BEAUTY
Spill Rahasia Glowing Tradisional: Badabida, Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili
Yatin Suleha
Kamis 10 September 2026 / 20:49
- Jauh sebelum skincare kemasan modern ramai di pasaran, perempuan Kaili di Sulawesi Tengah sudah punya rahasia kecantikan sendiri.
- Mereka mengandalkan ketan hitam sebagai bahan utama ritual perawatan kulit.
- Lewat tradisi nombungu, calon pengantin bakal memanjakan tubuh dan wajah menggunakan olahan bahan alami, salah satunya ya masker ketan hitam ini.
Jakarta: Jauh sebelum skincare kemasan modern ramai di pasaran, perempuan Kaili di Sulawesi Tengah sudah punya rahasia kecantikan sendiri buat persiapan nikah. Mereka mengandalkan ketan hitam sebagai bahan utama ritual perawatan kulit.
Racikan lulur alami ini dikenal dengan nama Badabida. Lewat tradisi nombungu, calon pengantin bakal memanjakan tubuh dan wajah menggunakan olahan bahan alami, salah satunya ya masker ketan hitam ini.
“Dulu Badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam Ayu Kusuma, pendiri Nelamayu Tradisional di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Dulu, badabida cuma berbentuk bedak atau masker sederhana. Supaya lebih praktis dipakai sekarang, Nelam mengembangkannya jadi body scrub.
Tapi Nelam gak mau produk ini cuma dianggap sekadar skincare alami biasa. Buat dia, nilai utamanya justru ada pada kisah perempuan Kaili dan warisan tradisi keluarga yang tersimpan di dalamnya.
Selain badabida, Nelam juga mendalami resep bada kumba, yaitu bedak dingin beras dan rempah khas keluarganya. Resep ini diwarisi dari neneknya, seorang perawat herbal kampung pada masa pendudukan Jepang.
Saat obat-obatan sulit didapat, sang nenek meracik sendiri bedak dari campuran beras, daun basakaling (kodombuku), kunyit kayu, kencur, dan beragam rempah lainnya.
Racikan yang awalnya dipakai turun-temurun untuk merawat kulit bayi ini dipelajari ulang oleh Nelam agar tradisinya gak terputus.

(Nelamayu menghadirkan produk tradisional Kaili yang aman, berkelanjutan, dan memberdayakan petani. Foto: Dok. Nelamayu)
Dari sinilah Nelamayu Tradisional lahir pada 2018. Bermula dari langganan calon pengantin yang menjalani tradisi nombungu, kini produknya makin diminati masyarakat luas yang menyukai perawatan alami berbasis tradisi Nusantara.
“Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tetapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung,” kata Nelam.
Mengubah resep keluarga jadi produk jualan gak cukup cuma modal polesan kemasan baru. Nelam juga harus paham standar kebersihan, keamanan produk, kategori yang pas, urusan izin legal, sampai batas klaim manfaat yang diperbolehkan.
Titik balik Nelamayu Tradisional baru terasa saat ikut program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari pada 2023. Selama enam bulan, Nelam dapat pendampingan intensif—mulai dari pengembangan produk, penguatan bisnis, pengurusan perizinan, sampai strategi pemasaran dan akses ke pasar yang lebih luas.
“Pendampingan kami fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin produk seperti Nelamayu Tradisional dapat tumbuh secara ekonomi tanpa kehilangan nilai budaya dan lingkungannya,” ujar Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi Lestari.
Pendampingan ini membantu Nelam memperjelas posisi produknya agar sesuai regulasi kosmetik tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.
Ketan hitam untuk badabida diserap langsung dari petani Dolo Barat, Sigi, hingga 25 kilogram per pembelian. Proses produksinya pun minim limbah: sisa dedak dijadikan pakan ternak, sementara abu sangrai dimanfaatkan untuk abu gosok.
