BEAUTY
Jerawatan Padahal Rajin Skincare? Bisa Jadi Produk Rambutmu Penyebabnya!
A. Firdaus
Sabtu 29 Agustus 2026 / 18:50
- Produk rambut tertentu bisa memicu jerawat, terutama di area hairline dan dahi.
- Residu conditioner, hair oil, hingga pomade bisa menyumbat pori tanpa disadari.
- Lebih selektif memilih produk dan rajin membersihkan residu dapat membantu mencegah breakout.
Jakarta: Sudah rajin skincare, tapi jerawat masih aja muncul? Rasanya pasti bikin kesel. Apalagi kalau rutinitas skincare sudah dijaga, tetapi breakout tetap datang tanpa diundang. Nah, jangan buru-buru menyalahkan skincare. Bisa jadi, yang perlu dicek justru produk rambutmu.
Menurut American Academy of Dermatology (AAD), beberapa produk rambut dapat memicu jerawat ketika residunya menempel pada kulit dan menyumbat pori. Breakout ini paling sering muncul di area garis rambut, dahi, pelipis, hingga belakang leher.

(Ilustrasi penggunaan hair oil yang sebaiknya tidak mengenai kulit wajah. Dok. Foto: AI)
Coba ingat-ingat, rambut kita hampir setiap hari bersentuhan dengan wajah. Jadi, sisa conditioner, hair oil, atau produk styling yang menempel di rambut bisa ikut berpindah ke kulit.
Kalau residu tersebut menyumbat pori, komedo dan jerawat bisa lebih mudah muncul. Makanya, kalau breakout-mu lebih sering nongol di sekitar hairline atau dahi bagian atas, produk rambut bisa jadi salah satu tersangkanya.
DermNet juga mengenal kondisi bernama pomade acne, yaitu jerawat yang berkaitan dengan penggunaan produk rambut berminyak.
Bukan berarti semua produk rambut pasti bikin jerawatan. Namun, beberapa jenis memang perlu lebih diperhatikan, terutama produk yang mengandung minyak atau sering menempel di kulit.
AAD menyebut sampo, conditioner, hair oil, pomade, hair wax, hair gel, hair paste, hingga hair spray sebagai produk yang bisa memicu breakout pada sebagian orang.
Kalau kamu baru ganti produk rambut lalu tiba-tiba muncul bruntusan di dahi atau sepanjang hairline, coba perhatikan polanya. Bisa jadi ada hubungannya.
Coba lihat lokasi dan waktunya. Jerawat yang berkaitan dengan produk rambut biasanya muncul di area yang sering terkena rambut atau residu produk, seperti hairline, dahi bagian atas, dan belakang leher.
Kalau polanya konsisten dan jerawat mulai muncul setelah memakai produk tertentu, coba stop dulu pemakaiannya selama beberapa minggu. Sementara itu, skincare-mu tetap jalan seperti biasa.
Dari sini, kamu bisa melihat apakah kondisi kulit mulai membaik.
Kabar baiknya, kamu nggak harus langsung buang semua produk rambut. AAD menyarankan memilih produk dengan label oil-free, non-comedogenic, atau won’t clog pores karena lebih kecil kemungkinannya menyumbat pori.
Kalau pakai hair oil, usahakan jangan sampai mengenai wajah. Fokuskan pemakaian pada bagian tengah hingga ujung rambut.
Selain itu, jangan lupa mencuci sarung bantal, topi, headband, dan aksesori rambut secara rutin. Residu produk yang menempel di benda-benda tersebut bisa kembali mengenai kulit.
Kalau sudah menghentikan produk pemicu, jangan berharap jerawat langsung hilang dalam beberapa hari. AAD menyebut kulit bisa membutuhkan sekitar 4–6 minggu untuk membaik.
Jadi, sebelum buru-buru gonta-ganti skincare karena jerawatan, coba cek juga isi rak haircare-mu. Bisa jadi, biang keroknya selama ini justru ada di sana.
Desi Indasari
(FIR)
Menurut American Academy of Dermatology (AAD), beberapa produk rambut dapat memicu jerawat ketika residunya menempel pada kulit dan menyumbat pori. Breakout ini paling sering muncul di area garis rambut, dahi, pelipis, hingga belakang leher.

(Ilustrasi penggunaan hair oil yang sebaiknya tidak mengenai kulit wajah. Dok. Foto: AI)
Kok produk rambut bisa bikin jerawatan?
Coba ingat-ingat, rambut kita hampir setiap hari bersentuhan dengan wajah. Jadi, sisa conditioner, hair oil, atau produk styling yang menempel di rambut bisa ikut berpindah ke kulit.
Kalau residu tersebut menyumbat pori, komedo dan jerawat bisa lebih mudah muncul. Makanya, kalau breakout-mu lebih sering nongol di sekitar hairline atau dahi bagian atas, produk rambut bisa jadi salah satu tersangkanya.
DermNet juga mengenal kondisi bernama pomade acne, yaitu jerawat yang berkaitan dengan penggunaan produk rambut berminyak.
Produk rambut apa yang perlu dicurigai?
Bukan berarti semua produk rambut pasti bikin jerawatan. Namun, beberapa jenis memang perlu lebih diperhatikan, terutama produk yang mengandung minyak atau sering menempel di kulit.
AAD menyebut sampo, conditioner, hair oil, pomade, hair wax, hair gel, hair paste, hingga hair spray sebagai produk yang bisa memicu breakout pada sebagian orang.
Kalau kamu baru ganti produk rambut lalu tiba-tiba muncul bruntusan di dahi atau sepanjang hairline, coba perhatikan polanya. Bisa jadi ada hubungannya.
Gimana cara tau penyebabnya produk rambut?
Coba lihat lokasi dan waktunya. Jerawat yang berkaitan dengan produk rambut biasanya muncul di area yang sering terkena rambut atau residu produk, seperti hairline, dahi bagian atas, dan belakang leher.
Kalau polanya konsisten dan jerawat mulai muncul setelah memakai produk tertentu, coba stop dulu pemakaiannya selama beberapa minggu. Sementara itu, skincare-mu tetap jalan seperti biasa.
Dari sini, kamu bisa melihat apakah kondisi kulit mulai membaik.
Nggak perlu stop semua haircare
Kabar baiknya, kamu nggak harus langsung buang semua produk rambut. AAD menyarankan memilih produk dengan label oil-free, non-comedogenic, atau won’t clog pores karena lebih kecil kemungkinannya menyumbat pori.
Kalau pakai hair oil, usahakan jangan sampai mengenai wajah. Fokuskan pemakaian pada bagian tengah hingga ujung rambut.
Selain itu, jangan lupa mencuci sarung bantal, topi, headband, dan aksesori rambut secara rutin. Residu produk yang menempel di benda-benda tersebut bisa kembali mengenai kulit.
Kalau sudah menghentikan produk pemicu, jangan berharap jerawat langsung hilang dalam beberapa hari. AAD menyebut kulit bisa membutuhkan sekitar 4–6 minggu untuk membaik.
Jadi, sebelum buru-buru gonta-ganti skincare karena jerawatan, coba cek juga isi rak haircare-mu. Bisa jadi, biang keroknya selama ini justru ada di sana.
Desi Indasari
(FIR)