COMMUNITY
Lari Menyusuri Magelang, Menemukan Manisnya Getuk Legendaris
A. Firdaus
Jumat 06 November 2026 / 20:07
- Ada pemandangan unik di tengah kemeriahan ajang lari pekan lalu.
- Bagi para pelari, perjalanan tersebut memberikan perspektif baru.
- Rute Getuk menjadi bagian dari semangat Run Your Culture yang diusung PUMA melalui DNA Deviate Pure.
Magelang: Ada pemandangan unik di tengah kemeriahan ajang lari pekan lalu. Bukan pelari dengan kostum nyentrik atau aksi cheering di pinggir rute, melainkan sebuah gerobak yang membagikan getuk warna-warni lengkap dengan taburan kelapa parut.
Getuk yang disajikan di atas daun pisang itu sontak menarik perhatian. Bahkan, pada hari kedua, semakin banyak pelari maupun pengunjung yang penasaran mencari keberadaan gerobak tersebut. Tak heran jika gerobak ini kemudian dijuluki 'Gerobak Getuk Kalcer', merujuk pada penjualnya yang tampil dengan gaya khas pelari masa kini.
Namun, kehadiran getuk di tengah ajang lari bukan sekadar aktivitas berbagi makanan. Ada cerita tentang budaya, tradisi, dan perjalanan panjang kuliner khas Magelang yang ingin diperkenalkan kepada para pelari.
Cerita tersebut terungkap melalui aktivasi Rute Getuk, sebuah pengalaman berlari yang mengajak peserta mengenal Magelang lebih dekat. Mengusung semangat Run Your Culture, kegiatan ini menawarkan cara berbeda menikmati olahraga lari, bukan hanya mengejar personal best (PB), tetapi juga menjelajahi kota dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Dalam perjalanan ini, para pelari diajak menyusuri sudut-sudut Magelang, menikmati suasana kota, menyapa warga, hingga mengenal kuliner yang sudah menjadi bagian dari identitas daerah tersebut.
Salah satu cerita yang menarik datang dari keluarga Getuk Sri Rahayu. Usaha kuliner ini telah berlangsung sejak 1940-an dan kini diteruskan oleh Sri Rahayu sebagai generasi ketiga. Ia merupakan cucu Ali Mohtar, warga Dusun Karet yang dikenal sebagai pencipta getuk khas Magelang.
Setiap hari, keluarga tersebut menempuh perjalanan sekitar 4,6 kilometer dari Desa Karet menuju Pasar Rejowinangun untuk membawa getuk kepada pembeli. Tradisi yang diwariskan lintas generasi ini menjadi bagian dari pengalaman yang ingin diperkenalkan melalui Rute Getuk.
Bagi para pelari, perjalanan tersebut memberikan perspektif baru. Mereka tidak hanya melewati jalanan dan menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal kisah masyarakat yang tumbuh bersama tradisi kuliner Magelang.
Pengalaman menyusuri Magelang juga memberikan kesan tersendiri bagi Michelle Lovelyn, yang mulai menekuni lari sejak 2017 setelah diajak temannya.
Menurut Michelle, berlari tidak selalu harus berorientasi pada performa atau mengejar catatan waktu terbaik. Ada kesenangan tersendiri ketika bisa menikmati perjalanan dan menemukan pengalaman baru.
Kisah keluarga Getuk Sri Rahayu menjadi salah satu hal yang paling membekas baginya. Ia mengagumi ketekunan keluarga tersebut dalam mempertahankan tradisi membuat dan menjual getuk selama puluhan tahun.
Sementara itu, Irvin Iskandar menikmati karakter Magelang yang tenang, udara pagi yang sejuk, serta keramahan warga sepanjang rute. Kontur jalan yang terdiri dari tanjakan dan turunan juga memberikan tantangan tersendiri.
Pengalaman berbeda dirasakan M. Doni Maulana, yang mulai berlari pada 2022 dan konsisten menekuninya sejak 2023. Baginya, lari merupakan olahraga sederhana yang bisa menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus sarana menjelajahi tempat baru.
Menyusuri kota sambil mengenal budaya dan kuliner lokal membuat aktivitas lari terasa lebih menyenangkan. Ada cerita yang bisa dibawa pulang, selain sekadar catatan jarak dan kecepatan di jam tangan.
Rute Getuk menjadi bagian dari semangat Run Your Culture yang diusung PUMA melalui DNA Deviate Pure. Semangat ini juga diwujudkan melalui rangkaian kegiatan lari bersama komunitas di empat kota, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.
