Pelaku UMKM. Foto: MI.
Pelaku UMKM. Foto: MI.

Pelaku UMKM Perlu Bekali Pengetahuan ESG dan Manajemen Keuangan untuk Perkuat Bisnis

Arif Wicaksono • 16 Oktober 2026 17:42
Ringkasnya gini..
  • Penerapan prinsip keberlanjutan dan pengelolaan keuangan yang sehat mulai menjadi kebutuhan penting bagi industri kecil dan menengah (IKM)
  • Mengusung tema Growing Sustainably Together: Future Proofing ESG-Driven Supply Chain, pelatihan tersebut membahas penerapan ESG, pengelolaan keuangan, serta strategi meningkatkan efisiensi bisnis.
Jakarta: Penerapan prinsip keberlanjutan dan pengelolaan keuangan yang sehat mulai menjadi kebutuhan penting bagi industri kecil dan menengah (IKM). Selain membantu meningkatkan efisiensi usaha, penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG) dinilai dapat memperkuat daya saing pelaku usaha dalam menghadapi tuntutan pasar yang terus berkembang.

Indonesia memiliki sekitar 4,52 juta unit IKM atau setara 99,7% dari total industri nasional. Besarnya jumlah tersebut membuat peningkatan kapasitas IKM menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong transformasi industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.
 
Untuk mendukung upaya tersebut, PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) bersama PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) dan Kementerian Perindustrian mengadakan Pelatihan Manajemen Keuangan dan Bisnis Berkelanjutan bagi IKM. Kegiatan yang berlangsung dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan 2026 ini diikuti 100 pelaku usaha, termasuk IKM binaan Kementerian Perindustrian dan pemasok lokal MR.D.I.Y. Indonesia.
 
IMG-20261016-WA0105


Mengusung tema Growing Sustainably Together: Future Proofing ESG-Driven Supply Chain, pelatihan tersebut membahas penerapan ESG, pengelolaan keuangan, serta strategi meningkatkan efisiensi bisnis. Peserta juga memperoleh wawasan langsung dari praktisi industri mengenai langkah yang dapat diterapkan untuk memperkuat operasional dan mengembangkan usaha.

Chief Financial Officer (CFO) MR.D.I.Y. Indonesia Rika Juniaty Tanzil mengatakan, peningkatan kemampuan pengelolaan keuangan dan manajemen bisnis dapat membantu pemasok lokal meningkatkan kualitas produk sekaligus memperluas peluang pertumbuhan.

Menurut dia, keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan operasional perusahaan, tetapi juga mencakup penguatan ekosistem bisnis, termasuk mitra pemasok lokal.

Rika menambahkan, MR.D.I.Y. Indonesia berupaya membuka peluang bagi produk buatan dalam negeri agar dapat bersaing dan dipasarkan melalui jaringan ritel modern berskala nasional. Langkah ini sejalan dengan upaya membangun rantai pasok yang bertanggung jawab dan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.

Dari sisi keuangan, CIMB Niaga memberikan pembekalan mengenai pengelolaan arus kas dan pemanfaatan layanan keuangan formal untuk mendukung kelangsungan usaha. Bank tersebut juga memperkenalkan solusi layanan keuangan terintegrasi, termasuk supplier financing, yang dapat membantu pelaku usaha mengelola transaksi dan memenuhi kebutuhan pembiayaan.

Head of Corporate Banking, Investment Banking Coverage, & Loan Syndication CIMB Niaga Miranty Supardi mengatakan, pelaku IKM membutuhkan dukungan pembiayaan sekaligus pendampingan agar dapat meningkatkan kapasitas bisnis dan beradaptasi dengan tuntutan keberlanjutan.

Melalui solusi pembiayaan berkelanjutan, CIMB Niaga berupaya mendukung pelaku usaha dalam menjalankan transisi menuju praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan serta memiliki daya saing yang lebih kuat.

