- Ikat rambut terlalu kencang dan berulang bisa memicu traction alopecia.
- Kulit kepala yang terasa sakit setelah rambut diikat bisa menjadi tanda tarikan terlalu kuat.
- Mengurangi tarikan dan mengganti gaya rambut dapat membantu mencegah kerusakan folikel.
Jakarta: Rambut diikat kencang memang bikin look auto rapi. Ponytail sleek, cepol, atau kuncir tinggi juga praktis banget buat kerja sampai nongkrong. Tapi kalau hampir tiap hari rambut ditarik sampai kulit kepala terasa nyut-nyutan, nah, ini jangan cuma dianggap “ya namanya juga kunciran”.
Kebiasaan tersebut ternyata bisa memicu traction alopecia, yaitu kerontokan rambut akibat tarikan yang terjadi berulang pada folikel. American Academy of Dermatology (AAD) menjelaskan, gaya rambut yang terus menarik rambut seperti ponytail, bun, kepang ketat, cornrows, atau penggunaan hair extension dapat meningkatkan risiko kondisi ini.

(Perempuan melonggarkan ikatan ponytail. Foto: AI Generated)
Kok bisa sampai bikin rontok?
Bukan berarti setiap kali rambut diikat, folikel langsung menyerah. Masalahnya ada pada seberapa kuat dan seberapa sering rambut ditarik.
Review ilmiah karya Victoria Billero dan Mariya Miteva dari Department of Dermatology and Cutaneous Surgery, University of Miami School of Medicine, yang diterbitkan di Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology, menjelaskan bahwa risiko traction alopecia berkaitan dengan kekuatan serta durasi tarikan pada rambut. Ponytail atau bun yang terlalu ketat termasuk gaya yang berisiko.
Jadi, kalau ponytail dibuat super kencang setiap hari dan terus menarik area yang sama, folikel rambut bisa mendapat tekanan berulang. Lama-lama, rambut di area tersebut dapat mulai menipis.
Kalau sakit, berarti terlalu kencang?
Yes, itu salah satu alarmnya. AAD memberikan patokan sederhana: kalau gaya rambut terasa sakit, berarti rambut kemungkinan ditarik terlalu kencang.
Selain nyeri, perhatikan juga rasa perih atau menyengat di kulit kepala, rambut patah di sekitar dahi, muncul kerak, garis rambut yang mulai mundur, atau bagian tertentu yang makin tipis.
Bukti klinisnya juga ada. Studi retrospektif yang dilakukan peneliti dari Albert Einstein College of Medicine dan Montefiore Medical Center di Bronx, New York, mengevaluasi 216 pasien dengan traction alopecia. Studi tersebut diterbitkan di Clinical and Experimental Dermatology. Dari pasien yang melakukan kontrol lanjutan, sekitar 42,5 persen mengalami perbaikan kerontokan atau gejalanya.
Terus harus berhenti ponytail?
Nggak juga, kok. AAD menyarankan mengurangi gaya yang menarik rambut terlalu kencang, melonggarkan ikatan, dan mengganti gaya rambut secara berkala. Intinya, jangan biarkan area rambut yang sama terus-terusan “kerja rodi”.
Kalau sudah muncul penipisan atau garis rambut makin mundur, jangan cuma ganti karet rambut lalu berharap beres. Konsultasi ke dokter kulit bisa membantu memastikan apakah kerontokan memang berkaitan dengan tarikan atau ada penyebab lain.
Soalnya, traction alopecia yang berlangsung lama bisa menyebabkan kerusakan folikel dan berujung pada kerontokan permanen. Jadi, ponytail boleh. Yang jangan: ponytail sampai kulit kepala protes.
Desi I.
(FIR)