Ilustrasi minyak jelantah - - Foto: dok MI
Ilustrasi minyak jelantah - - Foto: dok MI

Minyak Jelantah Bisa Jadi Pengganti Bensin

Ekonomi Kementerian ESDM minyak jelantah biofuel
Suci Sedya Utami • 07 Januari 2021 15:34
Jakarta: Pemerintah menilai used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah dimungkinkan sebagai campuran biodiesel. Selama ini pemerintah menggunakan campuran minyak kelapa sawit (CPO).

Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna mengatakan penggunaan minyak goreng di Indonesia cukup tinggi.
 
Data 2019 menyebutkan penggunaan minyak goreng pada rumah tangga mencapai 13 juta ton per tahun atau setara 16,2 juta kiloliter (KL) per tahun. Bahkan potensi minyak jelantah dari penggunaan tersebut sebesar tiga juta KL per tahun.
 
"Peluangnya cukup besar karena kita termasuk negara pengguna minyak sawit cukup banyak. Kalau kita bisa kelola dengan baik (jelantah) mungkin bisa memenuhi 32 persen kebutuhan biodiesel," kata Feby dalam webinar Peluang Minyak Jelantah sebagai Alternatif Bahan Baku Biodiesel, Kamis, 7 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Feby mengungkapkan mandatory biodiesel dari minyak jelantah sudah diproduksi dengan volume 2.765 KL pada 2014-2018. Namun kemudian berhenti karena keterbatasan bahan baku dan biaya produksi.
 
Di sisi lain, penggunaan minyak jelantah juga berpeluang bisa dipasarkan bukan hanya di dalam negeri namun di luar negeri. Kemudian beberapa negara di dunia juga telah menggunakan minyak jelantah sebagai biodiesel antara lain Finlandia, Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Tiongkok, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, serta Singapura.
 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik(BPS), ekspor minyak jelantah di 2019 mencapai 148,38 ribu ton atau 184,09 KL. Angka tersebut meningkat dari 2014 yang sebesar 55.587 ton.
 
Selain itu, pemanfaatan minyak jelantah juga akan menciptakan penghematan. Seperti diketahui Indonesia masih mengimpor BBM terutama untuk produk gasoline.
 
Kemudian bisa menjadi sumber energi terbarukan yang digunakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Ia bilang penggunaan minyak jelantah bisa mengurangi emisi 91,7 persen dibandingkan bila menggunakan solar atau energi fosil.
 
"Prinsipnya kami dukung minyak jelantah jadi bahan bakar bahan baku biodiesel," jelas Feby.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif