Pontianak: Suasana Kota Sintang, ibu kota Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat perlahan mulai menunjukkan geliatnya kembali setelah hampir satu bulan sebagian besar wilayahnya terendam banjir.
Jalur utama dalam kota seperti Jalan Lintas Melawi yang sempat terendam cukup tinggi, kini sudah dapat dilewati meski di lokasi yang berada bantaran sungai, ketinggian air masih sepinggang orang dewasa.
Banjir yang disebut-sebut paling besar dalam kurun waktu 50 tahun terakhir itu menyisakan sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam jangka pendek dan panjang. Termasuk penyebab utama dan upaya pencegahan agar tidak terulang.
Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (Ditjen PDASHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Helmi Basalamah menyatakan, banjir yang terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas di Kalimantan Barat, terutama di daerah cekungan dari sungai yang berkelok. Areal terdampak memang berada pada sempadan sungai yang merupakan rawa belakang atau back swamp.
Curah hujan lebat terjadi sejak akhir Oktober sampai awal November 2021 yang secara kumulatif sebesar 294 milimeter (mm) menghasilkan debit banjir sebesar 15.877,12 meter kubik (m3) per detik, melebihi kapasitas tampung sungai sebesar 12.279,80 m3 per detik sehingga terjadi luapan dengan debit 3.597,32 m3 per detik.
Bagian hulu Daerah Tangkapan Air (DTA) lokasi banjir didominasi oleh lereng curam sampai dengan sangat curam. Lokasi-lokasi banjir merupakan meander serta cekungan yang berada di hilir DAS dan merupakan dataran rendah dengan sistem lahan berupa dataran banjir atau flood plain.
Dapur umum juga telah didirikan sementara bantuan juga telah berdatangan untuk membantu para korban banjir. MetroTV/Robby Pratama Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News