BEAUTY

Dr. Phery Cenders Lebih Pilih Jalan Slow Aging: 'Boleh dong Dokter Takut'

Yatin Suleha
Kamis 30 April 2026 / 21:57
Ringkasnya gini..
  • Dunia treatment kecantikan emang pilihannya banyak banget dan enggak ada matinya, ya.
  • Tapi menurut dr. Phery Cenders, M. Biomed dari GlowLift Clinic, BSD, simpelnya sih bisa dibagi jadi dua kategori besar: invasif dan non-invasif.
  • Menurut dr. Phery, istilah anti-aging itu kesannya kayak lebih "menolak tua", tapi slow aging fokusnya lebih ke arah menua dengan lebih sehat.
Jakarta: Dunia treatment kecantikan emang pilihannya banyak banget dan enggak ada matinya, ya. Tapi menurut dr. Phery Cenders, M. Biomed dari GlowLift Clinic, BSD, Tangerang Selatan, biar simpelnya sih bisa dibagi jadi dua kategori besar: invasif dan non-invasif.

Invasif menurut dr. Phery, secara medis (prosedur) artinya adalah tindakan yang masuk ke dalam tubuh dengan melalui sayatan atau tusukan (misalnya operasi).

Sedangkan non-invasif adalah prosedur medis, diagnostik, atau perawatan yang tidak memerlukan pembedahan atau sayatan pada kulit. 
 
"Kenapa sih dokter lebih memlih jalur non-invasif?" tanya Medcom.id dalam wawancara eksklusif yang dilakukan di Klinik Glowlift milik dr. Phery hari ini (30/4). 

"Sebenarnya manusiami-manusiawi. Saya juga takut," kelakar dokter yang ramah ini.

"Boleh dong dokter takut," timpalnya singkat sambil tertawa. 

Lalu ia menjelaskan contoh, misalnya area bawa matanya dilakukan prosedur non-ivasif daripada jalan operasi, ia lebih memilih jalan slow aging tersebut dengan merawatnya melalui mesin untuk treatment. 

Kalau kata dr. Phery, istilah anti-aging itu kesannya kayak lebih "menolak tua", tapi dengan narasi slow aging, fokusnya lebih ke arah menua dengan cara yang lebih anggun, sehat, dan alami tanpa harus terlihat dipaksakan. Jadi, tujuannya bukan buat ngilangin penuaan sepenuhnya, tapi lebih ke memperlambat prosesnya aja.

Oke kembali ke cerita under eye-nya dr. Phery. "Sebenarnya ini (menunjuk area wajah) adalah area yang bergerak. Saya takut gak sama, hehehe. Dan kalau sudah dipotong (misalnya seperti dioperasi), kan gak bisa dibalikin," ujar dr. Phery.

Ia bilang, ia lebih memilih tindakan yang non-invasif dalam perawatan kecantikan.

"Karena saya spesialisasikan non-invasif jadi saya coba bantu teman-teman yang mau kelihatan lebih bagus, lebih fresh skinnya, kualitinya lebih bagus," ujar dokter yang awet muda ini.

Kata dr. Phery, sekarang ini jenis treatment wajah buat bantu slow aging emang pilihannya melimpah banget, jadi tinggal disesuaiin aja sama kebutuhan. 

"Saat ini banyak tren-tren untuk face contouring ya. Contouring, pembentukan wajah, pengencangan, dan skin quality. Jadi dia pingin, mereka tidak ingin merubah wajahnya."

"Jadi tidak mau look different, dia mau look better aja gitu. Tetap dari umur ke umur, terlihat bagus tapi tidak mau terlihat beda. Jadi trennya tuh lebih ke tindakan-tindakan untuk skin quality oke, untuk contouring, facelifting oke," beber dokter yang sudah punya klinik kecantikan sejak 2005 ini.
 

Hindari misinformasi dalam treatment kecantikan



(Dr. Phery Cenders, M. Biomed dari GlowLift Clinic, BSD, Tangerang Selatan, saat melakukan injeksi Toksin botulinum Daewoong. Foto: Dok. Istimewa)

Melanjutkan soal ingin cantik dengan treatment, pastinya banyak banget orang yang pengin harga yang murah tapi hasilnya sangat bagus.

Menurut dr. Phery, hal terpenting sebelum treatment adalah memastikan informasi yang diterima sudah tepat secara medis. 

"Saat ini, banyak pasien memulai pencarian dari media sosial, namun sering kali informasi yang didapat bersifat parsial dan berisiko menimbulkan mispersepsi maupun ekspektasi yang tidak realistis. Karena itu, konsultasi awal menjadi sangat krusial untuk meluruskan informasi."

Menurutnya, memastikan pemahaman yang benar, serta membangun ekspektasi yang aman dan sesuai dengan kondisi masing-masing pasien, termasuk memastikan klinik, dokter, dan produk yang digunakan telah memiliki izin resmi.

Risiko misinformasi melalui media sosial cukup tinggi, terutama karena banyak konten menonjolkan hasil instan dan harga murah tanpa menjelaskan aspek medisnya. 
 
Secara bijak dr. Phery memaparkan bahwa hal ini juga berdampak pada ekspektasi pasien yang sering kali tidak realistis dan cenderung berlebihan terhadap hasil treatment estetika. 

Padahal, treatment estetika adalah prosedur medis yang harus memerhatikan legalitas produk, kompetensi dokter, dan kesesuaian kondisi pasien. Tanpa itu, risikonya bisa berupa hasil tidak optimal hingga efek samping.



(Dr. Phery saat memberikan pelatihan. Video: Dok. Instagram dr. Phery Cen/@drpherycen)

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH