Pidie: Gangguan hama wereng cokelat terhadap tanaman padi musim rendengan (musim tanam pertama) di kawasan Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, telah menjadi momok menakutkan bagi petani setempat. Apalagi dari 22 kecamatan yang memiliki lahan sawah produktif, sebanyak 19 diantaranya telah menyebar serangan hama berbahaya itu.
Anehnya, peredaran benih galur (benih ilegal tidak ada izin sebar) di kawasan Kabupaten Pidie dan sekitarnya sangat bebas. Lalu cukup akrab dengan petani dan mudah didapati dipasaran, toko-toko penjualan benih, pada agen penyalur atau dimana saja.
Padahal sesuai penelusuran Media Indonesia, sejak dua pekan lalu hingga Minggu, 25 Februari 2024, cepatnya meluas serangan hama wereng cokelat dan tinggi populasi hama penghisap cairan batang padi itu diduga terpicu karena banyak pemakaian benih galur oleh petani setempat.
Benih galur itu selain lemah imun kekebalan, juga sangat rawan terserang dan mudah berkembang hama penyakit. Sehingga menjadi sumber penyebaran hama ke lahan sawah varietas benih lain (benih sudah uji laboratorium yang dianjurkan tanam pemerintah).
Dari penelusuran Media Indonesia, berbagai varietas benih galur dijual bebas di kawasan Kabupaten Pidie dan sekitarnya. Antara lain yaitu Cibatu (Ciherang-batu), Bojeng (persilangan Cibatu-Boma), Kabir (Karawang-Bireuen), dan Srikandi.
Adapun jenis paling banyak digunakan petani di Pidie dan sekitarnya adalah varietas Cibatu. Alasannya Cibatu bisa menghasilkan produksi panen lebih besar dari jenis galur lainnya yakni mencapa 12 ton/Ha (Hektare).
Karena cukup diminati petani, benih ilegal varietas Cibatu pun berbagai turunan. Yaitu Cibatu F1, Cibatu F2, Cibatu F3, Cibatu F4 dan Cibatu F5. Karena banyaknya jenis benih galur sehingga hampir sama jumlahnya dengan benih penangkar resmi dan sangat sulit membedakan, kecuali yang ilegal tidak tertera label dari pemerintah terkait.
Karena demikian, siapa saja yang hendak memperoleh benih galur berbagai corak sangat mudah mendapatkan dipasaran. Itu tersedia di toko penjualan benih, pada agen penyalur dan banyak juga dijual oleh orang-orang tertentu yang memiliki jaringan benih.
Benih galur yang sebenarnya ilegal atau liar itu ternyata tidak tersembunyi penjualannya sedikitpun. Bahkan para penjual atau angen penyalur dengan gamblang menawarkan kepada petani atau pemilik lahan sawah.
Pakar Ilmu Tanah yang Dosen Pertanian Universitas Syi'ah Kuala (USK), kepada Media Indonesia, Senin, 26 Februari 2024 mengatakan, maraknya peredaran benih galur di pasaran Aceh itu sangat merugikan petani. Pasalnya benih tanpa sertifikasi dan tidak memiliki izin sebar itu tidak sangat diragukan kekebalan dari serangan hama penyakit.
Apalagi benih liar tersebut sebelum dipasarkan tidak dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui apakah layak digunakan oleh petank atau malah mengundang masalah serius. Dalam hal ini pemerintah harus mencari dan mendeteksi siapa pelakunya.
Helmi yang merupakan lulusan Doktoral Universitas Nagoya Jepang itu mewanti-wanti, akibat peredaran benih galur itu sangat merugikan petani. Misalnya pemicu cepatnya populasi hama wereng cokelat di Kabupaten Pidie
akibat petani ramai menanam benih galur.
Lalu juga sangat merugikan penangkaran benih resmi yang memiliki izin sebar dari pemerintah. Selain mereka membayar pajak kepad negara juga merugikan usaha sebagai sendiri perekonomian di sektor pertanian.
"Ini sama dengan menipu pemerintah dan membajak bisnis penangkar profesional. Kalau tidak ditertibkan sangat berbahaya serta merugikan. Apalagi ditengah gonjang ganjing persolan beras dan tingginya harga beras," tutur lelaki kelahiran Pidie itu. MI/Amiruddin Abdullah Reubee Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News