Nedya menilai praktik ini sebagai bentuk nyata ekonomi restoratif—alam terjaga, budaya lestari, dan ekonomi warga terangkat. Langkah ini turut didukung Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) untuk memperkuat ekosistem lokal yang berkelanjutan.
Bagi Nelam, badabida dan bada kumba bukan sekadar produk kecantikan, melainkan media untuk mengenalkan warisan cerita perempuan Kaili kepada generasi baru.
(TIN)
Racikan lulur alami ini dikenal dengan nama Badabida. Lewat tradisi nombungu, calon pengantin bakal memanjakan tubuh dan wajah menggunakan olahan bahan alami, salah satunya ya masker ketan hitam ini.
“Dulu Badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam Ayu Kusuma, pendiri Nelamayu Tradisional di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Dulu, badabida cuma berbentuk bedak atau masker sederhana. Supaya lebih praktis dipakai sekarang, Nelam mengembangkannya jadi body scrub.
Tapi Nelam gak mau produk ini cuma dianggap sekadar skincare alami biasa. Buat dia, nilai utamanya justru ada pada kisah perempuan Kaili dan warisan tradisi keluarga yang tersimpan di dalamnya.
Berawal dari resep sang nenek
Selain badabida, Nelam juga mendalami resep bada kumba, yaitu bedak dingin beras dan rempah khas keluarganya. Resep ini diwarisi dari neneknya, seorang perawat herbal kampung pada masa pendudukan Jepang.
Saat obat-obatan sulit didapat, sang nenek meracik sendiri bedak dari campuran beras, daun basakaling (kodombuku), kunyit kayu, kencur, dan beragam rempah lainnya.
Racikan yang awalnya dipakai turun-temurun untuk merawat kulit bayi ini dipelajari ulang oleh Nelam agar tradisinya gak terputus.

(Nelamayu menghadirkan produk tradisional Kaili yang aman, berkelanjutan, dan memberdayakan petani. Foto: Dok. Nelamayu)
Dari sinilah Nelamayu Tradisional lahir pada 2018. Bermula dari langganan calon pengantin yang menjalani tradisi nombungu, kini produknya makin diminati masyarakat luas yang menyukai perawatan alami berbasis tradisi Nusantara.
“Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tetapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung,” kata Nelam.
Membawa tradisi ke pasar modern
Mengubah resep keluarga jadi produk jualan gak cukup cuma modal polesan kemasan baru. Nelam juga harus paham standar kebersihan, keamanan produk, kategori yang pas, urusan izin legal, sampai batas klaim manfaat yang diperbolehkan.
Titik balik Nelamayu Tradisional baru terasa saat ikut program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari pada 2023. Selama enam bulan, Nelam dapat pendampingan intensif—mulai dari pengembangan produk, penguatan bisnis, pengurusan perizinan, sampai strategi pemasaran dan akses ke pasar yang lebih luas.
“Pendampingan kami fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin produk seperti Nelamayu Tradisional dapat tumbuh secara ekonomi tanpa kehilangan nilai budaya dan lingkungannya,” ujar Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi Lestari.
Pendampingan ini membantu Nelam memperjelas posisi produknya agar sesuai regulasi kosmetik tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.
Pemberdayaan petani dan ekonomi sirkular
Ketan hitam untuk badabida diserap langsung dari petani Dolo Barat, Sigi, hingga 25 kilogram per pembelian. Proses produksinya pun minim limbah: sisa dedak dijadikan pakan ternak, sementara abu sangrai dimanfaatkan untuk abu gosok.
Nedya menilai praktik ini sebagai bentuk nyata ekonomi restoratif—alam terjaga, budaya lestari, dan ekonomi warga terangkat. Langkah ini turut didukung Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) untuk memperkuat ekosistem lokal yang berkelanjutan.
Bagi Nelam, badabida dan bada kumba bukan sekadar produk kecantikan, melainkan media untuk mengenalkan warisan cerita perempuan Kaili kepada generasi baru.
(TIN)