KLHK memberikan solusi penanganan sampah melalui daur ulang dan pemanfaatan kembali dengan prinsip sirkulasi ekonomi (Foto:Freepik)
KLHK memberikan solusi penanganan sampah melalui daur ulang dan pemanfaatan kembali dengan prinsip sirkulasi ekonomi (Foto:Freepik)

KLHK Atasi Persoalan Sampah melalui 3 Pendekatan

Rosa Anggreati • 23 Desember 2021 14:16
Jakarta: Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang sampah terbesar di dunia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan lebih dari 60 juta ton sampah dihasilkan per tahun.
 
Dari 60 juta ton sampah tersebut, sekitar 50 persen merupakan sampah organik dan 20 persen berupa sampah plastik.
 
Pemerintah, dalam hal ini KLHK, berusaha memberikan solusi penanganan sampah melalui daur ulang dan pemanfaatan kembali dengan prinsip sirkulasi ekonomi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rosa Vivien Ratnawati menyebutkan pemerintah menerapkan tiga pendekatan dalam mengatasi sampah di Indonesia.
 
"Dalam mengatasi persoalan sampah di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan satu metode. Perlu pendekatan yang berbeda-beda, tapi dilaksanakan secara bersama dan masif," ucap Vivien. 
 
Tiga pendekatan dalam penanganan sampah tersebut, sebagai berikut. 


1. Mengurangi penciptaan sampah


Masyarakat didorong untuk menggalakkan gerakan mengurangi sampah. Misalnya, dengan membawa kantong belanja sendiri saat berbelanja, tidak menggunakan sedotan, dan membawa peralatan makan.
 

2. Perputaran ekonomi dengan daur ulang sampah

 
Perputaran ekonomi ini dikenal dengan nama ekonomi sirkular. Cara yang dilakukan, yakni membantu perusahaan daur ulang dengan memilah sampah dan menggunakan bank sampah sehingga mendorong suplai bahan baku. 
 
Pemerintah mendorong masyarakat memulai kebiasaan memilah antara sampah organik dan non organik sebelum dibuang atau disetorkan ke bank sampah. Saat ini terdapat tak kurang dari 8 ribu bank sampah di seluruh Indonesia. 
 

3. Menggunakan teknologi 


Pemerintah mengadopsi teknologi waste to energy atau mengonversi sampah menjadi listrik. Presiden menunjuk 12 kota untuk membangun alat pengolah sampah menjadi listrik. 
 
"Penggunaan teknologi tinggi ini berbiaya mahal. Solusinya, kami hanya menggunakan teknologi ini di sejumlah daerah saja," kata Vivian.
 
Upaya yang dilakukan KLHK tersebut mendapat dukungan penuh dari produsen air minum dalam kemasan (AMDK) Le Minerale.
 
Le Minerale selalu mendukung pemerintah dalam pengelolaan sampah nasional dan turut mengajak para pemangku kepentingan untuk bersama-sama mengelola sampah.
 
"Kami akan terus mengedukasi konsumen untuk dapat memilah sampah, mengenalkan konsep ekonomi sirkular, dan bermitra dengan siapapun yang mau bersama-sama mengelola sampah," kata Sustainability Director PT Tirta Fresindo Jaya Ronald Atmadja.
 
(ROS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif