COMMUNITY
Persiapan Marathon Tak Cukup Latihan Fisik, Perlu Siapkan Hal Ini
Elang Riki Yanuar
Selasa 13 Oktober 2026 / 18:00
- Persiapan marathon internasional tak hanya membutuhkan latihan fisik, tetapi juga perencanaan biaya tiket pesawat, hotel, registrasi, dan kebutuhan perjalanan.
- Pelari yang menargetkan marathon internasional dapat menyiapkan dana secara bertahap dengan target tabungan bulanan sesuai kemampuan finansial.
- Mengikuti marathon internasional dengan estimasi biaya Rp48 juta dalam 24 bulan membutuhkan tabungan sekitar Rp2 juta per bulan agar persiapan lebih terukur.
Jakarta: Persiapan mengikuti marathon tidak cukup hanya dengan latihan fisik dan menjaga stamina. Pelari yang menargetkan ajang internasional juga perlu merencanakan kebutuhan perjalanan, akomodasi, hingga keuangan agar bisa mencapai garis start tanpa terbebani biaya yang belum dipersiapkan.
Bagi sebagian pelari, mengikuti marathon di kota-kota besar dunia menjadi target setelah konsisten berlari. Nama Tokyo, Boston, London, Cape Town, Sydney, Berlin, Chicago, dan New York mungkin sudah tidak asing bagi mereka yang ingin menantang diri di ajang lari jarak jauh. Shanghai juga akan diperkenalkan sebagai kota kesembilan dalam rangkaian Abbott World Marathon Majors.
Pelari yang berhasil menyelesaikan seluruh ajang dalam rangkaian tersebut berhak mendapatkan The Nine Stars Medal. Pencapaian ini membuat perjalanan mengikuti setiap lomba menjadi lebih dari sekadar kompetisi, tetapi juga sebuah tantangan yang membutuhkan persiapan matang.
Bagi pelari Indonesia yang ingin berlomba di luar negeri, perencanaan bahkan perlu dilakukan jauh sebelum hari perlombaan. Selain menyusun program latihan, mereka harus memperhitungkan biaya registrasi, tiket pesawat, akomodasi, transportasi lokal, konsumsi selama perjalanan, serta perlengkapan yang dibutuhkan saat race day.
Citra, salah satu pelari yang tengah menargetkan World Major Marathon di Chicago, Amerika Serikat, merasakan bahwa persiapan mengikuti marathon internasional memiliki tantangan tersendiri. Dia awalnya lebih berfokus pada latihan fisik sebelum menyadari banyaknya kebutuhan lain yang harus diperhitungkan.
“Awalnya saya hanya fokus ke latihan. Setelah mulai menghitung race entry, pesawat, hotel, dan kebutuhan lainnya, baru terasa bahwa persiapan marathon bukan cuma soal fisik," katanya.
Chicago Marathon sendiri merupakan salah satu ajang lari terbesar dalam rangkaian World Marathon Majors. Setiap tahun, puluhan ribu pelari mengikuti perlombaan yang melewati 29 kawasan di kota tersebut. Lebih dari 1,7 juta penonton juga memenuhi jalanan Chicago untuk menyaksikan para pelari berlomba.
Besarnya skala acara membuat perencanaan menjadi bagian penting bagi peserta yang datang dari luar negeri. Citra pun mulai memperlakukan target marathon seperti program latihan, yakni dengan menentukan tujuan dan menyusun langkah secara bertahap, termasuk dalam menyiapkan biaya perjalanan.
“Buat saya lebih nyaman kalau targetnya jelas. Sama seperti training plan, saya tahu setiap bulan ada bagian yang memang dialokasikan untuk marathon,” lanjutnya.
Dalam persiapan fisik, pelari biasanya mengikuti program latihan selama beberapa bulan sebelum perlombaan. Jarak tempuh dan intensitas latihan ditingkatkan secara bertahap agar tubuh mampu menghadapi tantangan saat race day. Pola serupa dapat diterapkan dalam perencanaan keuangan dengan menghitung kebutuhan dana dan membaginya menjadi target tabungan bulanan.
