Pesan tersebut disampaikan dalam diskusi kesehatan Health Corner bertema “Kelola Obesitas Secara Aman, Waspada Produk Obat Abal-abal”, yang membahas pentingnya pola hidup sehat serta kewaspadaan terhadap obat penurun berat badan yang belum jelas keamanannya.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Rumah Sakit Brawijaya, Prinindita Artiara Dewi, mengatakan salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah menjalani diet secara ekstrem, seperti hanya makan sekali sehari atau menghilangkan karbohidrat sepenuhnya.
"Misalnya satu kali makan sehari atau memilih-milih makanannya. Jadi tidak mau makan karbohidrat sama sekali, hanya makan protein saja misalnya contohnya seperti itu," kata Prinindita dalam keterangan dikutip, Kamis, 20 Agustus 2026.
Menurutnya tubuh tetap membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi, protein sebagai zat pembangun, serta lemak, serat, vitamin, dan mineral untuk menjaga fungsi tubuh tetap optimal. Karena itu, pola makan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
"Yang penting itu adalah kita makan cukup sesuai dengan kebutuhan kita. Makanya diperlukan personalize diet untuk setiap masing-masing individu," jelasnya.
Obesitas Tidak Hanya Dipengaruhi Gaya Hidup
Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, Riyanny Meisha Tarliman, menjelaskan obesitas tidak semata-mata disebabkan kurangnya disiplin menjaga pola makan atau berolahraga.Menurutnya, faktor biologis, genetik, hormonal, hingga lingkungan juga dapat berperan sehingga penanganan perlu diawali dengan konsultasi medis.
"Sains menunjukkan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks, termasuk faktor biologis, genetik, lingkungan, dll., dan seringkali membutuhkan konsultasi dengan dokter," jelas Riyanny.
Dia menambahkan terapi obesitas dapat berupa perubahan gaya hidup, penggunaan obat sesuai indikasi medis, hingga operasi bariatrik pada kondisi tertentu. Pemilihan terapi dilakukan berdasarkan kondisi kesehatan dan penyakit penyerta setiap pasien.
“Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai," ungkap Riyanny.
BPOM Ingatkan Cermat Memilih Produk Kesehatan
Sementara Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada promosi produk kesehatan di media sosial, termasuk yang disampaikan oleh influencer.Menurutnya klaim berlebihan atau overclaim tidak seharusnya menjadi dasar seseorang menggunakan obat penurun berat badan.
Taruna juga mengingatkan masyarakat menerapkan prinsip Cek KLIK sebelum membeli obat maupun produk kesehatan, yakni memeriksa Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa.
“Pastikan kata BPOM yang kedua tentu. Apa kata BPOM? Pastikan cek klik, kemasan, label, izin edar, dan kadaluarsa,” Taruna.
Ia juga meminta masyarakat mewaspadai barcode pada kemasan. Apabila hasil pemindaian tidak mengarah ke laman resmi BPOM, produk tersebut patut dicurigai dan dapat dilaporkan.
Perubahan Bertahap Lebih Berkelanjutan
Para narasumber menekankan bahwa pengelolaan obesitas bukan sekadar menurunkan angka di timbangan, tetapi juga menjaga kesehatan jangka panjang. Perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan terapi medis perlu dilakukan secara bertahap agar hasilnya dapat dipertahankan.Prinindita mengingatkan konsistensi menjadi kunci utama dalam menjalani terapi obesitas agar berat badan tetap terjaga dan risiko penyakit penyerta dapat dikurangi.
“Memang diperlukan konsisten yang pertama itu sangat penting sekali, istikomah, dan juga komitmen,” ujar Prinindita. Dok. Ilustrasi Freepik Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News