Jakarta: Memasuki H+5 arus balik Idulfitri 1447 Hijriah, aktivitas perlintasan orang di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang dikelola Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) mulai menunjukkan tren penurunan. Meski demikian, posko layanan kesehatan yang disiagakan sejak 14 Maret 2026 tetap beroperasi penuh hingga 30 Maret 2026.
Berdasarkan pantauan petugas, puncak lonjakan pelintas terjadi pada 19–20 Maret 2026. Memasuki arus balik, mobilitas masyarakat berangsur normal, namun kesiapsiagaan layanan kesehatan tetap dipertahankan sebagai langkah antisipasi.
Selama masa operasional posko, seluruh layanan kesehatan berjalan lancar tanpa ditemukan kasus darurat yang memerlukan rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan. Hingga 26 Maret 2026, tercatat sebanyak 48 kunjungan dengan rata-rata empat pasien per hari selama 13 hari operasional.
Jumlah kunjungan meningkat secara bertahap sejak awal pembukaan posko, dengan puncak pada H-2 Lebaran dan kembali meningkat pada H+2 Lebaran.
Dari sisi jenis keluhan, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi kasus paling dominan. Kondisi ini dipengaruhi cuaca lembap serta tingginya mobilitas pelintas. Selain itu, petugas juga menangani keluhan nyeri kepala akibat kelelahan dan dehidrasi, demam yang memerlukan observasi, serta penyakit tidak menular seperti hipertensi dan hiperkolesterol.
Sebagai upaya deteksi dini, petugas telah melakukan skrining terhadap 7.480 pelintas menggunakan thermal scanner. Hasilnya, seluruh pelintas tercatat memiliki suhu tubuh di bawah ambang demam.
Kepala PLBN Skouw Ni Luh Puspa Jayaningsih menegaskan posko kesehatan memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan kesehatan di wilayah perbatasan, khususnya pada momentum mudik dan arus balik Lebaran.
“Posko kesehatan ini tidak hanya melayani masyarakat, tetapi juga menjadi sistem deteksi dini terhadap potensi risiko penyakit yang masuk dari luar wilayah. Kami melihat adanya perubahan pola penyakit di masyarakat perbatasan, sehingga ke depan dibutuhkan pendekatan kesehatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan,” ujarnya, Minggu, 29 Maret 2026.
Ia juga menambahkan bahwa tingginya mobilitas masyarakat saat Lebaran perlu diimbangi dengan kesadaran menjaga kesehatan. Berdasarkan data pemeriksaan di lapangan, sebanyak 62,5 persen pelintas yang memanfaatkan layanan posko tercatat sebagai perokok aktif. Kondisi tersebut dinilai dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama di tengah dominasi kasus ISPA dan potensi penyebaran penyakit berbasis droplet.
Untuk itu, masyarakat diimbau agar mulai mengurangi kebiasaan merokok, menggunakan masker di area keramaian, menjaga daya tahan tubuh, serta tidak mengabaikan gejala awal penyakit. Pemanfaatan layanan posko kesehatan juga terus didorong sebagai langkah preventif melalui pemeriksaan dan konsultasi kesehatan secara berkala.
Dengan kondisi yang tetap terkendali hingga H+5 Lebaran, layanan kesehatan di PLBN Skouw menunjukkan kesiapsiagaan yang optimal dalam mendukung kelancaran arus mudik dan balik Idulfitri 1447 Hijriah.
Lebih dari sekadar layanan yang bersifat sementara, kehadiran posko kesehatan ini menegaskan komitmen PLBN Skouw yang dikelola BNPP RI sebagai garda terdepan negara dalam menjaga keamanan, kenyamanan, dan kesehatan masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia–Papua Nugini. Dok. Istimewa Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News