BEAUTY
Viral di Tiongkok! Tren “High Skull” Bikin Bentuk Kepala Tinggi Jadi Standar Cantik Baru
A. Firdaus
Kamis 21 Mei 2026 / 18:16
- Tren yang sedang ramai di media sosial ini membuat banyak orang rela mengubah bentuk kepala.
- Berbagai tutorial kecantikan pun bermunculan di media sosial.
- Salah satu prosedur yang paling menuai kontroversi adalah penggunaan semen tulang.
Jakarta: Dunia kecantikan kembali dibuat heboh, dengan munculnya tren ekstrem asal Tiongkok bernama ‘High Skull’. Tren yang sedang ramai di media sosial ini membuat banyak orang rela mengubah bentuk kepala, demi mendapatkan tampilan tengkorak yang terlihat lebih tinggi dan menonjol. Hal yang dulu dianggap biasa kini justru dijadikan simbol kecantikan modern.
Dilansir dari Ratopati, konsep dari tren ini sebenarnya cukup unik. Seseorang dianggap memiliki bentuk wajah ideal, jika jarak antara garis rambut ke bagian paling atas tengkorak lebih panjang, dibanding jarak dari alis ke garis rambut. Tampilan tersebut dikenal dengan istilah ‘face-hugging’, yaitu bentuk kepala yang membuat wajah terlihat lebih kecil dan proporsional.
Awalnya, banyak orang mencoba mengikuti tren ini, dengan cara yang masih tergolong sederhana. Industri kecantikan di Tiongkok mulai menjual berbagai produk, seperti jepit rambut khusus penambah volume, spray rambut, hingga teknik hairstyling tertentu, untuk membuat bagian atas kepala atau 'mahkota' terlihat lebih tinggi.
Berbagai tutorial kecantikan pun bermunculan di media sosial. Banyak konten kreator menunjukkan cara menciptakan ilusi tengkorak tinggi hanya lewat penataan rambut. Namun, bagi sebagian orang, hasil sementara seperti itu dianggap belum cukup memuaskan.
Karena ingin mendapatkan hasil yang lebih permanen, sebagian orang akhirnya memilih prosedur kosmetik yang jauh lebih ekstrem. Mulai dari suntikan asam hialuronat, pemasangan implan plastik, hingga penggunaan semen tulang dilakukan demi mengubah bentuk kepala, agar terlihat lebih tinggi.
Dalam prosedur tertentu, dokter membuat sayatan sepanjang 3 hingga 6 cm di kulit kepala, sebelum memasukkan bahan tambahan ke dalamnya. Bahkan, beberapa prosedur menggunakan teknologi implan cetak 3D seperti PEEK, pelat titanium, hingga cangkok tulang untuk membentuk struktur tengkorak baru.
Salah satu prosedur yang paling menuai kontroversi adalah penggunaan semen tulang. Material yang biasanya dipakai dalam operasi ortopedi untuk memperbaiki sendi tersebut, kini digunakan untuk membentuk kepala. Prosesnya dilakukan dengan membuat lubang di kepala, lalu bahan tersebut disuntikkan dan dibentuk sebelum mengeras.
Meski dianggap bisa memberikan hasil instan, prosedur-prosedur tersebut ternyata menyimpan banyak risiko kesehatan. Media sosial Tiongkok dipenuhi cerita orang-orang, yang mengalami efek samping serius setelah mengikuti tren ‘High Skull’.
Suntikan asam hialuronat, misalnya, memang sering dianggap lebih aman dibanding operasi besar. Namun, dokter memperingatkan bahwa penggunaan bahan tersebut dalam jumlah berlebihan di area kepala, dapat menimbulkan tekanan pada jaringan kulit, dan menghambat aliran darah menuju folikel rambut. Kondisi itu bisa menyebabkan kerontokan parah hingga kebotakan permanen.
Selain risiko fisik, tren ini juga memicu kekhawatiran soal kesehatan mental. Banyak anak muda merasa tertekan untuk mengikuti standar kecantikan baru, yang dinilai semakin tidak realistis dan ekstrem.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dilansir dari Ratopati, konsep dari tren ini sebenarnya cukup unik. Seseorang dianggap memiliki bentuk wajah ideal, jika jarak antara garis rambut ke bagian paling atas tengkorak lebih panjang, dibanding jarak dari alis ke garis rambut. Tampilan tersebut dikenal dengan istilah ‘face-hugging’, yaitu bentuk kepala yang membuat wajah terlihat lebih kecil dan proporsional.
Berawal dari trik styling rambut
Awalnya, banyak orang mencoba mengikuti tren ini, dengan cara yang masih tergolong sederhana. Industri kecantikan di Tiongkok mulai menjual berbagai produk, seperti jepit rambut khusus penambah volume, spray rambut, hingga teknik hairstyling tertentu, untuk membuat bagian atas kepala atau 'mahkota' terlihat lebih tinggi.
Berbagai tutorial kecantikan pun bermunculan di media sosial. Banyak konten kreator menunjukkan cara menciptakan ilusi tengkorak tinggi hanya lewat penataan rambut. Namun, bagi sebagian orang, hasil sementara seperti itu dianggap belum cukup memuaskan.
Operasi dan suntikan mulai jadi pilihan
Karena ingin mendapatkan hasil yang lebih permanen, sebagian orang akhirnya memilih prosedur kosmetik yang jauh lebih ekstrem. Mulai dari suntikan asam hialuronat, pemasangan implan plastik, hingga penggunaan semen tulang dilakukan demi mengubah bentuk kepala, agar terlihat lebih tinggi.
Dalam prosedur tertentu, dokter membuat sayatan sepanjang 3 hingga 6 cm di kulit kepala, sebelum memasukkan bahan tambahan ke dalamnya. Bahkan, beberapa prosedur menggunakan teknologi implan cetak 3D seperti PEEK, pelat titanium, hingga cangkok tulang untuk membentuk struktur tengkorak baru.
Salah satu prosedur yang paling menuai kontroversi adalah penggunaan semen tulang. Material yang biasanya dipakai dalam operasi ortopedi untuk memperbaiki sendi tersebut, kini digunakan untuk membentuk kepala. Prosesnya dilakukan dengan membuat lubang di kepala, lalu bahan tersebut disuntikkan dan dibentuk sebelum mengeras.
Risiko kesehatan yang mengkhawatirkan
Meski dianggap bisa memberikan hasil instan, prosedur-prosedur tersebut ternyata menyimpan banyak risiko kesehatan. Media sosial Tiongkok dipenuhi cerita orang-orang, yang mengalami efek samping serius setelah mengikuti tren ‘High Skull’.
Suntikan asam hialuronat, misalnya, memang sering dianggap lebih aman dibanding operasi besar. Namun, dokter memperingatkan bahwa penggunaan bahan tersebut dalam jumlah berlebihan di area kepala, dapat menimbulkan tekanan pada jaringan kulit, dan menghambat aliran darah menuju folikel rambut. Kondisi itu bisa menyebabkan kerontokan parah hingga kebotakan permanen.
Selain risiko fisik, tren ini juga memicu kekhawatiran soal kesehatan mental. Banyak anak muda merasa tertekan untuk mengikuti standar kecantikan baru, yang dinilai semakin tidak realistis dan ekstrem.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)