Dorong Transformasi IKM Hijau

Pelatihan tersebut juga mendukung Program Pemberdayaan IKM Hijau yang diluncurkan Kementerian Perindustrian pada Juli 2026 melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA).

Program IKM Hijau diarahkan untuk membantu pelaku usaha menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar global melalui penerapan praktik industri yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Penguatan kapasitas menjadi salah satu fokus agar pelaku IKM tidak hanya memahami konsep ekonomi hijau, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan bisnis sehari-hari.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan, transformasi industri hijau perlu melibatkan pelaku usaha dari berbagai skala, termasuk IKM.

Dia menilai, kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan sektor swasta diperlukan untuk memperluas akses pengetahuan serta memberikan contoh penerapan keberlanjutan yang dapat diikuti oleh pelaku usaha lainnya.

Dalam pelatihan tersebut, Tri Hita Consulting menyampaikan materi mengenai penerapan prinsip ESG bagi IKM. Sementara itu, Jejakin memberikan pemahaman mengenai penghitungan emisi karbon dan pengukuran jejak karbon sebagai bagian dari upaya membangun bisnis yang lebih berkelanjutan.

Peserta juga memperoleh gambaran penerapan prinsip keberlanjutan melalui pengalaman CV Karya Wahana Sentosa (KWaS Wooden Kitchenware), salah satu pemasok lokal MR.D.I.Y. Indonesia sejak 2023.

Perusahaan tersebut membagikan pengalamannya dalam mengembangkan produk peralatan dapur berbahan kayu dengan memperhatikan aspek keberlanjutan. Salah satu upayanya adalah menggunakan bahan baku kayu yang bersumber secara bertanggung jawab dan memiliki sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC).

Direktur Utama CV Karya Wahana Sentosa Robertus Agung mengatakan, kemitraan dengan MR.D.I.Y. Indonesia turut mendukung perluasan akses pasar dan mendorong perusahaan meningkatkan kapasitas usaha.

Dia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi referensi bagi IKM lain untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam pengembangan produk dan strategi bisnis.

Dari sisi penjualan, performa KWaS di MR.D.I.Y. Indonesia hingga Oktober 2026 tercatat mencapai 85% dari total penjualan sepanjang 2025. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan bisnis perusahaan melalui kemitraan dengan jaringan ritel tersebut.

Pembelian dari Pemasok Lokal Capai Rp949 Miliar

Penguatan kapasitas IKM juga menjadi bagian dari program pemberdayaan UMKM MR.D.I.Y. Indonesia bertajuk “MR.D.I.Y. Untuk Indonesia”. Pada 2025, lebih dari 300 UMKM di tiga provinsi mengikuti program pelatihan selama tiga bulan yang berfokus pada digitalisasi dan penerapan prinsip keberlanjutan.

Program tersebut turut membantu peserta menyusun laporan keberlanjutan dengan mengacu pada standar Global Reporting Initiative (GRI).

Selain melalui pelatihan, dukungan terhadap pelaku usaha lokal dilakukan dengan melibatkan pemasok dalam rantai pasok perusahaan. Sepanjang 2025, nilai transaksi pembelian MR.D.I.Y. Indonesia dari mitra pemasok lokal mencapai Rp949 miliar.

Dengan jaringan lebih dari 1.400 toko di Indonesia, perusahaan tersebut menjadi salah satu saluran distribusi bagi pemasok lokal untuk menjangkau konsumen di berbagai wilayah. Melalui skema ini, pelaku usaha berpeluang memperluas pasar tanpa harus membangun jaringan distribusi sendiri.

Rika mengatakan, pengembangan usaha lokal perlu didukung dari berbagai sisi, mulai dari kemampuan mengelola keuangan hingga peningkatan kualitas produk dan penerapan praktik bisnis berkelanjutan.

Menurut dia, penguatan kapasitas pemasok lokal diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pelaku usaha, memperkuat industri nasional, serta memperluas pilihan produk berkualitas bagi konsumen.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan