Anies menilai Rhoma sebagai musisi yang kerap membawa pesan perjuangan, sosial, dan kemanusian, sehingga setiap musik dangdut yang dibawakannya memiliki pesan tersendiri.
"Perhatikan, semua syair-syair itu penuh makna, penuh pesan. bukan hanya sekadar syair yang indah, tapi syair yang bermakna," ujar Anies.
Anies menyebut ada beberapa syair yang menggambarkan kondisi ketidakadilan masyarakat. Sehingga inilah yang menurut Anies perlu untuk dilakukan perubahan.
"Saya kalau lagi ke kampung-kampung sering tanya 'yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin', itu mereka hapal semua. Kita ingin prinsip kami membesarkan yang kecil, tanpa mengecilkan yang besar," terangnya.
Anies juga mengaku meminta doa restu kepada Rhoma agar diberikan kelancaran menjalankan amanat sebagai pemimpin ke depan. Rhoma, kata Anies, sempat memberikan nasihat kepada dirinya.
"Jadi kami hadir ke sini untuk mendapatkan nasihat, pesan, sekaligus memohon doa restu supaya bisa menjalankan amanat ini, yang insyaAllah ingin menyuarakan apa yang beliau selama ini juga ungkapkan lewat syairnya," pungkasnya.
Pesan Rhoma untuk Anies
Sementara itu Rhoma berpesan kepada Anies untuk merubah sudut pandang masyarakat dalam melihat pemilu. Pesta demokrasi ini tidak dimaknai sebagai sebuah pertarungan hingga persaingan.
"Kita ubah menjadi perlombaan. Kontestasi ini kita gunakan untuk berlomba untuk memperbaiki bangsa," ujar Rhoma.
Rhoma juga meminta Anies dapat menyebarkan pesan-pesan tentang kebenaran dan kesabaran. Ia juga berharap agar pemilu yang berjalan damai dan aman tidak menjadi slogan semata.
"Ini bukan hanya slogan, pemilu ini adalah momentum untuk seluruh anak bangsa untuk berkontemplasi, apakah selama ini Pancasila ini slogan saja, belum terimplementasi," jelasnya.
Rhoma menyebut terdapat empat persyaratan agar pemilu terselenggara dengan damai. Pertama, konsisten mengamalkan Pancasila, kedua, konsisten melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945, ketiga, konsisten mewujudkan Bhineka Tunggal Ika, dan keempat, mempertahankan NKRI harga mati.
"Jangan ada lagi pemilu seperti yang kemarin, bangsa kita terbelah, umat terpecah, jangan sampai terjadi lagi. Kalau pemilu hanya untuk memecah bangsa, nggak usah ada pemilu," terangnya. Medcom/Kautsar Widya Prabowo
Foto: MI/Adam Dwi Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News