di media sosial. Sebaliknya, langkah tersebut dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk berpikir sebelum memberikan respons.
Kesadaran terhadap cara kerja informasi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan kognitif di tengah derasnya arus konten digital. Masyarakat diharapkan tetap dapat mempertahankan kemampuan untuk menilai informasi tanpa sekadar mengikuti narasi yang paling sering muncul.
"Yang berbahaya adalah ketika perbedaan itu tidak lagi memiliki pijakan fakta yang sama untuk diperdebatkan," katanya.
Melalui buku tersebut, Agus mengajak masyarakat memahami bahwa satu peristiwa dapat melahirkan berbagai persepsi. Namun, setiap orang tetap memiliki tanggung jawab untuk mengolah informasi sebelum menentukan apa yang akan dipercaya.
"Sebab satu peristiwa memang bisa melahirkan banyak persepsi. Tetapi sebelum menentukan apa yang kita percaya, selalu ada satu hal yang tetap menjadi tanggung jawab kita: berpikir," tutupnya.
(ELG)