Jakarta: Produksi padi dan jagung nasional meningkat sepanjang 2025 di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan. Pengadaan beras, penguatan cadangan, pembangunan irigasi, dan pemanfaatan teknologi pertanian menjadi bagian dari langkah tersebut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi pada 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 13,29% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi beras untuk konsumsi penduduk mencapai 34,69 juta ton. Sementara itu, produksi jagung pipilan kering berkadar air 14% meningkat 6,74% menjadi 16,16 juta ton.
Pada sisi pengadaan, Perum BULOG melaporkan realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri mencapai 4,13 juta ton setara beras hingga 11 Oktober 2026. Jumlah tersebut setara 103,29?ri target pemerintah sebesar 4 juta ton.
Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani menyebut pencapaian itu merupakan hasil kerja sama berbagai pihak di sentra produksi.
“Keberhasilan melampaui target ini menjadi bukti bahwa dengan kerja bersama, amanah Pemerintah dapat kita jalankan secara optimal,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Jumat, 9 Oktober 2026.
Badan Pangan Nasional mencatat Cadangan Beras Pemerintah berada pada kisaran 4,6 juta ton per 18 September 2026. Pemerintah juga menyiapkan bantuan beras bagi 33,24 juta penerima untuk periode Oktober–Desember 2026, masing-masing 10 kilogram per bulan.
Penguatan produksi turut didukung pembangunan infrastruktur pertanian. Kementerian Pekerjaan Umum melaporkan jaringan irigasi yang dibangun dan direhabilitasi pada 2025 melayani sekitar 589.606 hektare, dengan target cakupan 750.000 hektare pada 2026.
Sejumlah daerah menjadi penopang produksi nasional, termasuk Jawa Timur dengan produksi 10,44 juta ton GKG dan Jawa Barat 10,23 juta ton GKG pada 2025. Di luar Jawa, Sulawesi Selatan menghasilkan 5,47 juta ton GKG, sedangkan Sumatera Selatan mencapai 3,63 juta ton GKG.
Modernisasi pertanian juga didorong melalui teknologi digital, termasuk sensor tanah untuk membantu pemantauan lahan dan penggunaan pupuk. Kementerian Komunikasi dan Digital menilai penerapan teknologi perlu menjangkau petani di wilayah produksi.
Meski produksi dan pengadaan meningkat, ketahanan pangan masih menghadapi tantangan, seperti stabilitas harga konsumen, kelancaran distribusi, perlindungan pendapatan petani, dan risiko cuaca ekstrem. Karena itu, keberlanjutan produksi serta pemerataan akses pangan tetap menjadi perhatian memasuki tahun ketiga pemerintahan Prabowo-Gibran. MI/Moh Irfan Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News