| Baca juga: Pemerintah Minta Dunia Usaha Ubah Paradigma, Fokus Aspek Keberlanjutan! |
Melalui skema Sustainability and Transition Credit Facility, HSBC menyediakan akses pendanaan bagi perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan, kendaraan listrik, pusat data, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI). Langkah ini sekaligus mempertegas strategi HSBC dalam mempercepat pembiayaan transisi energi dan ekonomi hijau di berbagai negara berkembang.
Saat ini, Tiongkok memegang posisi dominan dalam rantai pasok teknologi bersih global. Negara tersebut menyumbang hampir separuh ekspor teknologi ramah lingkungan dunia, termasuk mayoritas ekspor panel surya dan baterai kendaraan listrik.
Permintaan global terhadap teknologi rendah karbon juga diperkirakan terus meningkat. Penjualan kendaraan listrik dunia diproyeksikan mencapai 26 juta unit pada 2026, sementara konsumsi listrik pusat data global diprediksi melonjak hampir dua kali lipat pada 2030 seiring pertumbuhan industri AI dan digitalisasi.
Ekspansi perusahaan Tiongkok ke pasar ASEAN turut didorong penguatan kerja sama perdagangan melalui ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 Upgrade Protocol yang diteken pada 2025. Perjanjian tersebut memperluas fokus kerja sama ke sektor ekonomi hijau, ekonomi digital, dan penguatan rantai pasok regional.
Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam arus investasi energi bersih di Asia Tenggara. Selain memiliki kebutuhan pendanaan transisi energi yang besar, pemerintah juga terus memperluas target pengembangan energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025.
Dalam dokumen terbaru itu, Indonesia menargetkan tambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 42.569 megawatt hingga 2034. Untuk pertama kalinya, pemerintah juga memasukkan pengembangan sistem penyimpanan energi sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Kebutuhan pendanaan untuk mencapai target iklim Indonesia pada 2030 diperkirakan mencapai USD 97 miliar, sebagaimana tercantum dalam skema Just Energy Transition Partnership (JETP).
Di sisi lain, kerja sama energi antara Indonesia dan Tiongkok juga terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Kolaborasi kedua negara kini tidak hanya mencakup pembangunan infrastruktur, tetapi juga pengembangan rantai pasok baterai, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga digitalisasi sistem energi.
Presiden Direktur HSBC Indonesia, Stuart Rogers, mengatakan Indonesia merupakan salah satu pasar dengan peluang investasi energi bersih terbesar di kawasan.
“Transisi energi di Indonesia menghadirkan kebutuhan pembiayaan yang sangat besar. HSBC berada pada posisi yang kuat untuk menghubungkan kebutuhan tersebut dengan perusahaan energi bersih global, termasuk dari Tiongkok, yang memiliki teknologi dan kapasitas untuk mendukung transformasi tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Global Head of Sustainable Finance and Transition HSBC, Natalie Blyth, menilai perusahaan rendah karbon asal Tiongkok kini memainkan peran penting dalam perubahan ekosistem energi global. Menurut dia, ekspansi internasional perusahaan-perusahaan tersebut membutuhkan dukungan lembaga keuangan yang memiliki jaringan global dan pemahaman mendalam mengenai pembiayaan transisi energi.
“Fasilitas kredit ini dirancang untuk membantu perusahaan mengakses peluang pertumbuhan baru sekaligus mempercepat distribusi teknologi dan solusi rendah karbon ke berbagai pasar dunia,” kata Natalie.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News