Jakarta: Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Hannover sukses menyelenggarakan Gaung Garuda 2026, sebuah festival musik, budaya, dan Kuliner Indonesia yang mempertemukan sekitar 1.000 pengunjung dari berbagai wilayah di Jerman serta negara-negara Eropa lainnya, termasuk Belanda, Austria, dan Swiss.
Diselenggarakan di Kulturzentrum Faust, Hannover dan mengusung tema 'A Celestial Night', acara ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi bagi diaspora Indonesia, tetapi juga menarik antusiasme masyarakat lokal Hannover yang turut hadir merayakan keberagaman budaya Indonesia.
Penampilan Tulus menjadi salah satu momen yang paling berkesan sepanjang malam. Dalam suasana konser yang hangat dan intim, para penonton bernyanyi bersama mengikuti lagu-lagu yang dibawakan. Alunan suara sekitar seribu penonton yang berpadu menciptakan atmosfer menyerupai paduan suara besar, menghadirkan pengalaman musikal yang terasa dekat dan personal.
Tidak hanya menghadirkan musisi papan atas, Gaung Garuda 2026 juga memberikan panggung bagi mahasiswa Indonesia di Jerman untuk menampilkan bakat dan kreativitas mereka. Sejumlah grup musik yang beranggotakan pelajar Indonesia turut memeriahkan festival, menjadikan Gaung Garuda sebagai ruang bagi talenta diaspora untuk berkarya, mengembangkan potensi, dan memperkenalkan diri kepada khalayak yang lebih luas.
Sementara itu, area bazar kuliner menghadirkan beragam hidangan khas Nusantara, mulai dari nasi Padang, nasi rames, hidangan ala warteg, hingga aneka jajanan pasar dan kue basah tradisional. Kehadiran kuliner Indonesia melengkapi pengalaman festival sekaligus menjadi sarana pengenalan budaya kepada masyarakat internasional melalui cita rasa Nusantara.
Gaung Garuda 2026 turut dihadiri oleh perwakilan diplomatik Indonesia, termasuk Bapak Fajar Wirawan Harijo, Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Jerman dan Ibu Renata Siagian, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Hamburg. Kehadiran para tamu tersebut mencerminkan dukungan terhadap inisiatif komunitas pelajar dalam memperkuat hubungan sosial dan pertukaran budaya Indonesia-Jerman.
“Gaung Garuda berangkat dari semangat kebersamaan komunitas mahasiswa Indonesia di perantauan. Kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar konser, melainkan ruang untuk membangun koneksi, berbagi pengalaman, dan memberikan kesempatan kepada talenta-talenta muda Indonesia di Jerman untuk tampil dan berkembang. Melihat antusiasme penonton dari berbagai negara menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujar Vicko Jacklaudy, Wakil Ketua Pelaksana Gaung Garuda 2026.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2013 sebagai pentas seni komunitas lokal, Gaung Garuda terus mengalami perkembangan. Memasuki tahun 2022, festival ini mulai menghadirkan musisi ternama Indonesia, di antaranya Nadin Amizah, Isyana Sarasvati, hingga Tulus pada penyelenggaraan tahun 2026. Perjalanan tersebut mencerminkan perkembangan Gaung Garuda dari kegiatan komunitas mahasiswa menjadi festival budaya yang mampu menjangkau masyarakat lintas negara.
Di balik kemeriahan festival, Gaung Garuda juga membawa misi sosial melalui konsep charity event. Pada penyelenggaraan tahun ini, acara berhasil menghasilkan keuntungan sekitar Rp. 40 juta yang direncanakan untuk disalurkan dalam bentuk bantuan buku bagi sekolah-sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia. Penentuan sekolah penerima manfaat serta mekanisme penyaluran bantuan masih dalam tahap persiapan.
“Bagi kami, keberhasilan Gaung Garuda tidak semata-mata diukur dari jumlah penonton atau kemeriahan acara. Kami ingin menunjukkan bahwa pelajar Indonesia di luar negeri mampu menjadi jembatan budaya sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi tanah air. Melalui hasil penyelenggaraan tahun ini, kami berharap dapat mendukung akses pendidikan bagi anak-anak di daerah 3T. Walaupun berada jauh dari Indonesia, kepedulian dan tanggung jawab kami terhadap tanah air tetap menjadi bagian dari identitas kami,” ujar Arya Saman, Ketua PPI Hannover.
Melalui Gaung Garuda 2026, PPI Hannover berharap dapat terus memperkuat hubungan antarkomunitas Indonesia di Eropa, membuka ruang kolaborasi dengan masyarakat internasional, serta menjadikan seni dan budaya sebagai sarana untuk membangun kedekatan lintas bangsa. Keberhasilan penyelenggaraan tahun ini menjadi bukti bahwa inisiatif mahasiswa Indonesia di luar negeri mampu tumbuh menjadi kegiatan yang menghadirkan dampak budaya, sosial, dan kemanusiaan. Dok.Istimewa