COMMUNITY
Saat Kreativitas Jadi Kunci, Agus Fatoni Ajak Daerah Tak Takut Berinovasi
A. Firdaus
Selasa 09 Juni 2026 / 18:11
Yogyakarta: Kemandirian sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD). Lebih dari itu, keberanian untuk berinovasi dan mencari solusi baru menjadi faktor penting dalam memperkuat kapasitas fiskal daerah.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Agus Fatoni, dalam Regional Financial Discussion bertema Pengelolaan Keuangan Daerah dan Creative Financing yang digelar di Yogyakarta.
Menurut Fatoni, pemerintah daerah saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari dinamika ekonomi global hingga kondisi spesifik di masing-masing wilayah. Karena itu, daerah dituntut lebih adaptif dan kreatif dalam mengelola sumber daya yang dimiliki.
"Kemandirian fiskal bukan hanya soal angka, tetapi keberanian daerah untuk berinovasi. Daerah harus berani mencari solusi, menciptakan peluang, dan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki untuk memperkuat kapasitas fiskalnya," ujar Fatoni.
Ia menilai masih banyak daerah yang bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat. Padahal, penguatan fiskal dapat dilakukan melalui optimalisasi pendapatan daerah, efisiensi belanja, hingga pemanfaatan potensi lokal yang belum tergarap maksimal.
Fatoni menekankan bahwa pengelolaan keuangan daerah harus mampu mendukung keberlangsungan pemerintahan, pembangunan, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Menurutnya, daerah dengan kondisi fiskal yang kuat memiliki ruang lebih besar untuk menghadirkan berbagai inovasi pelayanan bagi masyarakat. Sebaliknya, ketergantungan yang tinggi terhadap dana transfer dapat membatasi fleksibilitas daerah dalam mengambil kebijakan strategis.
Selain faktor potensi wilayah, Fatoni juga menyoroti pentingnya kepemimpinan. Ia meyakini kepala daerah yang kreatif dan visioner mampu menemukan solusi bahkan di tengah keterbatasan.
"Leadership sangat penting. Kepala daerah yang inovatif dan kreatif akan mampu menemukan solusi meskipun dalam kondisi yang sulit," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Fatoni juga mengajak pemerintah daerah untuk tidak ragu belajar dari keberhasilan daerah lain. Ia memperkenalkan prinsip ATM atau Amati, Tiru, dan Modifikasi sebagai cara mempercepat lahirnya inovasi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah.
Menurutnya, forum diskusi antardaerah menjadi wadah penting untuk berbagi pengalaman dan memperluas wawasan dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Fatoni menambahkan, regulasi yang ada saat ini sebenarnya sudah memberikan ruang cukup luas bagi daerah untuk berinovasi. Tantangan terbesar justru terletak pada keberanian dan kemauan untuk memanfaatkan peluang tersebut.
"Regulasi untuk berinovasi sudah tersedia. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk memanfaatkannya. Banyak daerah masih ragu karena tidak paham, dan tidak paham karena tidak belajar," tegasnya.
Menutup paparannya, Fatoni mengingatkan pentingnya pola pikir yang terbuka terhadap perubahan. Ia mengajak pemerintah daerah untuk tidak takut mencoba pendekatan baru demi mencapai hasil yang lebih baik.
"Kalau daerah lain bisa, kita harus bisa. Bahkan kalau perlu, daerah lain tidak bisa, kita yang bisa. Semangat inilah yang harus menjadi energi baru dalam membangun kemandirian fiskal daerah," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Pesan tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Agus Fatoni, dalam Regional Financial Discussion bertema Pengelolaan Keuangan Daerah dan Creative Financing yang digelar di Yogyakarta.
Menurut Fatoni, pemerintah daerah saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari dinamika ekonomi global hingga kondisi spesifik di masing-masing wilayah. Karena itu, daerah dituntut lebih adaptif dan kreatif dalam mengelola sumber daya yang dimiliki.
"Kemandirian fiskal bukan hanya soal angka, tetapi keberanian daerah untuk berinovasi. Daerah harus berani mencari solusi, menciptakan peluang, dan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki untuk memperkuat kapasitas fiskalnya," ujar Fatoni.
Ia menilai masih banyak daerah yang bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat. Padahal, penguatan fiskal dapat dilakukan melalui optimalisasi pendapatan daerah, efisiensi belanja, hingga pemanfaatan potensi lokal yang belum tergarap maksimal.
Fatoni menekankan bahwa pengelolaan keuangan daerah harus mampu mendukung keberlangsungan pemerintahan, pembangunan, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Menurutnya, daerah dengan kondisi fiskal yang kuat memiliki ruang lebih besar untuk menghadirkan berbagai inovasi pelayanan bagi masyarakat. Sebaliknya, ketergantungan yang tinggi terhadap dana transfer dapat membatasi fleksibilitas daerah dalam mengambil kebijakan strategis.
Selain faktor potensi wilayah, Fatoni juga menyoroti pentingnya kepemimpinan. Ia meyakini kepala daerah yang kreatif dan visioner mampu menemukan solusi bahkan di tengah keterbatasan.
"Leadership sangat penting. Kepala daerah yang inovatif dan kreatif akan mampu menemukan solusi meskipun dalam kondisi yang sulit," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Fatoni juga mengajak pemerintah daerah untuk tidak ragu belajar dari keberhasilan daerah lain. Ia memperkenalkan prinsip ATM atau Amati, Tiru, dan Modifikasi sebagai cara mempercepat lahirnya inovasi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah.
Menurutnya, forum diskusi antardaerah menjadi wadah penting untuk berbagi pengalaman dan memperluas wawasan dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Fatoni menambahkan, regulasi yang ada saat ini sebenarnya sudah memberikan ruang cukup luas bagi daerah untuk berinovasi. Tantangan terbesar justru terletak pada keberanian dan kemauan untuk memanfaatkan peluang tersebut.
"Regulasi untuk berinovasi sudah tersedia. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk memanfaatkannya. Banyak daerah masih ragu karena tidak paham, dan tidak paham karena tidak belajar," tegasnya.
Menutup paparannya, Fatoni mengingatkan pentingnya pola pikir yang terbuka terhadap perubahan. Ia mengajak pemerintah daerah untuk tidak takut mencoba pendekatan baru demi mencapai hasil yang lebih baik.
"Kalau daerah lain bisa, kita harus bisa. Bahkan kalau perlu, daerah lain tidak bisa, kita yang bisa. Semangat inilah yang harus menjadi energi baru dalam membangun kemandirian fiskal daerah," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)