Setiap kota memiliki karakter serta kultur komunitas lari yang berbeda. Keberagaman tersebut kemudian dirayakan dan dipertemukan dalam satu momen lari bersama di BORMAR 2026.
(FIR)
Getuk yang disajikan di atas daun pisang itu sontak menarik perhatian. Bahkan, pada hari kedua, semakin banyak pelari maupun pengunjung yang penasaran mencari keberadaan gerobak tersebut. Tak heran jika gerobak ini kemudian dijuluki 'Gerobak Getuk Kalcer', merujuk pada penjualnya yang tampil dengan gaya khas pelari masa kini.
Namun, kehadiran getuk di tengah ajang lari bukan sekadar aktivitas berbagi makanan. Ada cerita tentang budaya, tradisi, dan perjalanan panjang kuliner khas Magelang yang ingin diperkenalkan kepada para pelari.
Cerita tersebut terungkap melalui aktivasi Rute Getuk, sebuah pengalaman berlari yang mengajak peserta mengenal Magelang lebih dekat. Mengusung semangat Run Your Culture, kegiatan ini menawarkan cara berbeda menikmati olahraga lari, bukan hanya mengejar personal best (PB), tetapi juga menjelajahi kota dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Menelusuri Jejak Getuk Legendaris Magelang
Dalam perjalanan ini, para pelari diajak menyusuri sudut-sudut Magelang, menikmati suasana kota, menyapa warga, hingga mengenal kuliner yang sudah menjadi bagian dari identitas daerah tersebut.
Salah satu cerita yang menarik datang dari keluarga Getuk Sri Rahayu. Usaha kuliner ini telah berlangsung sejak 1940-an dan kini diteruskan oleh Sri Rahayu sebagai generasi ketiga. Ia merupakan cucu Ali Mohtar, warga Dusun Karet yang dikenal sebagai pencipta getuk khas Magelang.
Menikmati Getuk Legendaris di sela-sela lari, menjadikan aktivitas ini agak berbeda dari ajang lari lainnya. Dok. Ist
Setiap hari, keluarga tersebut menempuh perjalanan sekitar 4,6 kilometer dari Desa Karet menuju Pasar Rejowinangun untuk membawa getuk kepada pembeli. Tradisi yang diwariskan lintas generasi ini menjadi bagian dari pengalaman yang ingin diperkenalkan melalui Rute Getuk.
Bagi para pelari, perjalanan tersebut memberikan perspektif baru. Mereka tidak hanya melewati jalanan dan menikmati pemandangan, tetapi juga mengenal kisah masyarakat yang tumbuh bersama tradisi kuliner Magelang.
Lari Bukan Cuma soal Pace
Pengalaman menyusuri Magelang juga memberikan kesan tersendiri bagi Michelle Lovelyn, yang mulai menekuni lari sejak 2017 setelah diajak temannya.
Menurut Michelle, berlari tidak selalu harus berorientasi pada performa atau mengejar catatan waktu terbaik. Ada kesenangan tersendiri ketika bisa menikmati perjalanan dan menemukan pengalaman baru.
Kisah keluarga Getuk Sri Rahayu menjadi salah satu hal yang paling membekas baginya. Ia mengagumi ketekunan keluarga tersebut dalam mempertahankan tradisi membuat dan menjual getuk selama puluhan tahun.
Sementara itu, Irvin Iskandar menikmati karakter Magelang yang tenang, udara pagi yang sejuk, serta keramahan warga sepanjang rute. Kontur jalan yang terdiri dari tanjakan dan turunan juga memberikan tantangan tersendiri.
Pengalaman berbeda dirasakan M. Doni Maulana, yang mulai berlari pada 2022 dan konsisten menekuninya sejak 2023. Baginya, lari merupakan olahraga sederhana yang bisa menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus sarana menjelajahi tempat baru.
Menyusuri kota sambil mengenal budaya dan kuliner lokal membuat aktivitas lari terasa lebih menyenangkan. Ada cerita yang bisa dibawa pulang, selain sekadar catatan jarak dan kecepatan di jam tangan.
Menggabungkan Lari dan Kultur Lokal
Rute Getuk menjadi bagian dari semangat Run Your Culture yang diusung PUMA melalui DNA Deviate Pure. Semangat ini juga diwujudkan melalui rangkaian kegiatan lari bersama komunitas di empat kota, yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali.
Tak hanya mencicipi, ajang lari ini juga mengajak pelari mengetahui proses pembuatan getuk. Dok. Ist
Setiap kota memiliki karakter serta kultur komunitas lari yang berbeda. Keberagaman tersebut kemudian dirayakan dan dipertemukan dalam satu momen lari bersama di BORMAR 2026.
(FIR)