Perkumpulan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Jawa Tengah menyatakan, kekacauan harga beras di pasar sekarang yang bertahan dengan harga tinggi ini, karena akibat keterlambatan pemerintah menggelontor beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) ke pasar.
Perkumpulan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Jawa Tengah menyatakan, kekacauan harga beras di pasar sekarang yang bertahan dengan harga tinggi ini, karena akibat keterlambatan pemerintah menggelontor beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) ke pasar.
"Ya akhirnya membuat pemerintah repot, pengusaha beras mumet, dan masyarakat menjadi terus was-was dengan harga yang bertahan tinggi. Untungnya beberapa hari terakhir sudah turun dikit meski, seiring langkah Bulog menggerojok SPHP untuk konsumen di pasar," tukas Ketua Perpadi Jateng, Tulus Budiono kepada Media Indonesia, Kamis, 22 Februari 2024 sore di Solo.

Perpadi Jateng: Harga Beras Tinggi Karena Pemerintah Telat Mengantisipasi

22 Februari 2024 17:25
Solo: Perkumpulan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Jawa Tengah menyatakan, kekacauan harga beras di pasar sekarang yang bertahan dengan harga tinggi ini, karena keterlambatan pemerintah menggelontor beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) ke pasar.

"Ya akhirnya membuat pemerintah repot, pengusaha beras mumet, dan masyarakat menjadi terus was-was dengan harga yang bertahan tinggi. Untungnya beberapa hari terakhir sudah turun dikit meski, seiring langkah Bulog menggerojok SPHP untuk konsumen di pasar," tukas Ketua Perpadi Jateng, Tulus Budiono kepada Media Indonesia, Kamis, 22 Februari 2024 sore di Solo.

Situasi perberasan di tanah air yang bertahan dengan harga tinggi ini, lanjut dia, hingga pekan kedua dan ketiga April nanti, diyakini masih sulit dinormalkan. Harga akan tetap tinggi, karena panen belum merata, dan yang sudah waktunya panen besar seperti Demak dan juga Grobogan hancur diterjang banjir.

Kalangan pengusaha anggota Perpadi, harus terus mengejar wilayah panen yang belum merata. Bulog dikehendaki masih memegang peran utama menggelontor beras SPHP dan beras komersil ke pasar, sebagai upaya menahan harga, sebelum panen raya.

Kondisi sekarang, distributor boleh dibilang kosong stok, pasokan pasar terbatas, dan penggilingan masih pontang panting. Perpadi menganggap, saran Mendag Zulkifli Hasan, agar masyarakat makan beras Bulog kalau harga beras tetap tinggi, adalah realistis untuk saat ini.

"Ya karena stok masih minim, Kami masih kesulitan mendapat gabah dalam jumlah besar ke wilayah produsen yang masa panennya tidak merata. Jadi mungkin masa Ramadan hingga Lebaran, harga masih tinggi. Baru pekan kedua dan ketika April nanti, harga bisa dinormalkan," tegas dia.

Karena itu, Perpadi Jateng sangat mendukung rencana pemerintah menggelontorkan beras komersil selama Ramadan dan Lebaran, untuk menekan harga. Informasi yang diperoleh, bahwa pemerintah akan menggelontor 50 ribu ton beras komersil untuk DKI Jakarta, dan Pulau Jawa sebanyak Rp 150 ribu ton.

"Ya agar rasanya tetap enak, beras komersil (beras importasi) itu harus dioplos dengan beras lokal. Ini sebagai langkah untuk menekan harga sebelum panen raya," tegas Tulus.

Pada bagian lain, Ketua Paguyuban Petani Pengguna Air Irigasi Dam Colo Timur, Sarjanto Jigong mengatakan, sebaiknya pasar tetap ramah untuk petani. "Petani baru mau seneng. Mudah mudahan masih bisa menikmati saat panen April nanti," kata Jigong. MI/Widjajadi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(CDE)

News Harga Beras Beras Jawa Tengah