Dengan cara tersebut, kebutuhan biaya yang terlihat besar dapat dipersiapkan secara lebih terukur. Pelari juga memiliki waktu untuk menyesuaikan rencana berdasarkan kemampuan finansial, perkiraan biaya perjalanan, dan jadwal perlombaan yang dituju.
Citra mengaku memiliki tujuan yang spesifik membantunya lebih disiplin menyisihkan uang. Baginya, keinginan mengikuti marathon di kota tertentu terasa lebih nyata ketika disertai perhitungan dana dan tenggat waktu yang jelas.
“Kalau hanya bilang ingin menabung, kadang mudah terpakai untuk kebutuhan lain. Tapi kalau targetnya sudah jelas, misalnya ingin lari marathon di kota tertentu, jadi lebih mudah menjaga komitmen,” ujarnya.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menyusun rencana tersebut adalah melalui fitur Life Goals di aplikasi wondr by BNI. Fitur ini memungkinkan pengguna menentukan nama tujuan tabungan, target dana, jumlah setoran, serta periode menabung sesuai rencana. Pengguna juga dapat mengatur setoran otomatis setiap bulan melalui fitur autodebit.
Pelari dapat membuat target tabungan berdasarkan ajang yang ingin diikuti, seperti Tokyo Marathon, Berlin Marathon, atau Chicago Marathon. Penamaan tujuan yang spesifik membantu kebutuhan dana perjalanan menjadi lebih mudah dipantau, sekaligus menjaga komitmen untuk menabung secara rutin.
Sebagai gambaran, pelari yang memperkirakan membutuhkan Rp48 juta untuk mengikuti marathon internasional dan memiliki waktu persiapan 24 bulan perlu menyisihkan sekitar Rp2 juta setiap bulan. Perhitungan tersebut belum memperhitungkan pengembangan dana maupun perubahan biaya perjalanan. Besaran setoran dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan finansial masing-masing.
Bagi Citra, konsistensi dalam menyiapkan dana memiliki prinsip yang sama dengan latihan lari. Keduanya membutuhkan komitmen jangka panjang, bukan sekadar usaha besar yang dilakukan dalam waktu singkat.
“Dalam lari, hasil tidak datang dari satu latihan besar. Yang penting konsisten. Saya melihat menyiapkan dana untuk marathon dengan cara yang sama, tidak harus langsung besar, yang penting mulai dan dilakukan secara rutin,” katanya.
(ELG)
Bagi sebagian pelari, mengikuti marathon di kota-kota besar dunia menjadi target setelah konsisten berlari. Nama Tokyo, Boston, London, Cape Town, Sydney, Berlin, Chicago, dan New York mungkin sudah tidak asing bagi mereka yang ingin menantang diri di ajang lari jarak jauh. Shanghai juga akan diperkenalkan sebagai kota kesembilan dalam rangkaian Abbott World Marathon Majors.
Pelari yang berhasil menyelesaikan seluruh ajang dalam rangkaian tersebut berhak mendapatkan The Nine Stars Medal. Pencapaian ini membuat perjalanan mengikuti setiap lomba menjadi lebih dari sekadar kompetisi, tetapi juga sebuah tantangan yang membutuhkan persiapan matang.
Bagi pelari Indonesia yang ingin berlomba di luar negeri, perencanaan bahkan perlu dilakukan jauh sebelum hari perlombaan. Selain menyusun program latihan, mereka harus memperhitungkan biaya registrasi, tiket pesawat, akomodasi, transportasi lokal, konsumsi selama perjalanan, serta perlengkapan yang dibutuhkan saat race day.
Citra, salah satu pelari yang tengah menargetkan World Major Marathon di Chicago, Amerika Serikat, merasakan bahwa persiapan mengikuti marathon internasional memiliki tantangan tersendiri. Dia awalnya lebih berfokus pada latihan fisik sebelum menyadari banyaknya kebutuhan lain yang harus diperhitungkan.
