Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap baitnya mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, yang mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu.
Macapat adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap baitnya mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, yang mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu.

Di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat awalnya macapat hanya untuk memenuhi kebutuhan tembang raja dan kerabat. Seiring berjalannya waktu, pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VII para abdi dalem keraton diperbolehkan belajar macapat.
Di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat awalnya macapat hanya untuk memenuhi kebutuhan tembang raja dan kerabat. Seiring berjalannya waktu, pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VII para abdi dalem keraton diperbolehkan belajar macapat.
Kini sekolah macapat diperuntukkan kepada segala lapisan masyarakat, tidak memandang strata, asal-usul, dan usia. Sekolah tersebut tanpa dipungut biaya.
Kini sekolah macapat diperuntukkan kepada segala lapisan masyarakat, tidak memandang strata, asal-usul, dan usia. Sekolah tersebut tanpa dipungut biaya.
Sekolah Macapat Krida Mardhawa menerapkan tiga jenjang kelas, yakni Macapat Sekar Alit (kelas pemula), Sekar Tengahan (kelas menengah) dan Sekar Ageng (kelas utama).
Sekolah Macapat Krida Mardhawa menerapkan tiga jenjang kelas, yakni Macapat Sekar Alit (kelas pemula), Sekar Tengahan (kelas menengah) dan Sekar Ageng (kelas utama).
Dalam macapat, alur kehidupan manusia dikisahkan. Bermula dari lahir (Mijil), kanak-kanak (Kinanthi), remaja (Sinom), jatuh cinta (Asmarandhana), pernikahan (Gambuh), manisnya pernikahan (Dhandanggula), getirnya perjuangan hidup (Durmo), menjadi tua (Pangkur), meninggal dunia (Megatruh), dimakamkan (Pucung) dan menanti pengadilan dari Tuhan (Maskumabang).
Dalam macapat, alur kehidupan manusia dikisahkan. Bermula dari lahir (Mijil), kanak-kanak (Kinanthi), remaja (Sinom), jatuh cinta (Asmarandhana), pernikahan (Gambuh), manisnya pernikahan (Dhandanggula), getirnya perjuangan hidup (Durmo), menjadi tua (Pangkur), meninggal dunia (Megatruh), dimakamkan (Pucung) dan menanti pengadilan dari Tuhan (Maskumabang).
Macapat sarat akan falsafah kehidupan dan kebijaksaan budaya Jawa. Seperti yang dilakukan mereka yang ikut sekolah macapat yakni untuk melestarikan macapat hingga generasi mendatang dan tetap tumbuh dalam kesantunan layaknya ajaran dalam budaya Jawa.
Macapat sarat akan falsafah kehidupan dan kebijaksaan budaya Jawa. Seperti yang dilakukan mereka yang ikut sekolah macapat yakni untuk melestarikan macapat hingga generasi mendatang dan tetap tumbuh dalam kesantunan layaknya ajaran dalam budaya Jawa.

Para Penjaga Sastra Jawa

19 Desember 2017 15:15
Yogyakarta: Lantunan tembang macapat terdengar sayup-sayup dari bangunan lawas di ujung jalan Rotowijayan, sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sinar mentari sore itu menerobos dari kaca jendela, menerangi ruangan kecil berukuran 3x4 meter tempat pamulangan sekar atau sekolah macapat Krida Mardhawa yang berdiri sejak 1960. ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(WWD)

Rona kebudayaan