Dilansir dari laman BBC pada Sabtu, 10 Oktober 2026, proyek tersebut bernama Restitch the Future, yang mendapat pendanaan hampir 850.000 Euro dari National Lottery’s Community Action Fund yang ditujukan supaya masyarakat bisa mengurangi konsumsi fast fashion sekaligus berkontribusi terhadap aksi iklim.
Inisiatif ini diluncurkan oleh Bath Spa University bersama A Single Thread, perusahaan berbasis komunitas yang berkedudukan di Bristol.
Restitch the Future akan mengembangkan pusat kegiatan di kawasan jalan utama dan komunitas. Masyarakat dapat mengikuti lokakarya memperbaiki pakaian, bertukar baju, serta berbagi keterampilan untuk memperpanjang usia pakai pakaian. Untuk pusat sementara telah dibuka di sejumlah wilayah, termasuk Bristol, Bath, Wellington, Stroud, dan Cheltenham.
Pendiri A Single Thread CIC, Amelia Twine, berharap proyek tersebut dapat menghadirkan lebih banyak pusat permanen selama empat tahun mendatang.
“Dengan menciptakan peluang praktis bagi orang-orang untuk memperbaiki, menggunakan kembali, dan memikirkan ulang pakaian, kami membuat fashion berkelanjutan lebih mudah diakses,” kata Twine.
Dorong Perubahan Kebiasaan Konsumen
Proyek ini berupaya mendorong masyarakat mengubah kebiasaan berbelanja dan mengurangi pembelian pakaian fast fashion. Menurut Twine, perubahan perilaku konsumen merupakan salah satu cara untuk mendorong perubahan sistem industri fashion, yang juga membutuhkan dukungan regulasi terhadap merek dan praktik bisnisnya.
Bath Spa University akan memimpin penelitian untuk memahami hambatan masyarakat dalam menerapkan fashion berkelanjutan, termasuk keterjangkauan dan keterwakilan. Penelitian tersebut diharapkan membantu mengidentifikasi cara agar pilihan fashion yang lebih berkelanjutan dapat diakses lebih luas.
Kepala Future Fashion Works di Bath Spa University, Tamara Parsons-Baker, mengatakan proyek tersebut bertujuan memahami faktor yang memungkinkan perubahan perilaku konsumsi fashion secara berkelanjutan.
"Lebih memahami apa yang memungkinkan perubahan perilaku yang berkelanjutan seputar konsumsi fashion,"
Inisiatif ini dilatarbelakangi dampak lingkungan industri fashion. Bath Spa University menyebut industri tersebut bertanggung jawab atas hingga 10 persen emisi karbon global, sehingga perubahan cara memproduksi, membeli, dan menggunakan pakaian menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak iklim. (Wisa Irena Br Sitepu)