“Awalnya saya hanya fokus ke latihan. Setelah mulai menghitung race entry, pesawat, hotel, dan kebutuhan lainnya, baru terasa bahwa persiapan marathon bukan cuma soal fisik," katanya.
Baca Juga :
Garmin Run Indonesia Berevolusi Jadi Marathon Series, Semangat From Zero to Hero Makin Menyala
Chicago Marathon sendiri merupakan salah satu ajang lari terbesar dalam rangkaian World Marathon Majors. Setiap tahun, puluhan ribu pelari mengikuti perlombaan yang melewati 29 kawasan di kota tersebut. Lebih dari 1,7 juta penonton juga memenuhi jalanan Chicago untuk menyaksikan para pelari berlomba.
Besarnya skala acara membuat perencanaan menjadi bagian penting bagi peserta yang datang dari luar negeri. Citra pun mulai memperlakukan target marathon seperti program latihan, yakni dengan menentukan tujuan dan menyusun langkah secara bertahap, termasuk dalam menyiapkan biaya perjalanan.
“Buat saya lebih nyaman kalau targetnya jelas. Sama seperti training plan, saya tahu setiap bulan ada bagian yang memang dialokasikan untuk marathon,” lanjutnya.
Dalam persiapan fisik, pelari biasanya mengikuti program latihan selama beberapa bulan sebelum perlombaan. Jarak tempuh dan intensitas latihan ditingkatkan secara bertahap agar tubuh mampu menghadapi tantangan saat race day. Pola serupa dapat diterapkan dalam perencanaan keuangan dengan menghitung kebutuhan dana dan membaginya menjadi target tabungan bulanan.
Dengan cara tersebut, kebutuhan biaya yang terlihat besar dapat dipersiapkan secara lebih terukur. Pelari juga memiliki waktu untuk menyesuaikan rencana berdasarkan kemampuan finansial, perkiraan biaya perjalanan, dan jadwal perlombaan yang dituju.
Citra mengaku memiliki tujuan yang spesifik membantunya lebih disiplin menyisihkan uang. Baginya, keinginan mengikuti marathon di kota tertentu terasa lebih nyata ketika disertai perhitungan dana dan tenggat waktu yang jelas.
“Kalau hanya bilang ingin menabung, kadang mudah terpakai untuk kebutuhan lain. Tapi kalau targetnya sudah jelas, misalnya ingin lari marathon di kota tertentu, jadi lebih mudah menjaga komitmen,” ujarnya.
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menyusun rencana tersebut adalah melalui fitur Life Goals di aplikasi wondr by BNI. Fitur ini memungkinkan pengguna menentukan nama tujuan tabungan, target dana, jumlah setoran, serta periode menabung sesuai rencana. Pengguna juga dapat mengatur setoran otomatis setiap bulan melalui fitur autodebit.
Pelari dapat membuat target tabungan berdasarkan ajang yang ingin diikuti, seperti Tokyo Marathon, Berlin Marathon, atau Chicago Marathon. Penamaan tujuan yang spesifik membantu kebutuhan dana perjalanan menjadi lebih mudah dipantau, sekaligus menjaga komitmen untuk menabung secara rutin.
Sebagai gambaran, pelari yang memperkirakan membutuhkan Rp48 juta untuk mengikuti marathon internasional dan memiliki waktu persiapan 24 bulan perlu menyisihkan sekitar Rp2 juta setiap bulan. Perhitungan tersebut belum memperhitungkan pengembangan dana maupun perubahan biaya perjalanan. Besaran setoran dapat disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan finansial masing-masing.
Bagi Citra, konsistensi dalam menyiapkan dana memiliki prinsip yang sama dengan latihan lari. Keduanya membutuhkan komitmen jangka panjang, bukan sekadar usaha besar yang dilakukan dalam waktu singkat.
“Dalam lari, hasil tidak datang dari satu latihan besar. Yang penting konsisten. Saya melihat menyiapkan dana untuk marathon dengan cara yang sama, tidak harus langsung besar, yang penting mulai dan dilakukan secara rutin,” katanya.
(ELG)