Aceh: Kelangkaan BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi jenis solar, sejak sekitar sebulan terkhir di kawasan Provinsi Aceh, meresahkan banyak kalangan. Kondisi ini telah terganggu kegiatan mencari nafkah dan mempengaruhi perekonomian masyarakat di ujung barat pulau Sumatera.
Misalnya, ribuan nelayan tradisional Aceh terpaksa berhenti melaut. Mereka adalah nelayan perahu kayu yang biasanya mencari ikan di Selat Malaka dan Samudera Hindia.
Pasalnya, kaum nelayan kecil itu sulit memperoleh BBM jenis solar bersubsidi. SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) yang seharusnya menyediakan solar bersubsidi untuk nelayan kecil, tapi sekarang berulah atau berpaling kepihak lain.
Ketua Dewan Pengurus Daerah KNTI (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia), Aceh, Azwar Anas, Sabtu, 23 Oktober 2021, mengatakan, phaknya telah menempuh berbagai cara untuk mengatasi krisis BBM bersubsidi untuk nelayan kecil. Tapi keprihatinan ini terus berulang setiap tahun. Ironisnya kelangkaan sering terjadi setiap tiba bulan Oktober hingga November.
Dikatakan Azwar Anas, untuk memperoleh BBM bersubsidi, para nelayan tradisional Aceh seperti bekompetisi dengan pihak rekanan Proyek atau industri kebun sawit. Hal ini semakin di curigai yaitu musim produksi ikan saat laut tidak ada gelombang, bersamaan dengan waktu realisasi pekerjaan proyek pembangunan di Aceh yang sering berpacu pada Bulan Oktober hingga Desember. MI/Amirudin Abdullah Reubee Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News