Meski demikian, implementasi program ini perlu dijalankan dengan mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan serta manfaat nyata bagi masyarakat.
| Baca juga: Solusi Krisis Sampah dengan Waste to Energy sebagai Kebijakan Lintas Sektor |
"Masalah sampah yang sudah lama dan terus meningkat ini memang harus dicarikan jalan keluar. Kami melihat program Waste-to-Energy bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi masalah sampah," kata Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah dikutip dari keteranganya.
Merujuk data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), timbulan sampah nasional pada 2025 mencapai 56,6 juta ton. Komposisi terbesar berasal dari limbah rumah tangga, terutama sisa makanan sebesar 40,79 persen dan plastik sebesar 19,95 persen.
Sementara itu, kajian food loss and waste (FLW) di Indonesia periode 2000–2019 mencatat timbulan sampah sebesar 115–184 kilogram per kapita per tahun. Dari sisi rantai pasok, timbulan terbesar terjadi di tahap konsumsi. Jika diakumulasi, total FLW pada periode tersebut mencapai 23-48 juta ton per tahun.
Kajian yang sama juga menunjukkan bahwa total emisi dari timbulan FLW pada 2000–2019 diperkirakan mencapai 1.702,9 Mt COâ‚‚ atau setara dengan 23 persen dari total emisi nasional. Rata-rata kontribusi per tahunnya setara dengan 7,29 persen emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia. Sebanyak 77 persen dari total emisi FLW tersebut berasal dari limbah pangan. Hal tersebut turut menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp213–551 triliun per tahun atau setara dengan 4–5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Berdasarkan fakta yang ada, Said menilai perlu adanya edukasi yang harus dilakukan secara partisipatif kepada seluruh warga dan keluarga. "Pendekatannya tidak hanya sekadar kampanye memilah sampah tapi mulai memberikan kesadaran bagaimana sampah itu menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan lingkungan," ujar pengisi acara gelar wicara Sapa Bumi RRI Pro 2 FM Bogor ini.
Libatkan partisipasi masyarakat
Said mengatakan program WtE yang diinisiasi Danantara Indonesia perlu memikirkan bagaimana melibatkan partisipasi masyarakat. Pendekatan yang partisipatif menjadi kunci sukses program WtE dalam memberikan solusi permasalahan sampah. Dengan demikian kemanfaatan yang dihasilkan juga bisa dirasakan oleh masyarakat."Secara ideal, sebuah program itu harus bisa melibatkan banyak pihak. Paling tidak dalam proses awal, Danantara bisa memastikan adanya partisipasi publik secara terbuka bagi program Waste-to-Energy ini," kata lulusan Program Studi Komunikasi dan Pembangunan Pedesaan IPB ini.
Terjadinya pro dan kontra terhadap sebuah gagasan program, menurut Said, adalah dinamika sosial yang lazim terjadi. Untuk itu, Said menyarankan Danantara Indonesia agar membuka ruang dialog warga secara terbuka dengan menjelaskan segala macam potensi yang muncul dari adanya pengelolaan sampah melalui program WtE. Selain itu, Ia juga menekankan perlunya menyebarluaskan informasi terkait program ini secara kuat ke publik.
Said juga menitikberatkan penggunaan teknologi yang sedapat mungkin memberikan keamanan dan menjaga kelestarian lingkungan. Adopsi keberhasilan sejumlah negara seperti Jepang, Singapura, Denmark, maupun Jerman menjadi salah satu cara efektif agar memastikan program WtE bisa menjadi solusi terhadap permasalahan sampah di Indonesia.
"Harus ada benchmark yang jelas. Lalu, pastikan bahwa kehadiran program ini bisa memberikan nilai manfaat dan ruang partisipasi secara terbuka kepada masyarakat. Perhatikan juga aspek keamanan lingkungannya. Ketika semua itu bisa dijalankan, rasanya tak perlu ada yang menyangsikannya," ujar Said.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News